LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
PENGEMBANGAN
KURIKULUM
Dosen
Pengampu:
Aris Imawan, M.Pd.I
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kurikulum
sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam
seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya
peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia,
dalam penyusunan kurikulum tidak dapat dikerjakan sembarangan. Penyusunan
kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas
hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Jika landasan pendidikan,
khususnya kurikulum yang lemah , yang akan ambruk adalah manusia
Adapun
beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum, meliputi landasan
filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, dan landasan
perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu, makalah ini dibuat untuk memenuhi
salah satu tugas Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran Biologi maka kami
menyusun makalah ini. Dan ditambah lagi dengan fenomena pergantian kurikulum pendidikan
beberapa tahun kebelakang.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai
kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan
proses dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam
pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, dalam penyusunan kurikulum
tidak dapat dikerjakan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan
landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan
penelitian yang mendalam. Jika landasan pendidikan, khususnya kurikulum yang
lemah , yang akan ambruk adalah manusia
Adapun beberapa landasan utama dalam pengembangan
suatu kurikulum, meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, landasan
sosial budaya, dan landasan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu,
makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kurikulum dan
Pembelajaran Biologi maka kami menyusun makalah ini. Dan ditambah lagi dengan
fenomena pergantian kurikulum pendidikan beberapa tahun kebelakang.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan landasan filosofi?
2. Apa yang dimaksud dengan landasan psikologis ?
3. Apa yang dimaksud dengan landasan sosiologis ?
4. Apa yang dimaksud dengan landasan organisatoris ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Landasan filosofi
Kurikulum
merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem
pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang
harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan
pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Karena
begitu pentingnya fungsi dan peran kurikulum, maka setiap pengembangan
kurikulum pada jejang manapun harus didasarkan pada asas-asas tertentu.
Pengembangan
kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan
bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya.
Namun demikian, persoalan mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana
cara belajar siswa bukanlah suatu proses yang sederhana, sebab menentukan isi
atau muatan kurikulum harus berangkat dari visi, misi, serta tujuan yang ingin
dicapai; sedangkan menentukan tujuan erat kaitannya dengan persoalan sistem
nilai dan kebutuhan masyarakat. Persoalan inilah yang kemudian membawa kita
pada persoalan menentukan hal-hal yang mendasar dalam proses pengembangan
kurikulum yang kemudian kita namakan asas-asas atau landasan pengembangan
kurikulum.
Pengembangan
kurikulum merupakan kegiatan yang sangat kompleks, yang memerlukan dasar-dasar
pertimbangan bagi pengambilan keputusan yang mendalam dan mendasar. Seperti
halnya dalam menentukan tujuan pendidikan yang harus dicapai oleh suatu
sekolah, harus ditindaklanjuti dengan pengambilan keputusan yang cermat dalam
menentukan mata pelajaran serta konten atau bahan ajar yang yang harus dimasukan
dalam kurikulum. Dan perlu pula ditetapkan rekomendasi dalam memilih kegiatan
pembelajaran dan pengalaman belajar yang dapat menunjang pencapai tujuan-tujuan
umum dan tujuan-tujuan khusus pendidikan dan pembelajaran. Untuk itu, maka
pentingnya ditetapkan landasan-landasan pendidikan yang mendasari pengembangan
kurikulum. Dengan adanya landasan yang jelas, yang kemudian dipahami dengan
baik oleh para pengembang kurikulum, maka diharapkan akan terjadi sinkronisasi
antara apa yang diharapkan , direncanakan dengan apa yang secara nyata
dilaksanakan disekolah maupun dikelas.
Fungsi asas atau landasan pengembangan kurikulum adalah seperti fondasi
sebuah bangunan. Apa yang akan terjadi seandainya sebuah gedung yang menjulang
tinggi berdiri diatas fondasi yang rapuh? Ya, tentu saja bangunan itu tidak
akan tahan lama. Oleh sebab itu, sebelum sebuah gedung dibangun, terlebih
dahulu disusun fondasi yang kokoh. Semakin kokoh fondasi sebuah gedung, maka
akan semakin kokoh pula gedung tersebut.
Pengembangan kurikulum merupakan kegiatan yang sangat kompleks, yang
memerlukan dasar-dasar pertimbangan bagi pengambilan keputusan yang mendalam
dan mendasar. Seperti halnya dalam menentukan tujuan pendidikan yang harus
dicapai oleh suatu sekolah, harus ditindaklanjuti dengan pengambilan keputusan
yang cermat dalam menentukan mata pelajaran serta konten atau bahan ajar yang
harus dimasukan dalam kurikulum. Dan perlu pula ditetapkan rekomendasi dalam
memilih kegiatan pembelajaran dan pengalaman belajar yang dapat menunjang.
Pendidikan
merupakan sebuah interaksi antara pendidik dan peserta didik. Di dalam
interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana
interaksi berlangsung. Apa yang menjadi tujuan pendidikan, siapa yang pendidik
dan peserta didik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interkasi tersebut
merupakan pernyataan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial
yaitu jawaban-jawaban filosofis.
Asas ini
berhubungan dengan filsafat dan tujuan pendidikan. Filsafat dan tujuan
pendidikan berkenaan dengan sistem nilai. Sistem ini merupakan pandangan
seseorang tentang sesuatu terutama berkenaan dengan arti kehidupan. Pandangan
ini lahir dari kajian suatu masalah, norma-norma agama dan sosial yang
dianutnya. Perbedaan pandangan dapat menyebabkan timbulnya perbedaan arah
pendidikan yang diberikan kepada sisiwa.
Dalam pengembangan
kurikulum filsafat menjawab hal-hal mendasar bagi pengembangan kurikulum,
antara lain kemana peserta didik akan dibawa? Masyarakat yang bagaimana akan
dikembangkan melalui pendidikan tersebut? Apa hakikat pengetahuan yang akan
dibelajarkan kepada peserta didik? Norma atau sistem bagaimana yang harus
ditrasformasikan kepada peserta didik sebagai generasi penerus? Bagaimana
proses pendidikan hrus dijalankan?
Demikian mendasrnya
pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafat. Dengan kedudukannya
yang begitu mendasar flsafat paling tidak memiliki empat fungsi
1. Filsafat dapat
menentukan arah dan tujuan pendidikan
2. Filsafat dapat
menentukan isi atau materi pelajaran yang harus dipelajari
3. Filsafat dapat
menentukan isi strategi atau cara pencapaian tujuan
4. Filsafat dapat
menentukan tolak ukur keberhasian suatu proses pendidikan
Oleh karena itu
kurikulum senantiasa bertalian erat dengan filsafat pendidikan, karena filsafat
pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Berdasarkan
cita-cita tersebut terdapat landasan, mau dimana kemana pendidikan peserta
didik. Filsafat pendidikan menggambarkan manusia yang ideal yang diharapkan
oleh masyarakat. Filsafat pendidikan menjadi landasan dan sumber untuk
menentukan arah dan tujuan yang hendak di capai dengan alat yang di sebut
kurikulum.
Pancasila sebagai
filsafat bangsa Indonesia merupakan sistem nilai yang menjadi pedoman hidup
bangsa, karena itu tujuan dan arah dari segala usaha sadar berbagai jenjang dan
jenis satuan pendidikan adalah mengembangkan dan membina manusia yang
Pancasilais. Dengan demikian, isi kurikulum yang disusun harus memuat dan
mencerminkan nilai-nilai pancasila. Pancasila harus menjadi bingkai bagi
pengembangan keempat domain tujuan pendidikan meliputi kognisi, afeksi, konasi,
dan psikomotor. Kecerdasan yang harus dikembangkan, sikap dan kehendak yang
harus ditanamkan serta keterampilan yang harus dikuasai oleh setiap peserta didik
harus selalu diwarnai dan di jiwai nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian
Pancasila bingkai dari tujuan dan pelaksanaan pendidikan Indonesia
Secara harfiah
filosofis (filsafat) berarti cinta atau kebijakan (love of wisdom). Orang
belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan bijak, harus tahu
atau berpengetahuan.
Pengetahuan
tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistemattis,
logis, dan mendalam. Pemikiran demikian dalam filsafat sering kali disebut
sebagi pemikiran radikal, atau berpikir sampai ke akar-akarnya. Secara.
akademik, filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu
pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam.
semesta dan
kedudukan manusia di dalamnya. Berfilsafat berarti menangkap sinopsis
peristiwa-peristiwa yang simpang siur dalam pengalaman manusia. Suatu cabang
ilmu pengetahuan mengkaji satu bidang pengetahuan manusia, daerah cakupannya
terbatas. Filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia, berusah melihat
segala yang ada ini sebagai satu kesatuan yang menyeluruh dan mencoba
mengetahui kedudukan manusia di dalamnya.
Jadi, landasan
filosofis sangat penting dalam pengembangan kurikulum dalam mendapatkan sebuah
konsep atau rancangan yang dipikirkan secara sistematis, logis, dan mendalam
sehingga mampu menuangkan konsep yang lebih baik. Filsafat juga memberikan
landasan-landasan dasar bagi ilmu. Keduanya dapat memberikan bahan bagi manusia
untuk membantu memecahkan berbagai masalaha dalam kehidupannya.
Ada tiga cabang
besar filsafat, yaitu metafisika (yang membahas segala yang ada di alam ini),
episteminologi (yang membahas kebenaran) dan aksiologi (yang membahas nilai.
1. Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat
yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai
keberadaan dan realitas yang menyertainya.
2. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat
yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.
3. Sosiologi
merupakan cabang filsafat ilmu yang
mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
Filsafat membahas
segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk masalah-masalah
pendidikan ini ynag disebut filsafat pendidikan . walaupun dilihat sepintas,
filsafat pendidikan ini hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran
filosogis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan tetapi antara keduanya
yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat
erat. Menurut donald burter, filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap
praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi
pertimbangan-pertimbangan filosofis. Bahkan menurut john dewey filsafat dan
filsafat pendidikan adalah sama, sebagaimana juga pendidikan menurut Dewey sama
dengan kehidupan.
B. Landasan
psikologis
Pendidikan senantiasa berkaitan dengan perilaku manusia, dalam proses
pendidikan itu terjasi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya,
baik lingkungan yang bersifat fisik maupun lingkungan social, melalui
pendidikan diharapkan adanya perubahan perilaku peserta didik menuju
kedewasaan, baik secara fisik, mental , emosional, moral, intelektualitas
maupun social.
Dalam
proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu manusia, yaitu antar peserta
didik dengan pendidik dan juga antar peserta didik dengan orang-orang yang
lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, karena kondisi psikologisnya.
Berkat kemampuan-kemapuan psikologis yang lebih tinggi dan kompleks inilah
sesungguhnya mausia menjadi lebih maju, lebih banyak memiliki kecakapan,
pengetahuan, dan keterampilan dibandingkan dengan makhluk lainnya.
Kondisi
psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang
dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya,
prilaku tersebut merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik yang
tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
Kondisi
psikologis setiap individu berbeda, karena peerbedaan tahap perkembangannya,
latar belakang sosial-budaya, juga karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa
dari kelahirannya. Kondisi pun berbeda pula bergantung pada konteks, peranan,
dan status individu diantar individu-individu yang lainnya. Interaksi yang
tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis para
peserta didik maupun kondisi pendidiknya.
Peseta
didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Tugas utama
yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu perkembangan peserta didik
secara optimal. Karakteristik perilaku individu pada tahap-tahap perkembangan,
serta pola-pola perkembangan individu menjadi kajian psikologi perkembangan
Perkembangan
atau kemajuan-kemajuan yang dialami anak sebagian besar terjadi karena usaha
belajar, baik berlangsung melaui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan,
pemahaman, penerapan, maupun pemecahana
masalah.
Pendidik atau guru melakukan berbagai upaya, dan menciptakan berbagi kegiatan
dengan dukungan berbagai alat bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar
mengajar yang mana membutuhkan studi sistematik dan mendalam. Studi demikian
merupakan bidang pengkajian dari psikologi belajar.
Jadi,
minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu
psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik
di dalam merumuskan tujuan, memilih, dan menyusun bahan ajar, memilih dan
menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.
1.
Psikologi Perkembangan
Psikologi
perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa
pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dewasa.
a. Metode dalam psikologi perkembangan
Pengetahuan
tentang perkembangan individu diperoleh meleui studi yang bersifat
longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik atu studi kasus. Studi
longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui
pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dari saat
lahir sampai dengan dewasa. Metode cross sectional yang dilakukan oleh Arnold Gessel
dengan cara mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkatan usia, mencatat
ciri-ciri fisik dan mental, pola-pola perkembangan dan kemampuan, serta prilaku
mereka.
Studi
psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund freud. Studi ini lebih banyak diarahkan
mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya, terutama pada masa
kanak-kanak. Karena dapat mengganggu perkembangan pada masa selanjutnya. Metode
sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst. Ia mempelajari perkembangan anak
dari tuntutan tugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat.
Ada seperangkat tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai individu dalam
setiap tahap perkembangan. Sedangkan metode
lainnya
ialah studi kasus. Dengan mempelajari kasus-kasus tertentu, para ahli psikologi
perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak.
b. Teori Perkembangan
Dikenal
ada tiga teori atau pendekatan tentang pendekatan perkembangan individu , yaitu
pendekatan pentahapan (stage approach) atau perkembangan individu berjalan
melalui tahap-tahap perkembangan. Kedua, pendekatan diferensial (diferential
approach) melihat bahwa individu memiliki persamaan dan perbedaan yang
dibedakan atas jenis kelamin, ras, agama, status sosial ekonomi dan sebagainya.
Pengelompokan individu ada kalanya juga didasarkan atas kesamaan
karakteristiknya. Ketiga, pendekatan isaftif ( Isaftif approach) berusaha
melihat karakteristik individu yang memiliki sifat sifat individual yang hanya
dimiliki oleh seorang individu dan tidak dimiliki oleh individu lainnya.
2.
Psikologi Belajar
Pengembangan
kurikulum tidak akan terlepas dari teori belajar sebab, pada dasarnya kurikulum
disusun untuk membelajarkan siswa. Banyak teori yang membahas tentang belajar
sebagai proses perubahan tingkah laku namun demikian setiap teori itu
berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia.
Menurut
aliran belajar kognitif-wholistik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan
sosial antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecenderungan untuk
bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon. Dengan demikian bahwa
proses belajar sangat tergantung pada adanya rangsangan yang muncul dari luar
diri atau faktor lingkungan. Menurut aliran behavioristik belajar, pada
hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indra
dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon.
Dengan
demikian menurut aliran behavioristik proses belajar sangat bergantung pada
adanya rangsangan atau stimulus yang muncul dari luar diri atau yang kita kenal
dengan faktor lingkungan. Proses belajar dapat dipelajari dari kegiatan yang
dapat dilihat. Pada penilaian kognitif belajar adalah kegiatan mental yang ada
dalam diri setiap individu, kegiatan mental itu memang tidak dapat dilihat secara
nyata akan tetapi menurut aliran ini, justru sesuatu yang ada dalam diri itulah
yang menggerakan seseorang mencapai perubahan tingkah laku.
C. Landasan sosiologis
Salah
satu fungsi sekolah erat hubungannya dengan kebutuhan masyarakat. Sekolah sejak
mulanya didirikan oleh masyarakat untuk kepentingan masyarakat demi kelanjutan
hidup, perkembangan, dan kebahagiaan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat
mendirikan sekolah untuk kepentingan masyarakat agar hidup terus dan senantiasa
meningkatan mutu kehidupannya. Faktor itulah yang harus dipertimbangkan dalam
pengembangan kurikulum, disini juga harus dijaga keseimbangan antara
kepentingan peserta didik sebagai individu dengan kepentingan peserta didik
sebagai anggota masyarakat, dan ini dapat dicapai apabila dicegah kurikulum
yang semata-mata bersifat sosiety-centered.
Kurikulum
sekolah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan harus senantiasa relevan
dengan situasi dan kondisi masyarakat masa kini. Bahkan tuntutan dan
kemungkinan yang bakal terjadi pada masayarakat genenrasi yang
mendatang
idealnya telah dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum, karena masyarakat
senantiasa tumbuh dan berkembang berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Landasan
sosiologis dalam pengembangan kurikulum, dalam konteks ini pengembang kurikulum
2004, pada dasarnya sebagai upaya perubahan dalam menanggapi berbagai
perkembangan dalam masyarakat, baik masyarakat dunia maupun masyarakat lokal
yang saat ini berhadapan dengan perubahan yang begitu cepat (Muhamad, 2004).
Pada
dasarnya, kurikulum harus mampu mengembangkan manusia sehingga mereka memiliki
karakteristik dan sifat-sifat yang diperlukan baik oleh dirinya sebgai suatu
pribadi maupun oleh masyarakat, bangsa, dan negara. Konsekuensinya, kurikulum
dikembangan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat landasan sosial dan
budaya merupakan salah satu landasan yang seharusnya menjadi kepedulian utama
dalam proses pengembangan kurikulum.
Pendidikan
adalah proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan
adalah proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang
berbudaya. Dalam konteks inilah anak didik dihadapkan dengan budaya manusia,
dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya, serta dipupuk kemampuan
dirinya menjadi manusia yang berbudaya.
Disisi lain bahwa pendidikan merupakan usaha menyiapkan subjek didik
(siswa) menghadapi kehidupan yang selalu mengalami perubahan dengan pesat dan
bahkan sulit untuk ditebak. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi
perannya di masa yang akan datang. Teknologi adalah aplikasi dari ilmu
pengetahuan ilmiah dan ilmu-ilmu lainnya untuk memcahkan masalah-masalah
praktis. Ilmu dan teknologi tidak bisa dipisahkan. Ilmu pengetahuan dan
teknologi berkembang sangat pesat seiring lajunya perkembangan masyarakat.
Dengan kedua alasan tersebut di atas, maka agar kurikulum sebagai program
pendidikan maupun kurikulum sebagai pengalaman yang diterapkan dalam proses
pembelajarn di setiap satuan pendidikan, selain menggunakan kedua landasan yang
telah dibahas sebelumnya yaitu landasan filosofis dan psikologis, juga harus
menggunakan asumsi-asumsi atau landasan lainnya yaitu landasan sosiologis dan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
D. Landasan
organisatoris
Kurikulum
merupakan rencana untuk kepentingan peserta didik, maka dari itu bahan atau isi
pelajaran harus dituangkan dalam organisasi tertentu agar tujuan pendidikan
dapat tercapai (Nasution, 1995) organisasi atau desain kurikulum berkaitan erat
dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
Jenis-jenis
organisasi kurikulum yang dimaksud sebagaimana dikemukakan berikut ini:
1. Kurikulum
Berdasarkan Mata Pelajaran
Organisasi
kurikulum jenis ini merupakan organisasi kurikulum yang paling tua, tetapi
higga kini masih menduduki tempat yang paling dominan. Organisasi kurikulum
yang subject centered ini memanfaatkan berbagai disiplin ilmu yang telah
disusun secara logis sistematis oleh para ahli dan ilmuan dalam cabang ilmu
masing-masing. Kurikulum ini bertujuan agar peserta didik mengenal hasil
kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan sejak
berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali apa yang
telah diperoleh generasi-genarasi terdahulu.
Kurikulum
berdasarkan subjek atau mata pelajaran ini sangat populer dan mempunyai
kedudukan yang kokoh sekalipun mengalami kritik-kritik yang tajam. Kurikulum
ini bertahan terus sebab mempunyai ciri-ciri yang tidak dimiliki oleh kurikulum
bentuk lain. Kurikulum ini memang banyak mempunyai keuntungan, antara lain
sebagai berikut :
a. Memberikan
pengetahuan berupa hasil pengalaman generasi lampau yang dapat digunakan untk
menafsirkan pengalaman seseorang.
b. Mempunyai
organisasi yang mudah sturkturnya, mudah diubah, diperluas atau dipersempit,
mudah disesuaikan dengan perkembangan baru dalam ilmu pengetahuan.
c. Mudah
dievaluasi bila perlu dengan menggunakan tes objektif yang dapat dinilai secara
otomatis dengan komputer sehingga memudahkan penilaian ujian atau tes secara
massal.
d. Telah
diterima baik dan mudah dipahami oleh guru, orang tua, dan peserta didik.
e. Mengandung
logika tersendiri menurut disiplin masing-masing memberikan pengetahuan secara
sistematis dan karena itu memberikan metode yang logis dan efektif untuk
menguasi bahan pelajaran.
Selain memiliki
keuntugan, organisasi kurikulum ini memiliki berbagai kelemahan, yang antara
lain dikemukakan berikut ini:
a. Terdapat
kesenjangan antara pengalaman peserta didk dan pengalaman umat manusia yang
tersusun logis sistematis sehingga timbul bahaya verbalisme.
b.Sering
pengetahuan yang logis-sistematis itu tidak fungsional dalam menghadapi
masalah-masalah masyarakat dan tidak sesuai dengan minat, kebutuhan serta
masalah-masalah peserta didik dalam hidupnya.
c. Kurikulum
ini memberikan pengetahuan lepas-lepas, sering berupa fakta dan informasi yang
perlu dihafal.
2. Kurikulum
Gabungan
Pada dasarnya
merupakan modifikasi dari kurikulum mata pelajaran yang terpisah-pisah. Agar
pengetahuan peserta didik tidak lepas maka diusahakan hubungan diantara dua
mata pelajaran atau lebih yang dapat dipandang sebagai kelompok yang pada
hakikatnya mempunyai hubungan yang erat. Dalam menghubungkan mata pelajaran
yang satu dengan yang lain dengan memelihara identitas mata pelajaran, ada pula
yang menyatupadukan mata pelajaran dengan menghilangkan identitas mata
pelajaran sehingga menjadi bidang studi tertentu.(Nasution,1995).
a. Macam
macam cara berkorelasi:
Antara dua matapelajaran diadakan
hubungan secara insidental,yakni kalau kebetulan ada kaitannya dengan mata
pelajaran lain.
b. Hubungan
yang lebih erat terdapat apabila suatu pokok atau masalah tertentu
diperbincangkan dalam berbagai mata pelajaran.
c. Beberapa
mata pelajaran disatukan, difusikan dengan menghilangkan batas masing masing.
d. Kurikulum
terpadu (integrated curriculum)
Ciri-ciri bentuk
organisasi kurikulum terpadu (integrated curriculum) diantaranya adalah sebagai
berikut:
1) Berdasarkan
filsafat pendidikan demokratis.
2) Berdasarkan
psikologis belajar Gestalt.
3) Berdasarkan
landasan sosiologis dan sosio-kultural.
4) Berdasarkan
kebutuhan perkembangan peserta didik.
5) Ditunjang
oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada.
6) Sistem
pencapaiannya dengan menggunakan sistem pengajaran unit atau tematik.
7) Peran
guru sama aktifnya dengan peran peserta didik.
BAB
III
KESIMPULAN
Kurikulum
merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem
pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang
harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan
pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa.
Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang
isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara
mempelajarinya.
Namun demikian,
persoalan mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara belajar
siswa bukanlah suatu proses yang sederhana, sebab menentukan isi atau muatan
kurikulum harus berangkat dari visi, misi, serta tujuan yang ingin dicapai;
sedangkan menentukan tujuan erat kaitannya dengan persoalan sistem nilai dan
kebutuhan masyarakat. Macam-macam landasan pengembangan kurikulum adalah
landasan filosofis, landasan psikologis, landasan organisasi, landasan sosialisasi,
landasan ilmu dan pengetahuan, landasan teori, dan landasan yuridis.
DAFTAR
PUSTAKA
Hidayat, Sholeh. (2013). Pengembangan Kurikulum Baru.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Lely, Halimah. (2010). Pengembangan Kurikulum. Bandung :
RIZQI Press.
Sanjaya, Wina. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta
: Prenada Media Group.
Sukmadinata, Nana. (2008). Pengembangan Kurikulum. Bandung
: PT Remaja Rosdakarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar