Minggu, 28 Mei 2023

MAKALAH LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

 

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

PENGEMBANGAN KURIKULUM

                                                                                  

                           

      

                                                                                

 

 

 

Dosen Pengampu:

Aris Imawan, M.Pd.I

 

Oleh:

DEWY MULYYA AYU KUSUMA

201812120380

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL FITHRAH

SURABAYA

2021-2022

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, dalam penyusunan kurikulum tidak dapat dikerjakan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Jika landasan pendidikan, khususnya kurikulum yang lemah , yang akan ambruk adalah manusia

Adapun beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum, meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, dan landasan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu, makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran Biologi maka kami menyusun makalah ini. Dan ditambah lagi dengan fenomena pergantian kurikulum pendidikan beberapa tahun kebelakang.

Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang cukup sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan, menentukan proses dan hasil pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, dalam penyusunan kurikulum tidak dapat dikerjakan sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan atas hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Jika landasan pendidikan, khususnya kurikulum yang lemah , yang akan ambruk adalah manusia

Adapun beberapa landasan utama dalam pengembangan suatu kurikulum, meliputi landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial budaya, dan landasan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu, makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran Biologi maka kami menyusun makalah ini. Dan ditambah lagi dengan fenomena pergantian kurikulum pendidikan beberapa tahun kebelakang.

 

 

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan landasan filosofi?

2.      Apa yang dimaksud dengan landasan psikologis ?

3.      Apa yang dimaksud dengan landasan sosiologis ?

4.      Apa yang dimaksud dengan landasan organisatoris ?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Landasan filosofi

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Karena begitu pentingnya fungsi dan peran kurikulum, maka setiap pengembangan kurikulum pada jejang manapun harus didasarkan pada asas-asas tertentu.

Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Namun demikian, persoalan mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara belajar siswa bukanlah suatu proses yang sederhana, sebab menentukan isi atau muatan kurikulum harus berangkat dari visi, misi, serta tujuan yang ingin dicapai; sedangkan menentukan tujuan erat kaitannya dengan persoalan sistem nilai dan kebutuhan masyarakat. Persoalan inilah yang kemudian membawa kita pada persoalan menentukan hal-hal yang mendasar dalam proses pengembangan kurikulum yang kemudian kita namakan asas-asas atau landasan pengembangan kurikulum.

Pengembangan kurikulum merupakan kegiatan yang sangat kompleks, yang memerlukan dasar-dasar pertimbangan bagi pengambilan keputusan yang mendalam dan mendasar. Seperti halnya dalam menentukan tujuan pendidikan yang harus dicapai oleh suatu sekolah, harus ditindaklanjuti dengan pengambilan keputusan yang cermat dalam menentukan mata pelajaran serta konten atau bahan ajar yang yang harus dimasukan dalam kurikulum. Dan perlu pula ditetapkan rekomendasi dalam memilih kegiatan pembelajaran dan pengalaman belajar yang dapat menunjang pencapai tujuan-tujuan umum dan tujuan-tujuan khusus pendidikan dan pembelajaran. Untuk itu, maka pentingnya ditetapkan landasan-landasan pendidikan yang mendasari pengembangan kurikulum. Dengan adanya landasan yang jelas, yang kemudian dipahami dengan baik oleh para pengembang kurikulum, maka diharapkan akan terjadi sinkronisasi antara apa yang diharapkan , direncanakan dengan apa yang secara nyata dilaksanakan disekolah maupun dikelas.

Fungsi asas atau landasan pengembangan kurikulum adalah seperti fondasi sebuah bangunan. Apa yang akan terjadi seandainya sebuah gedung yang menjulang tinggi berdiri diatas fondasi yang rapuh? Ya, tentu saja bangunan itu tidak akan tahan lama. Oleh sebab itu, sebelum sebuah gedung dibangun, terlebih dahulu disusun fondasi yang kokoh. Semakin kokoh fondasi sebuah gedung, maka akan semakin kokoh pula gedung tersebut.

Pengembangan kurikulum merupakan kegiatan yang sangat kompleks, yang memerlukan dasar-dasar pertimbangan bagi pengambilan keputusan yang mendalam dan mendasar. Seperti halnya dalam menentukan tujuan pendidikan yang harus dicapai oleh suatu sekolah, harus ditindaklanjuti dengan pengambilan keputusan yang cermat dalam menentukan mata pelajaran serta konten atau bahan ajar yang harus dimasukan dalam kurikulum. Dan perlu pula ditetapkan rekomendasi dalam memilih kegiatan pembelajaran dan pengalaman belajar yang dapat menunjang.

Pendidikan merupakan sebuah interaksi antara pendidik dan peserta didik. Di dalam interaksi tersebut terlibat isi yang diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi berlangsung. Apa yang menjadi tujuan pendidikan, siapa yang pendidik dan peserta didik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interkasi tersebut merupakan pernyataan yang membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial yaitu jawaban-jawaban filosofis.

Asas ini berhubungan dengan filsafat dan tujuan pendidikan. Filsafat dan tujuan pendidikan berkenaan dengan sistem nilai. Sistem ini merupakan pandangan seseorang tentang sesuatu terutama berkenaan dengan arti kehidupan. Pandangan ini lahir dari kajian suatu masalah, norma-norma agama dan sosial yang dianutnya. Perbedaan pandangan dapat menyebabkan timbulnya perbedaan arah pendidikan yang diberikan kepada sisiwa.

Dalam pengembangan kurikulum filsafat menjawab hal-hal mendasar bagi pengembangan kurikulum, antara lain kemana peserta didik akan dibawa? Masyarakat yang bagaimana akan dikembangkan melalui pendidikan tersebut? Apa hakikat pengetahuan yang akan dibelajarkan kepada peserta didik? Norma atau sistem bagaimana yang harus ditrasformasikan kepada peserta didik sebagai generasi penerus? Bagaimana proses pendidikan hrus dijalankan?

Demikian mendasrnya pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh filsafat. Dengan kedudukannya yang begitu mendasar flsafat paling tidak memiliki empat fungsi

1. Filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan

2. Filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus dipelajari

3. Filsafat dapat menentukan isi strategi atau cara pencapaian tujuan

4. Filsafat dapat menentukan tolak ukur keberhasian suatu proses pendidikan

Oleh karena itu kurikulum senantiasa bertalian erat dengan filsafat pendidikan, karena filsafat pendidikan mengandung nilai-nilai atau cita-cita masyarakat. Berdasarkan cita-cita tersebut terdapat landasan, mau dimana kemana pendidikan peserta didik. Filsafat pendidikan menggambarkan manusia yang ideal yang diharapkan oleh masyarakat. Filsafat pendidikan menjadi landasan dan sumber untuk menentukan arah dan tujuan yang hendak di capai dengan alat yang di sebut kurikulum.

Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia merupakan sistem nilai yang menjadi pedoman hidup bangsa, karena itu tujuan dan arah dari segala usaha sadar berbagai jenjang dan jenis satuan pendidikan adalah mengembangkan dan membina manusia yang Pancasilais. Dengan demikian, isi kurikulum yang disusun harus memuat dan mencerminkan nilai-nilai pancasila. Pancasila harus menjadi bingkai bagi pengembangan keempat domain tujuan pendidikan meliputi kognisi, afeksi, konasi, dan psikomotor. Kecerdasan yang harus dikembangkan, sikap dan kehendak yang harus ditanamkan serta keterampilan yang harus dikuasai oleh setiap peserta didik harus selalu diwarnai dan di jiwai nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian Pancasila bingkai dari tujuan dan pelaksanaan pendidikan Indonesia

Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti cinta atau kebijakan (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan bijak, harus tahu atau berpengetahuan.

Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistemattis, logis, dan mendalam. Pemikiran demikian dalam filsafat sering kali disebut sebagi pemikiran radikal, atau berpikir sampai ke akar-akarnya. Secara. akademik, filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam.

semesta dan kedudukan manusia di dalamnya. Berfilsafat berarti menangkap sinopsis peristiwa-peristiwa yang simpang siur dalam pengalaman manusia. Suatu cabang ilmu pengetahuan mengkaji satu bidang pengetahuan manusia, daerah cakupannya terbatas. Filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia, berusah melihat segala yang ada ini sebagai satu kesatuan yang menyeluruh dan mencoba mengetahui kedudukan manusia di dalamnya.

Jadi, landasan filosofis sangat penting dalam pengembangan kurikulum dalam mendapatkan sebuah konsep atau rancangan yang dipikirkan secara sistematis, logis, dan mendalam sehingga mampu menuangkan konsep yang lebih baik. Filsafat juga memberikan landasan-landasan dasar bagi ilmu. Keduanya dapat memberikan bahan bagi manusia untuk membantu memecahkan berbagai masalaha dalam kehidupannya.

Ada tiga cabang besar filsafat, yaitu metafisika (yang membahas segala yang ada di alam ini), episteminologi (yang membahas kebenaran) dan aksiologi (yang membahas nilai.

1.      Metafisika

Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya.

2.      Epistemologi

Epistemologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan.

3.      Sosiologi

merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.

 

Filsafat membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk masalah-masalah pendidikan ini ynag disebut filsafat pendidikan . walaupun dilihat sepintas, filsafat pendidikan ini hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran filosogis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan tetapi antara keduanya yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat erat. Menurut donald burter, filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis. Bahkan menurut john dewey filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama, sebagaimana juga pendidikan menurut Dewey sama dengan kehidupan.

 

 

 

B.     Landasan psikologis

Pendidikan senantiasa berkaitan dengan perilaku manusia, dalam proses pendidikan itu terjasi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, baik lingkungan yang bersifat fisik maupun lingkungan social, melalui pendidikan diharapkan adanya perubahan perilaku peserta didik menuju kedewasaan, baik secara fisik, mental , emosional, moral, intelektualitas maupun social.

Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar-individu manusia, yaitu antar peserta didik dengan pendidik dan juga antar peserta didik dengan orang-orang yang lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, karena kondisi psikologisnya. Berkat kemampuan-kemapuan psikologis yang lebih tinggi dan kompleks inilah sesungguhnya mausia menjadi lebih maju, lebih banyak memiliki kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan dibandingkan dengan makhluk lainnya.

Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dengan lingkungannya, prilaku tersebut merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, prilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.

Kondisi psikologis setiap individu berbeda, karena peerbedaan tahap perkembangannya, latar belakang sosial-budaya, juga karena perbedaan faktor-faktor yang dibawa dari kelahirannya. Kondisi pun berbeda pula bergantung pada konteks, peranan, dan status individu diantar individu-individu yang lainnya. Interaksi yang tercipta dalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis para peserta didik maupun kondisi pendidiknya.

Peseta didik adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Tugas utama yang sesungguhnya dari para pendidik adalah membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Karakteristik perilaku individu pada tahap-tahap perkembangan, serta pola-pola perkembangan individu menjadi kajian psikologi perkembangan

Perkembangan atau kemajuan-kemajuan yang dialami anak sebagian besar terjadi karena usaha belajar, baik berlangsung melaui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan, maupun pemecahana



masalah. Pendidik atau guru melakukan berbagai upaya, dan menciptakan berbagi kegiatan dengan dukungan berbagai alat bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar mengajar yang mana membutuhkan studi sistematik dan mendalam. Studi demikian merupakan bidang pengkajian dari psikologi belajar.

Jadi, minimal ada dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik di dalam merumuskan tujuan, memilih, dan menyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.

1.      Psikologi Perkembangan

Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dewasa.

a.  Metode dalam psikologi perkembangan

Pengetahuan tentang perkembangan individu diperoleh meleui studi yang bersifat longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik atu studi kasus. Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dari saat lahir sampai dengan dewasa. Metode cross sectional yang dilakukan oleh Arnold Gessel dengan cara mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkatan usia, mencatat ciri-ciri fisik dan mental, pola-pola perkembangan dan kemampuan, serta prilaku mereka.

Studi psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund freud. Studi ini lebih banyak diarahkan mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya, terutama pada masa kanak-kanak. Karena dapat mengganggu perkembangan pada masa selanjutnya. Metode sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst. Ia mempelajari perkembangan anak dari tuntutan tugas-tugas yang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat. Ada seperangkat tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai individu dalam setiap tahap perkembangan. Sedangkan metode

lainnya ialah studi kasus. Dengan mempelajari kasus-kasus tertentu, para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak.

b. Teori Perkembangan

Dikenal ada tiga teori atau pendekatan tentang pendekatan perkembangan individu , yaitu pendekatan pentahapan (stage approach) atau perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. Kedua, pendekatan diferensial (diferential approach) melihat bahwa individu memiliki persamaan dan perbedaan yang dibedakan atas jenis kelamin, ras, agama, status sosial ekonomi dan sebagainya. Pengelompokan individu ada kalanya juga didasarkan atas kesamaan karakteristiknya. Ketiga, pendekatan isaftif ( Isaftif approach) berusaha melihat karakteristik individu yang memiliki sifat sifat individual yang hanya dimiliki oleh seorang individu dan tidak dimiliki oleh individu lainnya.

2.      Psikologi Belajar

Pengembangan kurikulum tidak akan terlepas dari teori belajar sebab, pada dasarnya kurikulum disusun untuk membelajarkan siswa. Banyak teori yang membahas tentang belajar sebagai proses perubahan tingkah laku namun demikian setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia.

Menurut aliran belajar kognitif-wholistik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan sosial antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon. Dengan demikian bahwa proses belajar sangat tergantung pada adanya rangsangan yang muncul dari luar diri atau faktor lingkungan. Menurut aliran behavioristik belajar, pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon.

Dengan demikian menurut aliran behavioristik proses belajar sangat bergantung pada adanya rangsangan atau stimulus yang muncul dari luar diri atau yang kita kenal dengan faktor lingkungan. Proses belajar dapat dipelajari dari kegiatan yang dapat dilihat. Pada penilaian kognitif belajar adalah kegiatan mental yang ada dalam diri setiap individu, kegiatan mental itu memang tidak dapat dilihat secara nyata akan tetapi menurut aliran ini, justru sesuatu yang ada dalam diri itulah yang menggerakan seseorang mencapai perubahan tingkah laku.

 

C.     Landasan sosiologis

Salah satu fungsi sekolah erat hubungannya dengan kebutuhan masyarakat. Sekolah sejak mulanya didirikan oleh masyarakat untuk kepentingan masyarakat demi kelanjutan hidup, perkembangan, dan kebahagiaan masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat mendirikan sekolah untuk kepentingan masyarakat agar hidup terus dan senantiasa meningkatan mutu kehidupannya. Faktor itulah yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum, disini juga harus dijaga keseimbangan antara kepentingan peserta didik sebagai individu dengan kepentingan peserta didik sebagai anggota masyarakat, dan ini dapat dicapai apabila dicegah kurikulum yang semata-mata bersifat sosiety-centered.

Kurikulum sekolah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan harus senantiasa relevan dengan situasi dan kondisi masyarakat masa kini. Bahkan tuntutan dan kemungkinan yang bakal terjadi pada masayarakat genenrasi yang

mendatang idealnya telah dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum, karena masyarakat senantiasa tumbuh dan berkembang berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum, dalam konteks ini pengembang kurikulum 2004, pada dasarnya sebagai upaya perubahan dalam menanggapi berbagai perkembangan dalam masyarakat, baik masyarakat dunia maupun masyarakat lokal yang saat ini berhadapan dengan perubahan yang begitu cepat (Muhamad, 2004).

Pada dasarnya, kurikulum harus mampu mengembangkan manusia sehingga mereka memiliki karakteristik dan sifat-sifat yang diperlukan baik oleh dirinya sebgai suatu pribadi maupun oleh masyarakat, bangsa, dan negara. Konsekuensinya, kurikulum dikembangan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat landasan sosial dan budaya merupakan salah satu landasan yang seharusnya menjadi kepedulian utama dalam proses pengembangan kurikulum.

Pendidikan adalah proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan adalah proses sosialisasi melalui interaksi insani menuju manusia yang berbudaya. Dalam konteks inilah anak didik dihadapkan dengan budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengan nilai budayanya, serta dipupuk kemampuan dirinya menjadi manusia yang berbudaya.

Disisi lain bahwa pendidikan merupakan usaha menyiapkan subjek didik (siswa) menghadapi kehidupan yang selalu mengalami perubahan dengan pesat dan bahkan sulit untuk ditebak. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang. Teknologi adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan ilmiah dan ilmu-ilmu lainnya untuk memcahkan masalah-masalah praktis. Ilmu dan teknologi tidak bisa dipisahkan. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat pesat seiring lajunya perkembangan masyarakat.

Dengan kedua alasan tersebut di atas, maka agar kurikulum sebagai program pendidikan maupun kurikulum sebagai pengalaman yang diterapkan dalam proses pembelajarn di setiap satuan pendidikan, selain menggunakan kedua landasan yang telah dibahas sebelumnya yaitu landasan filosofis dan psikologis, juga harus menggunakan asumsi-asumsi atau landasan lainnya yaitu landasan sosiologis dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

 

D.    Landasan organisatoris

 

Kurikulum merupakan rencana untuk kepentingan peserta didik, maka dari itu bahan atau isi pelajaran harus dituangkan dalam organisasi tertentu agar tujuan pendidikan dapat tercapai (Nasution, 1995) organisasi atau desain kurikulum berkaitan erat dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

Jenis-jenis organisasi kurikulum yang dimaksud sebagaimana dikemukakan berikut ini:

1.      Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran

Organisasi kurikulum jenis ini merupakan organisasi kurikulum yang paling tua, tetapi higga kini masih menduduki tempat yang paling dominan. Organisasi kurikulum yang subject centered ini memanfaatkan berbagai disiplin ilmu yang telah disusun secara logis sistematis oleh para ahli dan ilmuan dalam cabang ilmu masing-masing. Kurikulum ini bertujuan agar peserta didik mengenal hasil kebudayaan dan pengetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan sejak berabad-abad, agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali apa yang telah diperoleh generasi-genarasi terdahulu.

Kurikulum berdasarkan subjek atau mata pelajaran ini sangat populer dan mempunyai kedudukan yang kokoh sekalipun mengalami kritik-kritik yang tajam. Kurikulum ini bertahan terus sebab mempunyai ciri-ciri yang tidak dimiliki oleh kurikulum bentuk lain. Kurikulum ini memang banyak mempunyai keuntungan, antara lain sebagai berikut :

a.       Memberikan pengetahuan berupa hasil pengalaman generasi lampau yang dapat digunakan untk menafsirkan pengalaman seseorang.

 

b.      Mempunyai organisasi yang mudah sturkturnya, mudah diubah, diperluas atau dipersempit, mudah disesuaikan dengan perkembangan baru dalam ilmu pengetahuan.

c.       Mudah dievaluasi bila perlu dengan menggunakan tes objektif yang dapat dinilai secara otomatis dengan komputer sehingga memudahkan penilaian ujian atau tes secara massal.

d.      Telah diterima baik dan mudah dipahami oleh guru, orang tua, dan peserta didik.

e.       Mengandung logika tersendiri menurut disiplin masing-masing memberikan pengetahuan secara sistematis dan karena itu memberikan metode yang logis dan efektif untuk menguasi bahan pelajaran.

 

Selain memiliki keuntugan, organisasi kurikulum ini memiliki berbagai kelemahan, yang antara lain dikemukakan berikut ini:

a. Terdapat kesenjangan antara pengalaman peserta didk dan pengalaman umat manusia yang tersusun logis sistematis sehingga timbul bahaya verbalisme.

b.Sering pengetahuan yang logis-sistematis itu tidak fungsional dalam menghadapi masalah-masalah masyarakat dan tidak sesuai dengan minat, kebutuhan serta masalah-masalah peserta didik dalam hidupnya.

c. Kurikulum ini memberikan pengetahuan lepas-lepas, sering berupa fakta dan informasi yang perlu dihafal.

 

2.      Kurikulum Gabungan

Pada dasarnya merupakan modifikasi dari kurikulum mata pelajaran yang terpisah-pisah. Agar pengetahuan peserta didik tidak lepas maka diusahakan hubungan diantara dua mata pelajaran atau lebih yang dapat dipandang sebagai kelompok yang pada hakikatnya mempunyai hubungan yang erat. Dalam menghubungkan mata pelajaran yang satu dengan yang lain dengan memelihara identitas mata pelajaran, ada pula yang menyatupadukan mata pelajaran dengan menghilangkan identitas mata pelajaran sehingga menjadi bidang studi tertentu.(Nasution,1995).

 

a.    Macam macam cara berkorelasi:

Antara dua matapelajaran diadakan hubungan secara insidental,yakni kalau kebetulan ada kaitannya dengan mata pelajaran lain.

b.    Hubungan yang lebih erat terdapat apabila suatu pokok atau masalah tertentu diperbincangkan dalam berbagai mata pelajaran.

c.    Beberapa mata pelajaran disatukan, difusikan dengan menghilangkan batas masing masing.

d.    Kurikulum terpadu (integrated curriculum)

Ciri-ciri bentuk organisasi kurikulum terpadu (integrated curriculum) diantaranya adalah sebagai berikut:

1)      Berdasarkan filsafat pendidikan demokratis.

2)      Berdasarkan psikologis belajar Gestalt.

3)      Berdasarkan landasan sosiologis dan sosio-kultural.

4)      Berdasarkan kebutuhan perkembangan peserta didik.

5)      Ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada.

6)      Sistem pencapaiannya dengan menggunakan sistem pengajaran unit atau tematik.

7)      Peran guru sama aktifnya dengan peran peserta didik.

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya.

Namun demikian, persoalan mengembangkan isi dan bahan pelajaran serta bagaimana cara belajar siswa bukanlah suatu proses yang sederhana, sebab menentukan isi atau muatan kurikulum harus berangkat dari visi, misi, serta tujuan yang ingin dicapai; sedangkan menentukan tujuan erat kaitannya dengan persoalan sistem nilai dan kebutuhan masyarakat. Macam-macam landasan pengembangan kurikulum adalah landasan filosofis, landasan psikologis, landasan organisasi, landasan sosialisasi, landasan ilmu dan pengetahuan, landasan teori, dan landasan yuridis.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Sholeh. (2013). Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Lely, Halimah. (2010). Pengembangan Kurikulum. Bandung : RIZQI Press.

Sanjaya, Wina. (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Prenada Media Group.

Sukmadinata, Nana. (2008). Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH TEORI KEPEMIMPINAN

  TEORI KEPEMIMPINAN Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah PSIKOLOGI MANAJEMEN ...