TEORI KEPEMIMPINAN
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
PSIKOLOGI
MANAJEMEN
Dosen
Pengampu:
Aris Imawan, M.Pd.I
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sejarah
merupakan suatu rujukan yang sangat penting saat kita akan membangun masa
depan. Sekaitan dengan itu kita bisa tahu apa dan bagaimana perkembangan islam
pada masa lampau. Namun, kadang kita sebagai umat islam malas untuk melihat
sejarah. Sehingga kita cenderung berjalan tanpa tujuan dan mungkin mengulangi
kesalahan yang pernah ada dimasa lalu. Disnilah sejarah berfungsi sebagai
cerminan bahwa dimasa silam telah terjadi sebuah kisah yang patut kita pelajari
untuk merancang serta merencanakan matang-matang untuk masa depan yang lebih
cemerlang tanpa tergoyahkan dengan kekuatan apa pun. Perkembangan Islam pada
zaman Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat adalah merupakan Agama Islam pada zaman
keemasan, hal itu bisa terlihat bagaimana kemurnian Islam itu sendiri dengan
adanya pelaku dan faktor utamanya yaitu Rasulullah SAW.
Kemudian
pada zaman selanjutnya yaitu zaman para sahabat, terkhusus pada zaman Khalifah
empat atau yang lebih terkenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin, Islam
berkembang dengan pesat dimana hampir 2/3 bumi yang kita huni ini hampir
dipegang dan dikendalikan oleh Islam. Hal itu tentunya tidak terlepas dari para
pejuang yang sangat gigih dalam mempertahankan dan juga dalam menyebarkan islam
sebagai agama Tauhid yang diridhoi.
Perkembangan
islam pada zaman inilah merupakan titik tolak perubahan peradaban kearah yang
lebih maju. Maka tidak heran para sejarawan mencatat bahwa islam pada zaman
Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin merupakan islam yang luar biasa
pengaruhnya. Namun yang terkadang menjadi pertanyaan adalah kenapa pada zaman
sekarang ini seolah kita melupakannya. Sekaitan dengan itu perlu kiranya kita
melihat kembali dan mengkaji kembali bagaimana sejarah islam yang sebenarnya.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana penelitian tentang kepemimpinan ?
2. Apa saja kriteria pemimpin atau manajer yang baik ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Islam pada masa Rasulullah SAW
Nabi Muhammad
adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku
Quraisy. Nabi Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relatif miskin. Nabi
Muhammad lahir pada pagi hari senin 12 hari bulan Rabi'ul Awwal tahun pertama
dari tahun gajah yang masyhur yaitu 40 tahun setelah Kisca Anu Syirwan duduk di
ats singgahsana kerjaan Parsi, bertepatan dengan bulan April 571 Milady menurut
perhutungan Mahmud Pasja ahli falas Mesir yang terkenal ketika itu Ayahnya
bernama Abdullah anak dari Abdul Muthalib, seorang kepala suku Quraisy yang
besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah Binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun
kelahiran nabi dikenal dengan tahun gajah.[1]
Nabi Muhammad
lahir dalam keadaan yatim, yang kemudia diasuh oleh Halimah Sa'diyah. Dalam
asuhanyalah Muhammad dibesarkan sampai usia empat tahun. Setelah itu kurang
lebih dua tahun dia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika berusia enam
tahun dia menjadi yatim piatu. Seakan-akan Allah ingin melaksanakan sendiri
pendidikan Muhammad, orang yang dipersiapkan untuk membawa risalahNya terakhir.
Setelah Aminah
meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad Namun
dua tahun kemudian Abdul Muthaiibpna meninggal. Selanjutnya Nabi Muhammad
dirawat oleh pamannya Abu Thalib, seperti Abdul Muthalib. dia sangat disegani
dan dihomati oleh orang Quraisy dan penduduk Mekah secara keseluruhan, tetapi
Abu Thalib ini miskin.
Dalam usia muda
Muhammad hidup sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk
Mekah Melalui kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat untuk berfikir dan
merenung. Pemikiran dan perenungan ini membuat dia jauh dari pemikiran nafsu
duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai noda yang merusak namanya, karena
itulah Nabi Muhaminad diberi gelar al-amin, orang yang terpercaya,
Nabi Muhammad ikut
untuk pertama kalinya berdagang ke Syria (Syam) dalam usia 12 tahun yang
dipimpin oleh Abu Thalib. Dalam perjalanan ini, di Bushra, sebelah selatan
Syria, ia bertemu dengan pendeta Kristen bernama Buhairah Pendeta ini melihat
tanda-tanda kenabian pada Muhammad sesuai petunjuk-petunjuk cerita Kristen
Sebagian sumber mengatakan bahwa pendeta itu menasihati Abu Thalib agar jangan
terlalu jauh memasuki daerah Syria, sebab dikuatirkan orangorang Yaiudi melihat
tanda-tanda itu dan berbuat jahat kepada Nabi Muhammad. Pada usia yang kedua
puluh lima, Muhammad berangkat ke Syria membawa barang dagangan saudagar wanita
kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Khadijah adalah janda Mekah yang
berkedudukan tinggi.
Pada masa sebelum
Islam dia telah memperoleh gelar Tahra artinya yang berbudi tinggi, karena
kebajikan dan keadilanya. Dalam pandangan ini Muhammad memperoleh laba yang besar
Khadijah kemudian melamar Muhammad. Lamaran itu diterima dan menikahlah mereka, dikarunia enam orang anak
dua putra dan empat putri:Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayah. Ummu Kalsum, dan
Fatimah. Kedua putra Nabi meninggal pada waktu kecil. Nabi muhamnad tidak
pernah menikah lagi sampai Khadijah
Meninggal dunia ketika Muhammad berusia 50 tahun.
Agama Islam,
adalah agama yang suci, yang bersumber langsung dari sang pencipta Allah SWT.
Agama Islam diturunkan secara langsung dan diwahyukan kepada nabi besar Muhammad
SAW melalui perantara malaikat Jibril. Perkembangan Agama Islam pada masa Nabi
Muhammad SAW dijalankan dengan bentuk pemerintahan yang berpedoman pada prinsip
dan norma-norma ajaran Agama. Sebelum Agama Islam datang wilayah semenanjung
Makkah dan Madinah, situasi dan kondisi sepanjang wilayah itu sangat tidak
mencermin kan kehidupan umat manusia yang terpuji. Situasi dan kondisi
masyarakat diwilayah jazirah Arab ini diwarnai dengan penyembahan berhala
sebagai Tuhan, istilah ini disebut dengan Paganisme.
Agama Islam mulai
berkembang pesat diwilayah Mekkah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam
melalui penyebarannya, Agama Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad tidaklah
mudah dalam menghadapi rintangan dan tantangan dari kaum jahiliyah. Sehingga
Nabi Muhammad mendapat perlawan yang amat keji dari masyarakat Mekkah. Sebagai Rasul penutup
Muhammad SAW, diberikan oleh Allah mujizat AlQur’an sebagai petunjuk yang
paling sempurna. Sehingga Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sebagai
ajaranya yang paling sempurna, sebagai nikmat Allah yang cukup dan sebagai
agama yang diridlai Allah.
Nabi Muhamad SAW,
mulai melakukan pengasingan diri digua Hiro untuk mendapatkan sebuah petunjuk
yang digunakan untuk menyadarkan masyarakat Mekkah untuk menghindari
penyembahan berhala. Pada saat mengasingkan diri digua Hiro atau Jabal Nur,
Nabi Muhammad SAW telah mendapatkan wahyu pertama yaitu berupa surah Al-Alaq
ayat 1-5 yang bersumber dari Allah dan melalui perantara malaikat Jibril.
Dengan wahyu pertama ini, beliau telah diangkat menjadi Nabi, utusan Allah. Pada saat itu, Nabi
Muhammad SAW belum diperintahkan untuk menyeru kepada umatnya, namun setelah
turun wahyu kedua, yaitu Surah Al-Muddatsir ayat 1-7 Nabi Muhammad SAW
diangakat menjadi Rasul yang harus berdakwah. Kemudian setelah turun ayat ke 84
Surah Al-Hijir, Nabi Muhammad Saw mulai berdakawah secara terang-terangan.
Hingga pada
akhirnya, Agama Islam mulai berkembang pesat ditengah majunya peradaban Islam.
Seiring dalam majunya era peradaban Islam, dimasa inilah dimana, masa terakhir
Nabi Muhammad telah menyapaikan dakwahnya yang terakhir. Pada tahun 10 H (631
M) Nabi Muhammad SAW beserta rombongan besar melaksanakan haji yang terakhir
kalinya. Dalam kesempatan itu turunlah ayat Al-Qur’an yang terakhir yaitu surah
Al-Maidah (5): 3), yakni sebagai berikut. Pada hari ini Aku sempurnakan
agamamu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan Aku relakan Islam sebagai
agamamu. Nabi
Muhamamd SAW telah menyapaikan khutbahnya yang sangat bersejarah, yang isinya
merupakan prinsip-prinsip yang mendasari gerakan Islam. Prinsip-prinsip itu
merupakan prinsip yang paling penting dalam kehidupan umat Islam kedepanya.
Bahwa, umat Islam harus selalu berpegang teguh pada pada dua sumber perkara,
yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Pada
hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H (8 Juni 632 M) masyarakat Mekkah
dikejutkan dengan kabar duka yang mendalam, bahwasanya Nabi Muhammad telah
wafat dalam usia 63 tahun. Amin (2013c:85.) Isak tangis yang begitu mendalam,
seakkan sepeninggal Nabi Muhhamad masih belum diterima disemua kalangan
masyarakat Mekkah.
Pada dasarnya,
masayarakat Mekkah telah menganggap Nabi Muhammad SAW bukan cuma sebagai
Nabiyullah, tetapi juga sebagai tempat untuk mengadu jika dalam masyarakat
terdapat permasalahn yang belum bisa terpecahkan. Nabi Muhammad telah mampu
menjalanan peranannya sebagai pemimpin agama, seorang negarawan, dan sekaligus
pemimpin politik dan administrasi yang cakap. Sehingga dalam waktu 11 tahun
nabi Muhammad SAW dapat menundukan seluruh jazirah Arab.
Nabi Muhammad
wafat tanpa meninggalkan wasiat kepada seseorang untuk meneruskan
kepemimpinannya (kekhalifahan). Setelah wafat, fungsi sebagai Rasulullah,
pengemban risalah kenabian tidak dapat disandangkan kepada manusia manapun didunia
ini, karena fungsi tersebut adalah hal yang mutlak dari Allah Swt, sehingga
terdapat suatu perselisihan, bahwasanya ada sekelompok orang yang ingin
mangajukan Abu Bakar sebagai kekhalifahan. Dari kelompk lain juga mengajukan
calon yang akan meneruskan kepemimpinan Rasulullah, yaitu dari Ahlul bait
Rasullullah, yaitu Abdullah bin Abbas atau nama lainya Ali bin abi Thlib.
Kelompok lain juga berpendapat bahwa yang berhak juga untuk meneruskan dakwah
Rasulullah ialah kaum Quraisy, dan juga dalam golongan lain juga mengajukan
yang berhak meneruskan dakwah Rasulullah ialah kaum Anshar.
B. Islam pada
masa Khulafa’ al Rasyidin
Kata khulafaur
rasyidin terdiri dari dua kata, yaitu khulafa’kata khulafa’ dan arrasyidin.
Kata khulafa’ adalah jama’ dari kata kholifah, yang artinya pengganti atau
orang yang ditunjuk sebagai pengganti, pemimpin atau penguasa. Kata arrasyidin
adalah bentuk jama’ dari kata arrasyid, artinya orang yang mendapat petunjuk.
Jadi, menurut
istilah khulafaur rasyidin adalah orang-orang yang ditunjuk sebagai pengganti,
pemimpin atau penguasa, yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT.
Menurut istilah, khulafaurrasyidin adalah orang-orang yang ditunjuk
menggantikan kedududkan rasulullah sebagai pemimpin umat dan kepala negara,
setelah Rasulullah wafat.
Nabi Muhammad
wafat tanpa meninggalkan wasiat kepada seseorang untuk meneruskan
kepemimpinannya (kekhalifahan). Setelah wafat, fungsi sebagai Rasulullah,
pengemban risalah kenabian tidak dapat disandangkan kepada manusia manapun
didunia ini, karena fungsi tersebut adalah hal yang mutlak dari Allah Swt,
sehingga terdapat suatu perselisihan, bahwasanya ada sekelompok orang yang
ingin mangajukan Abu Bakar sebagai kekhalifahan. Dari kelompk lain juga
mengajukan calon yang akan meneruskan kepemimpinan Rasulullah, yaitu dari Ahlul
bait Rasullullah, yaitu Abdullah bin Abbas atau nama lainya Ali bin abi Thlib.
Kelompok lain juga berpendapat bahwa yang berhak juga untuk meneruskan dakwah
Rasulullah ialah kaum Quraisy, dan juga dalam golongan lain juga mengajukan
yang berhak meneruskan dakwah Rasulullah ialah kaum Anshar. Sehingga, pada masa
dipenghujung perdaban Islam yang mulai maju, setelah sepeninggal Rasulullah,
empat pengganti beliau dalam mengurus pengembangan dakwah dan penyiaran Agama
Islam telah dipimpin oleh pemimpin yang adil dan benar. Amin (2013e :93). Dalam
perkembangan dan pemerintahan Agama Islam dipimpin oleh empat sahabat terdekat
selama 30 tahun. Kepemimpinan tersebut adalah periode empat Khalifah atau
disebut sebagai al-Khulafa al-Rasyidun, yang terdiri dari empat Khalifah, yaitu: Sulaiman (2014 :205). 1.
Abu Bakar Ash-Shiddiq 11-13 H/632-634 M; 2. Umar Bin Khaththab 13-23 H/634-644
M; 3. Utsman Bin Affan 23-36 H/644-656 M; 4. Ali Bin Abi Thalib 36-41 H/656-661
M.
Dalam bidang
pemerintahan, 4 Khalifah ini telah memberikan suatu pengaruh yang besar bagi
perkembangan peradaban Agama Islam. Kemajuan dan perkembangan Agama Islam yang
pesat ini ditandainya dengan perluasan dan penyebaran Agama Islam hingga
mencapai keseluruh wilayah negara Islam. Setelah sepeninggal Rasulullah, tampuk
pemerintahan dipegang oleh 4 Khalifah yang agung ini, yang diberi gelar
al-Khulafa al-Rasyidun. Dalam perjalanannya dijalan Allah untuk menegakkan
Agama Islam, keempat khalifah ini bisa dibilang telah berhasil dalam menorehkan
tinta emas didalam perjuanganya. Dalam perjuanganya ke empat Khalifah ini
tidaklah mudah, karena masih banyak kaum-kaum yang membangkang setelah wafatnya
Rasulullah, banyak yang menyatakan telah meninggalkan agama Islam dan kembali
ke agama asalnya yang menyembah berhala, dan mulai munculnya nabi-nabi palsu,
oleh karena itu ke empat Khalifah ini telah berjuang untuk mendirikan kembali
Agama Islam kedalam peradaban yang kokoh.
Dalam perjalananya
yang begitu singkat, dalam sebuah rintisan dan penguatan, masa pemerintahan
al-Khulafa’ al-Rasyidum adalah masa yang sangat bermakna dalam sejarah
peradaban Islam. Dimana masa-masa tersebut telah digunakan untuk kepentingan
dijalan Allah dalam menegakkan keadilan dan mencegah kebatilan. Khalifah Abu Bakar,
dalam perjuangannya yang telah memberikan perubahan besar bagi Agama Islam
telah berhasil menetralisir keadaan dikalangan yang hampir bersitegang dalam
perihal pengganti Rasulullah.
Khalifah Umar bin
Khattab dalam perjuanganya telah berhasil mengembalikan stabilitas pemerintahan
Islam yang bahkan penguatan negara hingga disemenanjung jazirah Arabia, telah
berhasil mengubah komunitas marginal padang pasir menjadi pejuang yang gigih
sehingga membuat imperium Persia dan Byzantium menyerah. Khalifah Umar telah
berhasil dan mampu membangun kekuatan baru diwilayah Persia, Irak, Kaldea,
Suriah, Palestina, dan Mesir. Selanjutnya, perjuangan Agama Islam yang
dilakukan oleh Umar bin Khatab dan apa yang telah digagasnya telah dilanjutkan
oleh Khalifah Utsman bin Affan. Sulaiman (2014 :206.)
Hingga pada
akhirnya, Khalifah Utsman bin Affan telah memberikan kontribusi yang besar
terhadap perkembangan Agama Islam dan perluasaan Agama Islam. Perkembangan
agama Islam pada masa Khalifah Utsman salah satu bentuk kemajuan peradaban
Islam, dalam kebijakan perkembangannya langkah yang diambil oleh Khalifah
Utsman adalah untuk menuju peradaban Agama Islam yang lebih maju. Utsman bin
Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Syams bin Manaf r.a.
nasabnya bertemu Nabi pada kakek yang keempat, yaitu Abdu Manaf. Dari sisi ibu,
nasab keduanya bertemu pada Urwa bin Kariz. Ibunda Urwa adalah Baydha bin Abdul
Muththalib, bibi Rasulullah.
Dimasa jahilliyah,
beliau disebut sebagai nama panggilan Abu Amr. Setelah masa Islam, ia lebih
sering dipanggil Abu Abdullah yang diambil dari nama putranya dari Ruqqayyah
bint Rasulullah. Julukan yang paling sering dan yang terkenal adalah Dzunnurain
(pemilik dua cahaya). Julukan itu diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Julukan itu
didapatkanya karena telah menikahi dua putri Rasulullah, yaitu Ruqqayyah r.a
dan Ummu Kultsum r.a. Utsman bin Affan lahir enam tahun setelah tahun Gajah,
tepatnya pada 47 S.H. usianya enam tahun lebih muda dari pada Rasulullah SAW.
Beliau lahir di Taif daerah yang paling subur dikawasan Hijaz. Kehidupan Utsman
bin Affan, tumbuh dan berkembang selayaknya anak-anak ddiwilayah jazirah Arab
yang didalam lingkunganya masih diliputi dan dipenuhi oleh kebodohan dan
kesesatan.
Sebelum agama
Islam datang dan sesudahnya juga, beliau terhitung saudagar besar dan kaya, dan
beliau juga memiliki sifat yang pemalu dan sangat pemurah menafkahkan
kekayaannya untuk kepentingan dijalan Islam. Pada saat Rasulullah mengerahkan
pasukan tentara Jaisyul Usrah pada saat perang tabuk, bahwa Utsman telah
mendermakan 950 ekor unta, 59 ekor kuda dan seribu dinar untuk keperluan
laskar. Pada peristiwa sebelumnya Utsman juga banyak sekali dalam mendermakan
hartanya untuk kemengan Islam. Beliau adalah sahabat Nabi yang paling dermawan,
suatu ketika Rasullullah pernah bersabda kepada Utsman, tiap-tiap Nabi
mempunyai teman, temanku di syurga, beliau adalah Utsman. Oleh karena itu
pertalian sahabat antara Rasulullah dan Utsman semakin akrab, maka rasul-pun
telah mengkawinkanya dengan kedua putrinya, Ruqaiyah dan Ummu Kultsum. Setelah
sepeninggal Ruqaiyah diwaktu perang Badr, Utsman dikawinkan dengan putri yg
kedua Ummu Kultsum
Khalifah Utsman
sebelum masuk Islam pada masa awal Islam, sebelum Nabi Muhammad memasuki Darul
Arqam. Khalifah Abu Bakar telah mengajaknya masuk Islam saat usianya masih 30
tahun. Saat setelah mengajak masuk Islam, Khalifah Abu Bakar berkata, ‘’Wahai
Utsman, demi Allah sesungguhnya engkau adalah seorang laki-laki teguh yang
sangat jelas bagimu mana yang hak dan mana yang bathil. Sifat-sifat
kebathilan-kebathilan itu, sudah dilihatnya oleh Khalifah Utsman sejak masih
kecil. Sebagian besar penduduknya telah menyembah berhala. Sudah sejak lama,
bahwa Khalifah Utsman sudah sangat risih melihat kelakuan masyarakatnya yang
sedang menyembah berhala. Oleh karena itu, Utsman ingin masuk Agama Islam. Pada
saat Khalifah Utsman berkata keinginanya untuk masuk Agama Islam, tiba-tiba
datanglah Rasulullah. Rasulullah menghampiri Utsman dan bersabda dihadapanya,
‘’wahai Utsman, sambutlah Allah demi meraih surga-Nya karena sesungguhnya aku
adalah utusan Allahkepadamu dan kepada semua umat. Setelah Khalifah Utsman
mendengarkan sabda Rasul, pada akhirnya Utsman telah masuk Agama Islam.
Selain dikenal
sebagai Khalifah yang dermawan, Utsman bin Affan juga dikenal sebagai orang
yang paling pandai. Setelah Utsman bin Affan masuk Agama Islam, beliau telah
memberikan perubahan yang besar bagi Agama Islam. Salah satunya dalam karyanya
yang paling fenomenal dan prestasinya yang terbaik adalah menyatukan gaya bacaan
(qira’ah) Al-Qur’an semua umat Islam. Pada masa Khalifah Utsman bin Affan,
terdapat munculnya berbagai gaya bacaan Al-Qur’an (qira’ah) yang bermacam-macam
lantunanya, terutama disebabkan oleh karakteristik tulisan Kufi yang
membingungkan. Beliau menyusun Al-Qur’an dalam satu mushaf sesuai dengan bacaan
yang didasarkan malaikat Jibril kepada Rasullullah diakhir hayatnya.
Al-Qur’an
dipercaya sebagai kalam Allah yang menjadi sumber pokok ajaran Islam disamping
sumber-sumber lainya. Bahwa, dalam kepercayaan terhadap kitab suci ini dan
dalam pengaruhnya, dalam sejarah umat Islam sudah terbentuk sdemikian rupa,
sehingga percaya kepada kitab suci termasuk dalam rukun iman. Secara
etimologis, Al-Qur’an merupakan bentukan dari kata qara’a yang berarti
menghimpun, menggabung, dan merangkai. Dinamakan sebagai Al-Qur’an, bahwa
sebagai menghimpun surah-surah dan ayat-ayat.
Ajaran Tuhan dan
yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ialah AlQur’an. Disamping itu, pola
tingkah laku, sikap, dan ucapan Rasulullah sendiri telah dipakai sebagai
percontohan oleh umat Islam, dalam istilahnya disebut ‘’Sunnah Rasul’’. Dalam
agama Islam memiliki dua sumber yang dijadikan sebagai sumber kehidupan yang
mencakup seluruh kehidupan sosial, agama dan filsafat pemeluk-pemeluknya, yaitu
Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW, dengan ditegaskan perintah untun dicatat dan dibukukan (mushaf).
Kitab suci Al-Qur’an diturunkan didua tempat, Mekkah dan sekitarnya, Madinah
dan sekitarnya. Al-Qur’an
telah menganjurkan tentang mempelajari sejarah. Menurut pandangan Agama Islam,
manusia mempunyai dua macam kedudukan diatas bumi, tanpa memandang kemajuan
materi, ilmu pengetahuan serta tekhnologi yang telah dicapainya. Kitab suci
Al-Qur’an berada dalam keadaan bentuk yang sangat baik ataupun dalam dudukan
sebaik-baiknya, maka sebagaimana wajib dalam beriman kepada Allah dan rasul-Nya.
Dalam pemeliharaan
ayat suci Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW, dalam faktanya sangat
dipelihara dari kemusnahan dengan dua cara, yaitu, menyimpannya didalam ‘’dada
manusia’’, maksudnya ayat-ayat suci Al-Qur’an yang telah diajarkan kepada Nabi,
harus dihafalkanya, yang kedua ditulisnya dengan berbagai macam media, baik itu
dalam kulit pohon, kulit hewan, dll. Peristiwa ini dinamakan jam’u-l-qur’an,
yang dimaksud dengan ungkapan ini, pada dasarnya adalah pengumpulan wahyu-wahyu
yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui dua cara tersebut.
Al-Qur’an yang
diwahyukan kepada Muhammad dipelihara dalam ingatan Nabi dan para sahabatnya.
Dalam tradisi penghafalan Al-Qur’an ini sangat kuat dikalangan masyarakat Arab
yang telah sangat memungkinkan terpeliharanya ALQur’an dalam cara seperti itu.
Setelah menerima satu wahyu, Nabi Muhammad, sebagaimana yang telah
diperintahkan oleh Allah, melalui perantara malikat Jibril dan melalui
Al-Qur’an dan menyampaikanya kepada seluruh pengikutnya dan kemudian dianjurkan
untuk dihafalkan. Dalam
sejumlah Hadits menjelaskan berbagai upaya Nabi dalam merangsang penghafalan
Al-Qur’an dan wahyu-wahyu yang telah diterimanya. Salah satu, dalam riwyat
Utsman bin Affan, bahwa Rasulullah, dalam sabdanya ‘’yang terbaik diantara kamu
adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mnegajarkanya’’. Didalam Hadist,
telah disebutkan juga nama-nama sahabat penghafal Al-Qur’an. Dalam pemeliharaan
Al Qur’an dimasa Nabi, bahwa dengan cara perekaman dalam bentuk tertulis yang
unit wahyu yang diterima langsun oleh Nabi Muhammad SAW.
Semasa rasulullah
masih hidup, beliau tidak pernah berwasiat kepada siapapun tentang siapa yang akan
menggantikan beliau sebagai pemimpin, setelah beliau wafat. Hal ini menunjukkan
bahwa beliau sudah menyerahkan masalah kepemimpinan dan kepala negara kepada
semua umat islam. Karena itulah, setelah beliau wafat bahkan belum sampai
jenazah beliau dimakamkan, kaum anshar dan muhajirin sudah memperebutkan
kekuasaan dan berkumpul di balai kota bani sa’idah, madinah untuk
memusyawarahkan siapa yang akan menjadi pemimpin sebagai pengganti nabi. Kaum
anshar dan muhajirin merasa sama-sama berhak menjadi pemimpin dan akhirnya
dengan semangat dan ukhuwah islamiah yang tinngi, Abu Bakar terpilih menjadi
pemimpin umat islam.
Sebagai pengganti
rasulullah, para khalifah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam sejarah
umat islam, yaitu :
1. Sebagai
pemimpin umat islam
2. Sebagai
penerus perjuangan rasulullah
3. Sebagai
kepala negara, dan kepala pemerintah
Setelah nabi
wafat, banyak umat islam terutama orang-orang yang masih lemah imannya keluar
dari agama islam dan juga banyak orang yang tidak mau membayar zakat, bahkan
juga ada orang yang mengaku menjadi nabi. Dengan beberapa faktor tersebut, dapat
disimpulkan bahwa tugas khulafaur rasyidin yang terpenting adalah sebagai
berikut :
1.
Melanjutkan dakwah dan
risalah nabi dalam membina umat islam sesuai dengan alqur’an dan sunnah
rasulullah.
2.
Memerangi orang yang
sengaja mau merusak islam.
3.
Memerintah sebagai kepala
negara dan kepala pemerintah.
4.
Mengembangkan dan
memperluas wilayah islam.
Masa
Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq
Setelah Nabi Wafat
terjadilah perdebatan sengit antar kaum muslimin yaitu kaum Muhajirin dan
Anshar, keduanya saling mengklaim bahwa kelompoknya yang paling berhak menjadi
pemimpin umat Islam. Semua itu disebabkan karena sebelum nabi wafat, beliau
tidak meninggalkan wasiat siapakah yang akan menggantikan beliau, nampaknya
beliau menyerahkan urusan ini kepada umat. Namun dengan semangat ukhuwah
Islamiyah yang tinggi abu bakar terpilih sebagai khalifah.
Abu bakar adalah
orang pertama yang masuk islam dari kalangan tua. Meskipun pada waktu masuk
islam beliau tidak muda lagi tapi semangat beliau tidak setua dengan usianya,
beliau mempunyai semangat besar dalam mendakwahkan dan mengembangkan agama yang
dibawa oleh Rosulullah. Dan banyak para sahabat yang masuk islam atas jasa
beliau, diantaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf.
Dan karena kebaiakannya beliau juga membeli budak-budak yang disiksa oleh
tuannya karena memeluk agama islam, diantara budak-budak yang dimerdekakannya
adalah: “Bilal bin Rabah, Amir bin Fuhairah, Zanirah, dan lain-lain”.
Setelah Rosulullah
saw. Wafat banyak sekali pertentangan dalam menentukan siapa yang pantas dan
berhak menjadi khalifah, salah satu diantaranya adalah kaum anshar yang
menginginkan bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah kaum yang berasal dari
anshar. Akan tetapi permintaan itu ditolak, dan sebagian besar kaum muslimin
pada waktu itu menginginkan Abu Bakar. Maka dipilihlah beliau sebagai khalifah.
Setelah Abu Bakar
Ash-Siddiq dibaiat sebagai khalifah yang pertama, banyak sekali kesulitan-kesulita
yang beliau hadapi, dengan masa pemerintahan yang singkat yakni kurang lebih 2
tahun 3 bulan, beliau berhasil menghadi persoalan yang terjadi pada waktu itu,
diantaranya adalah “melakukan pemberantasan kepada orang-orang murtad,
orang-orang yang tidak mau membanyar zakat, dan yang mengaku sebagai
nabi.” Selain itu kerja keras yang beliau lakukan pada masa
pemerintahannya adalah menerima gagasan untuk menghimpun Al-Qur’an dalam satu
mushaf. Yang mana Umar bin Khattab adalah orang pertama yang mengusulkannya.
Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an karena pada waktu itu para
sahabat yang hafal Al-Qur’an banyak yang gugur dimedan perang. Inilah
untuk pertama kalinya Al-Qur’an dihimpun. Perluasan wilayah pada masa Abu Bakar ash-Siddiq
ditujukan ke Persia dan Syiria (yang dikuasai oleh Romawi timur dibawah
pimpinan Kaisar Heraklius).
Di wilayah Persia,
Abu Bakar mengangkat Khalid bin Walid dan Mutsanna bin Haritsah sebagai
panglima. dan mereka menuai kesuksesan dalam menakhlukkan wilayah ini, setelah
itu khalifah Abu bakar memerintahkan kepada kedua panglima tadi untuk membantu
dan bergabung dengan pasukan islam yang ada diSyiria. Usaha perluasan wilayah
di Syiria, Abu Bakar menugaskan 4 panglima perang, diantaranya:
a. Yazid
bin Abu Sofyan, ditempatkan di Damaskus
b. Abu
Ubaidah bin Jarrah, ditempatkan di Homs dan sebagai penglima besar
c. Amr
bin Ash, ditugaskan di Palestina
d. Surahbil
bin Hasanah, ditugaskan di Yordania
Sebenarnya pengembangan
islam di Syiria sudah dimulai ketika Nabi akan wafat dibawah pimpinan Usamah
bin Zaid, namun berhenti ketika mendengar berita bahwa Nabi Muhammad saw.
Wafat. Dan perluasan wilayah ini dilanjutkan kembali pada masa pemerintahan Abu
Bakar, usaha ini di pimpin oleh 4 panglima yang telah penulis sebutkan
sebelumnya dan diperkuat lagi dengan pasukan Khalid bin Walid dan Mutsanna nin
Haritsah. Ditengah berkecamuknya perang melawan Romawi ini terdengar kabar
bahwa Abu Bakar Ash-Siddiq wafat pada tahun 13H/ 634M. dan kekhalifahan
dipegang oleh Umar bin Khattab.
Masa
Kepemimpinan Umar bin Khattab (643-644
M / 13-23 H)
Umar diangkat
menjadi khalifah atas pilihan pemuka-pemuka sahabat, pengangkatan ketika
berlangsung umar sedang sakit sedangkan barisan depan pasukan Islam mengancam
Palestina, Iraq Dan Kerajan Hirah. Hal ini ditujukan untuk mengantisipasi
terpecahnya orang-orang musim. Ternyata kebijakan abu bakar diterima masyarakat
yang segera membaiat Umar.
Dalam peradaban
islam umar sangatlah berarti penting, jasa-jasanya untuk perkembangan islam dan
kepentingan umat sangat kuat. Dapat diibaratkan, Umar bin Khattab bagaikan
mutiara yang cemerlang dalam sejarah perkembangan islam. Para ahli sejarah
sepakat bahwa umar bin khattab adalah seorang negarawan, seorang jendral yang
ahli dalam strategi perang, pemimpin umat dan negara yang jujur, adil,
disiplin, dan sangat sedrehana.
Banyak sekali
perjuangan dan jasa-jasa Umar bin Khattab, di antara jasa dan hasil perjuangan
Umar bin Khattab adalah sebagai berikut :
a.
Perluasan wilayah
Pada masa pemerintahan
Umar usaha pengembangan wilayah terus dilanjutkan. Khalifah Umar bin khattab
melanjutkan perluasan dan pengembangan islam ke persia yang telah dimulai sejak
khalifah Abu Bakar.
Beliau juga
mengembangkan kekuasaan islam ke mesir, yang pada saat itu penduduk mesir
sedang mendapatkan penganiayaan dari bangsa romawi dan sangat membutuhkan
bantuan dari orang-orang islam.
Karena perluasan
daerah terjadi dengan cepat, Umar segera
mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang
terutama di Persia.
b.
Bidang Pemerintahan
Khalifah Umar bi Khattab sangat
memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kelancaran pemerintahan.
Pembangunan fasilitas kepemerintahan di masa khalifah Umar sangat maju pesat.
Di antara sarana-sarana pemerintahan yang dibangun adalah :
1)
Mendirikan baitul mal
2)
Mencetak mata uang negara
3)
Membentuk pasukan penjaga
tapal batas
4)
membentuk peraturan gaji
pegawai pemerintah
5)
membuat sarana
komunikasi dan informasi
Masa
Kepemimpinan Ustman bin Affan
Saat akan meninggal
umar mengajukan enam calon khalifah yang salah satunya diantaranya akan dipilih
menggantikan dirinya, empat calon mengundurkan diri, sehingga tinggalah Ustman
dan Ali sebagai kontestan jedua orang itu menerima keputusan abdur rahman ibn
auf, yang pada hari ketiga merekam suaranya untuk Ustman menjadi khalifah Islam
ke tiga. Terpilihnya Ustman diikuti dukungan dan sumpah penduduk Madinah
kepadanya.
Dimasa
pemerintahan Utsman bin Affan (644-656 M), Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Utsman
dibaiat sebagai khalifah pada sabtu, 1 Muharram 24 H setelah tiga hari dari
pemakaman Umar bin Al-Khathab.
Khalifah
sebelumnya, Umar bin Al-Khathab telah menyiapkan sebuah komite yang terdiri
dari enam dari sepuluh orang sahabat Rasulullah untuk memilih khalifah diantara
mereka. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam,
thalhah bin Ubaidillah, Abdurahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi waqqash. Di
antara mereka yang di pilih sebagai khalifah islam yang ketiga adalah Utsman
bin Affan.
Enam tahun pertama
masa pemerintahan Utsman bin Affan berjalan dengan damai, namun enam tahun masa
pemerintahan sesudahnya, terjadi pemberontakan. Sayangnya utsman tidak isa
menindak tegas para pemberontak ini. Beliau selalu berusaha untuk membangun
komunikasi yang berlandaskan kasih sayang dan berlandaskan hati. Tatkala para
pemberontak memaksa untuk melepaskan kursi kekhalifahan, beliau menolak dengan
mengutip perkataan Rasulullah. “suatu saat nanti mungkin Allah akan memakaikan
baju padamu, wahai utsman. Dan jika orang – orang menghendakimu untuk
melepaskannya, jangan lepaskan hanya karena oang – orang itu.”
Setelah terjadi
pengepungan yang lama, akhirnya pemberontak berhasil memasuki rumah
utsman dan membunuhnya. Utsman bi Affan syahid pada hari jumat, 17 Dzulhijjah
35 H, setelah memerintah selama 12 tahun, sejak tahun 23 H.
Selama masa
kekhalifahan utsman bin affan, kejayaan islam terbentang dari Armenia,
kaukasia, khurasan, kirman, sijistan, Cyprus, sampai mencapai afrika utara.
Kontribusi utsman yang paling besar dalam sejarah islam adalah kompilasi dari
teks asli Al-Qur’an yang lengkap. Banyak salinan Al qur’an berdasarkan teks
asli juga dibuat dan di distribusikan keseluruh dunia islam. Dalam mengerjakan
proyek besar ini, beliau dibantu dan banyak mendapatkan masukan dari Zaid bin
Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurahman bin Al-Harits.
Utsman berhasil membangun administrasi kekhalifahan yang terpusat dan
memantapkan penerbitan Al-Qur’an yang resmi.
Pengadilan agama
yang semula dilakukan di masjid, oleh utsman dibangun gedung baru, khusus
gedung pengadilan. Beliau juga yang mengadakan perluasan Masjid Nabawi dan
Masjidil haram serta membentuk armada laut islam yang pertama ketika terjadi
perang Dzatuswari (perang tiang kapal) yang di pimpin Muawiyah bin Abi Sufyan
pada 31 H.
Utsman bin Affan
bin Abul Ash lahir dari keluarga yang kaya dan berpengaruh dari suku bangsa
quraish silsilah bai umayyah. Usia beliau lebih muda lima tahun dari
Rasulullah. Ia mendapatkan pendidikan yang baik, belajar membaca dan menulis
pada usia dini. Di masa mudanya, ia telan menjadi seorang pedagang yang kaya
dan dermawan. Dua kisah diatas merupakan bukti kedermawaannya. Utsman berasal dari
starta social dan ekonomi tinggi yang pertama – tama memeluk islam. Ia
memiliki kepribadian yang baik, bahkan sebelum memeluk islam, utsman terkenal
dengan kejujuran dan integritasnya. Rasulullah berkata, “orang yang paling
penuh kasih sayang dari umatku kepada umatku adalah abu bakar, yang paling
gagah berani membela agama Allah adalah umar, dan yang paling jujur
kerendahatiannya adalah utsman. Mengenai
sifat rendah hatinya ini, Rasulullah berkata, “ bukankah pantas saya merasa
rendah hati terhadap seseorang bahkan malaikat pun berendah hati terhadapnya?”
Kepribadian utsman
benar – benar merupakan gambaran dari akhlak yang baik yang baik menurut islam
(akhlakul karimah). Ia jujur, dermawan, dan sangat baik hati. Rasulullah
mencintai utsman karena akhlaknya, mungkin itulah alas an mengapa beliau
mengizinkan dua anaknya untuk menjadi istri utsman. Yang pertama adalah
Ruqayyah. Ia meninggal setelah perang badar. Rasulullah sangat tersentuh akan
kesedihan yang dialami oleh utsman sepeninggal Ruqayyah dan menasehati utsman
untuk menikahi seorang lagi anak perempuan beliau Ummu Kultsum. Karena
kehormatan yang besar dapat menikahi dua anak perempuan Rasulullah, utsman
terkenal dengan sebutan Dzun Nurain atau sang pemilik dua cahaya. Kedermawanan utsman
tampak pada kehidupannya sehari – hari. Ketika bencana kekeringan melanda
madinah, kaum muslimin terpaksa menggunakan sumur rum sebagai sumber mata air
satu satunya. Sayangnya, sumur tersebut milik yusur, seorang yahudi tua
yang serakah. Untuk mengambil air sumur itu, kaum muslimin harus membayar mahal
dengan harga yang ditetapkan si yahudi.
Masa
Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (35 –
40 H/656 – 661 M)
Kepemimpinan ali
adalah pemilihan masyarakat muslim, karena setelah Ustman wafat masyarakat
beramai-ramai membaiat ali sebagai khalifah.
Dia adalah
khalifah keempat dari khulafaur Rasyidin. Ayahnya abu thalib bin Abdil Muthalib
bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ibunya Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf.
Jadi, baik dari ayah maupun ibunya, ali adalah keturunan Bani Hasyim. Setelah terbunuhya
Utsman, kaum muslimin memilih Ali untuk menjadi pemimpin mereka. Pada masa Ali
timbul beberapa gerakan yang menentang pemerintahan. Karena itu, selama
memerintah beliau banyak mencurahkan perhatiannya pada pembangunan dan
penerbitan keadaan dalam negeri, kholifah Ali mempunyai watak pemberani, pandai
memanah dan memainkan pedang, ahli hukum agama. Beliau selalu ikut dalam suatu
perang besar Rasulullah kecuali perang Tabuk. Dalam pemerintahannya, beliau
melakukan penggantian para gubernur yang di angkat oleh Usman. Tindakan ini
menimbulkan beberapa akibat, diantaranya munculnya tiga golongan( golongan Ali,
golongan Muawiyahh, dan golongan Aisyah, Zubair dan Thalhah). Meletusnya perang
Jamal, perselisihan Ali dan Muawiyah dan terjadi perang Shiffin. Akibat dari
perang Shiffin muncullah Khowarij dan Syi’ah. Khowarij adalah kelompok yang
keluar dari golongan Ali karena tidak setuju dengan kebijakan Ali
memberhentikan perang Shiffin disaat pihaknya merasa hampir menang, di samping
tidak setuju diadakannya pertempuran perdamaian dengan pihak Muawiyah di
Daumatul Jandal. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa Majelis Taklim Daumatul
Jandal. Sedangkan Syi’ah adalah golongan yang tetap loyal terhadap Ali.
Beberapa orang
Khowarij yang beranggapan bahwa pangkal kekacauan di kalangan umat Islam ada
tiga orang Imam yaitu: Ali, Muawiyah dan Amru bin As. Karena itu mereka harus
di bunuh. Asda tiga orang Khowarij yang bertugas membunuh mereka yaitu
Abd.Rahman bin Muljani bertugas membunuh Ali dan ia berhasil, Barak bin
Abdullah bertugas membunuh Muawiyah dan tikamannya hanya mengenai pinggul dan
ia tidak meninggal, bahkan Barak sendiri di bunuh sedangkan Amir bin Bakri
bertugas membunuh Amr bin Ash dan tidak berhasil karena tidak hadir mengimami
sholat, sehingga yang terbunuh adalah wakilnya. Selama masa Khulafaurrasyidin,
dalam bidang kebudayaan mengalami kemajuan, misalnya munculnya seni sastra dan
bangunan yang meliputi:
a.
Seni bangunan sipil(
seperti pembuatan gedung)
b.
Seni bangunan agama(
seperti pembangunan masjid)
c.
Seni bangunan
militer( seperti pembangunan benteng pertahanan)
Departemen yang di bentuk
antara lain:
a.
Al- Nidham Al- Siyasi (menangani masalah
politik)
b.
An- Nidham Al- Idari (menangani administrasi
negara)
c.
Al- Nidham Al-
Mali (menangani keuangan dan ekonomi negara)
d.
An- Nidam Al-
Harbi (menangani angkatan perang dan perlengkapannya)
e.
An- Nidham Al-
Qadha’(menangani masalah kehakiman)
BAB
III
KESIMPULAN
Alkhurafa’ur
rasyidin adalah pemimpin yang mendapat petunjuk sesudah nabi wafat untuk
menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala
pemerintahan. Nama khulafaur rasyidin ini hanya untuk empat sahabat yang
menjadi khalifah secara berturut-turut setelah nabi. Mereka adalah orang-orang
yang sangat setia kepada nabi. Pada masa ini, mereka betul-betul menurut
teladan nabi, mereka dipilih melalui proses musyawarah, yang dalam istilah
sekarang disebut demokratis. Pemerintahan itu sangat berjasa dengan
perkembangan Islam.
DAFTAR
PUSTAKA
Badri Yatrim, Sejarah Peradaban
Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003
Depag RI, Ensiklopedi Islam,
Jilid 3, (Jakarta: Anda Utama,1993)
Gufron A. Mas’udi, Ensiklopedi
Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999)
Hussein Bahreisj, 450 Masalah Agama Islam,
(Surabaya: al-Ihlas, 1980)
Mohammad Husein, Pemerintahan Islam,
(Jakarta: Pustaka Firdaus, 1990)
Tamil Ahmad, Sejarah Muslim Terkemuka,
(Jakarta: Tamrint, 1987).
Zainuiddin, Mohammad Jamhari, al Islam 2,
(Bandung: Pustaka Setia, 1999)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar