Minggu, 28 Mei 2023

MAKALAH TEORI KEPEMIMPINAN

 

TEORI KEPEMIMPINAN

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

PSIKOLOGI MANAJEMEN

                                                                                  

                           

      

                                                                                

 

 

 

Dosen Pengampu:

Aris Imawan, M.Pd.I

 

Oleh:

DEWY MULYYA AYU KUSUMA

201812120380

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL FITHRAH

SURABAYA

2021-2022

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Seiring perkembangan zaman, kepemimpinan secara ilmiah mulai berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manajemen ilmiah yang lebih dikenal dengan ilmu tentangmemimpin. Hal ini terlihat dari banyaknya literatur yang mengkaji tentang kepemimpinandengan berbagai sudut pandang atau perspektifnya. Kepemimpinan tidak hanya dilihat dari bak saja, akan tetapi dapat dilihat dari penyiapan sesuatu secara berencana dan dapat melatihcalon-calon pemimpin.

Sejarah timbulnya kepemimpinan, sejak nenek moyang dahulu kala, kerjasama dan saling melindungi telah muncul bersama-sama dengan peradapan manusia. Kerjasamatersebut muncul pada tata kehidupan sosial masyarakat atau kelompok-kelompok manusiadalam rangka untuk mempertahankan hidupnya menentang kebuasan binatang danmenghadapi alam sekitarnya. Berangkat dari kebutuhan bersama tersebut, terjadi kerjasamaantar manusia dan mulai unsur-unsur kepemimpinan. Orang yang ditunjuk sebagai pemimpindari kelompok tersebut ialah orang-orang yang paling kuat dan pemberani, sehingga adaaturan yang disepakati secara bersama-sama misalnya seorang pemimpin harus lahir dariketurunan bangsawan, sehat, kuat, berani, ulet, pandai, mempunyai pengaruh dan lain-lain.Hingga sampai sekarang seorang pemimpin harus memiliki syarat-syarat yang tidak ringan,karena pemimpin sebagai ujung tombak kelompok.

 

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana penelitian tentang kepemimpinan ?

2.      Apa saja kriteria pemimpin atau manajer yang baik ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Kepemimpinan

ahmad rusli dalam kertas kerjanya pemimpin dalam Kepimpinan pendidikan menyatakan pemimpin adalah individu manusia yang diamanahkan memimpin subordinat (pengikutnya), ke arah mencapai matlamat yang ditetapkan. pemimpin adalah seorang pribadi yang memilikikecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan disatu bidang, sehingga diamampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktifitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, dan pada kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermatakan ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat.

Kepemimpinan dalam pandangan Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi[1] secara luas meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Selain itu juga mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasian dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memlihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok, perolehan dukungan dan kerjasama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi.

Sehubungan dengan efektivitas kepemimpinan, Barnard menjelaskan tentang fungsi kepemimpinan, serta mengembangkan konsep efektivitas dan efisiensi, yang dikutip dalam bukunya The Function of the Executive, yang menyatakan: ”Effectiveness relates to the achievement of organizational goals, and efficiency relates to the satisfaction of individual motives”.[2] Achua dan Lussier dalam Effective Leadership menyatakan bahwa para pemimpin yang efektif (effective leaders) memiliki sifat (traits) dan personalitas (personality profile).

Seorang pemimpin perlu memperhatikan tiga dimensi lain, yaitu dimensi 1) mempertahankan penekanan tujuan manajerial dan kejelasan, 2) memiliki kemampuan untuk memberikan dukungan yang diperlukan bagi individu untuk melakukan pekerjaan mereka dan mencapai tujuan mereka, dan 3) memfasilitasi bawahan untuk berinteraksi satu sama lainnya untuk menciptakan efisiensi, perasaan yang baik, dan kerja sama tim.[3]

Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :

1. Teori Kepemimpinan Sifat

Kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal “The Greatma Theory”. Dalam perkembangannya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat-sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat-sifat itu antara lain: sifat fisik, mental dan kepribadian.

4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain:

a)   Kecerdasan

Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi diatas kecerdasan rata-rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.

b)   Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial

Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.

c)    Motivasi diri dan dorongan berprestasi

Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.

 

d)   Sikap hubungan kemanusiaan

Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.

Perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecenderungan kearah 2 hal, yaitu:

Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan. Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat, bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.

Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.

Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.

Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.

Kepemimpinan mempunyai penekanan yang sama yaitu arah dan tujuan bagi organisasi. Kepemimpinan lebih banyak berfokus menciptakan visi ke depan bagi organisasi dan mengembangkan strategi jauh ke depan tentang perubahan-perubahan yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi tersebut bagi organisasi. Kepemimpinan lebih banyak memandang pada horizon yang luas (keeping eye on the horizon) dan menekankan hasil-hasil jangka panjang (long term result).

Tujuan kepemimpinan meliputi tujuan organisasi, tujuan kelompok, tujuan pribadi

anggota kelompok, dan tujuan pribadi pemimpin :

1.      Tujuan organisasi

Dimaksudkan untuk memajukan organisasi yang bersangkutan dan menghindari diri dari maksud-maksud yang irasional organisasi yang ada.

2.      Tujuan kelompok

Dimaksudkan untuk menanamkan tujuan kelompok pada masing-masing anggota sehingga tujuan kelompok dapat segera tercapai.

3.      Tujuan pribadi anggota kelompok

Maksudnya untuk memberi pengajaran, pelatihan, penyuluhan, konsultasi bagi tiap anggota kelompok sehingga anggota kelompok dapat mengembangkan pribadinya.

4.      Tujuan pribadi pemimpin

Maksudnya untuk memberi kesempatan pada pimpinan berkembang dalam tugasnya, seperti mempengaruhi, memberi nasehat, dan sebagainya.

 

 

B.     kriteria pemimpin atau manajer yang baik

Seorang pemimpin perlu membuat perencanaan yang menyeluruj bagi organisasi yang dijalani dan bagi dirinya sendiri selaku penanggung jawab untuk tercapainya tujuan organisasi tersebut.

Manfaat pemimpin dalam fungsi perencanaan adalah :

1.Perencanaan merupakan hasil pemikiran dalam pekerjaan untuk memutuskan apa yang akan di lakukan.

2.Perencanaan berari pemikiran jauh ke depan serta adanya keputusan-keputusan yang berdasarkan atas fakta yang diketahui.

3.perencanaan berarti penempatan diri ke situasi pekerjaan yang akan dilakukan dengan tujuan yang terapai.

Perencanaan meliputi dua hal yaitu perencanaan yang tertulis maupun tidak tertulis. Perencanaan yang tidak tertulis digunakan dalam waktu jangka pendek,pada keadaan yang darurat atau kegiatan yang terus menerus. Sedangkan perencanaan tertulis digunakan untuk mennetukan kegiatan-kegiatan yang akan dilalkukan dasar jaangka waktu yang cukup lama menggunakan prosedur-prosedur yang diperlukan.

Setiap perencanaan yang baik berisi maksud dan tujuan yang dapat dipahami dan cara atau prosedur untuk mencapai tujuan tersebut.

Seorang pemimpin yang sering dan senantiasa memandang kedepan berarti akan mampu membaw dan mendorong apa yang akan terjadi serta selalu waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga. Hal ini dapat memberikan jaminan bahwa jalannya proses yang dituju akan berlangsung terus menerus yanpa hambatan dan penyimpangan yang merugikan.

Seorang pemimpin harus senantiasa meneliti kemampuan pelaksanaan rencana. Dengan adanya pengawasan maka hambatan-hambatandapat segera diatasi sehingga kegiatan kembali berlangsung seperti biasanya.

Pengambilan keputusan merupakan fungsi kepemimpinan yang tidak mudah. Oleh karena itu banyak pemimpin yang ragu dan menunda dalam pengambilan keputusan. Metode pengambilan kepuusan dapat dilakukan secaa individu, kelompok, tim, komisi dan sebagainya. Untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga:

1. Teori keputusan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau berisiko, dalam konteks ini keputusan lebih bersifat perspektif daripada deskriptif

2. Pengambilan keputusan adalah proses mental dimana seorang manajermemperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya

3. Pengambilan keputusan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.

Kartini Kartono menjelaskan bahwa tipe kepemimpinan terbagi atas:

1. Tipe Kharismatik

Tipe ini mempunyai daya tarik dan pembawaan yang luar biasa, sehingga mereka mempunyai pengikut yang jumlahnya besar. Kesetiaan dan kepatuhan pengikutnya  timbul dari kepercayaan terhadap pemimpin itu. Pemimpin dianggap mempunyai kemampuan yang diperoleh dari kekuatan Yang Maha Kuasa.

2. Tipe Paternalistik

a. Menganggap bawahannya belum dewasa

b.bersikap terlalu melindungi

c. Jarang memberi kesempatan bawahan untuk mengambil keputusan

d.Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.

3. Tipe Otoriter

Pemimpin tipe otoriter mempunyai sifat sebagai berikut:

a. Pemimipin organisasi sebagai miliknnya

b.Pemimpin bertindak sebagai dictator

c. Cara menggerakkan bawahan dengan paksaan dan ancaman.

4. Tipe Militeristik

Dalam tipe ini pemimpin mempunyai siafat sifat:

a. menuntut kedisiplinan yang keras dan kaku

b.lebih banyak menggunakan system perintah

c. menghendaki keputusan mutlak dari bawahan

d.Formalitas yang berlebih-lebihan

e. Tidak menerima saran dan kritik dari bawahan

f.  Sifat komunikasi hanya sepihak

5. Tipe Demokrasi

Tipe demokrasi mengutamkan masalah kerja sama sehingga terdapat koordinasi pekerjaan dari semua bawahan. Kepemimpinan demokrasi menghadapi potensi sikap individu, mau mendengarkan saran dan kritik yang sifatnya membangun. Jadi pemimpin menitik beratkan pada aktifitas setiap anggota kelompok, sehingga semua unsure organisasi dilibatkan dalam akatifitas, yang dimulai penentuan tujuan,, pembuatan rencana keputusan, disiplin.

Kartini Kartono menjelaskan bahwa tipe kepemimpinan terbagi atas:

1. Tipe Kharismatik

Tipe ini mempunyai daya tarik dan pembawaan yang luar biasa, sehingga mereka mempunyai pengikut yang jumlahnya besar. Kesetiaan dan kepatuhan pengikutnya  timbul dari kepercayaan terhadap pemimpin itu. Pemimpin dianggap mempunyai kemampuan yang diperoleh dari kekuatan Yang Maha Kuasa.

2. Tipe Paternalistik

a. Menganggap bawahannya belum dewasa

b. bersikap terlalu melindungi

c. Jarang memberi kesempatan bawahan untuk mengambil keputusan

d. Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.

3. Tipe Otoriter

Pemimpin tipe otoriter mempunyai sifat sebagai berikut:

a. Pemimipin organisasi sebagai miliknnya

b. Pemimpin bertindak sebagai dictator

c. Cara menggerakkan bawahan dengan paksaan dan ancaman.

4. Tipe Militeristik

Dalam tipe ini pemimpin mempunyai siafat sifat:

a. menuntut kedisiplinan yang keras dan kaku

b. lebih banyak menggunakan system perintah

c. menghendaki keputusan mutlak dari bawahan

d. Formalitas yang berlebih-lebihan

e. Tidak menerima saran dan kritik dari bawahan

f. Sifat komunikasi hanya sepihak

5. Tipe Demokrasi

Tipe demokrasi mengutamkan masalah kerja sama sehingga terdapat koordinasi pekerjaan dari semua bawahan. Kepemimpinan demokrasi menghadapi potensi sikap individu, mau mendengarkan saran dan kritik yang sifatnya membangun. Jadi pemimpin menitik beratkan pada aktifitas setiap anggota kelompok, sehingga semua unsure organisasi dilibatkan dalam akatifitas, yang dimulai penentuan tujuan,, pembuatan rencana keputusan, disiplin.

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Untuk Menerapkan manajemen dalam suatu organisasi diperlukan adanya kepemimpinan yang ciri-cirinya berbeda dengan kepemimpinan yang tidak untuk meraih mutu. Manajemen juga mengenal standar kinerja, tetapi bedanya standar ini bisa ditingkatkan. Untuk tumanajemen memerlukan kepemimpinan yang khusus agar organisasi berjalan dan berkelanjutan.

Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.

Seorang pemimpin yang baik harus memiliki kepribadian, pengetahuan, spiritual, skill atau kemampuan, memiliki power atau dapat mempengaruhi orang lain, mau belajar, mendengar dan siap dikritik. Apabila ketujuh isi dari esensi atau hakikat kepemimpinan tersebut telah dimiliki oleh seorang pemimpin maka pemimpin tersebut akan arif dan bijaksana.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mujiono, Imam. 2002. Kepemimpinan dan Keorganisasian. Yogyakarta: UII Press

Rivai, Veithzal, 2007. Kepemimpinan dan perilaku, Jakarta

Irfandi Rahman, teori kepemimpinan dalam manajemen.

http://www.tugasku4u.com/2013/06/ teorikepemimpinanmanajemen

Purwanto, yadi, 2001, makalah manjemen PT Cendekia Informatika, Jakarta

James K Van Fleer, 1973, 22 manajemen kepemimpinan, Jakarta Timur:Mitra Usaha

 

 

 



[1] Veithzal Rivai dan Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: Rajawali Pers, hal. 2

[2] Chester I, Barnard, The Functions of the Executive (Cambridge, Mass: Harvard University Press, 1968), hal.55-61

[3] Cooper, James Fenimore., and John Nirenberg, “Leadership Effectiveness” Encyclopedia of Leadership. Ed.. Thousand Oaks, (CA: SAGE, 2004), hal.845-854 dalam SAGEReference Online. Web. 30 Jan. 2012

MAKALAH DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI

 

DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI

 

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

PERILAKU DAN BUDAYA ORGANISASI PENDIDIKAN

                                                                                  

                           

      

                                                                                

 

 

 

Dosen Pengampu:

Rony, M.Pd.I

 

Oleh:

DEWY MULYYA AYU KUSUMA

201812120380

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL FITHRAH

SURABAYA

2021-2022

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Manusia adalah salah satu dimensi penting dalam organisasi. Kinerja organisasi sangat tergantung pada kinerja individu yang ada di dalamnya. Seluruh pekerjaan dalam perusahaan itu, para karyawanlah yang menentukan keberhasilannya. Sehingga berbagai upaya meningkatkan produktivitas perusahaan harus dimulai dari perbaikan produktivitas karyawan. Oleh karena itu, pemahaman tentang perilaku organisasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerjanya.

Karyawan sebagai individu ketika memasuki perusahaan akan membawa kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan-pengharapan, kebutuhan dan pengalaman masa lalunya sebagai karakteristik individualnya. Oleh karena itu, maaf-maaf kalau kita mengamati karyawan baru di kantor. Ada yang terlampau aktif, maupun yang terlampau pasif. Hal ini dapat dimengerti karena karyawan baru biasanya masih membawa sifat-sifat karakteristik individualnya.

Selanjutnya karakteristik ini menurut Thoha (1983), akan berinteraksi dengan tatanan organisasi seperti: peraturan dan hirarki, tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab, sistem kompensasi dan sistem pengendalian. Hasil interaksi tersebut akan membentuk perilaku-perilaku tertentu individu dalam organisasi. Oleh karena itu penting bagi manajer untuk mengenalkan aturan-aturan perusahaan kepada karyawan baru. Misalnya dengan memberikan masa orientasi.

 

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Saja Dasar – Dasar Perilaku Individu?

2.      Bagaimana Perilaku Individu dan Perilaku Kelompok?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Dasar – Dasar Perilaku Individu

Seperti yang telah dikemukakan, setiap individu adalah unik. Perbedaan individual adalah atribut personal yang bervariasi dari satu orang ke orang lain. perbedaan individual dapat bersifat fisik, psikologis, dan emosional. Perbedaan individual yang mengategorikan seseorang tertentu membuat orang tersebut unik. Seperti yang kita lihat dalam bagian berikut ini, kategori-kategori dasar dari perbedaan individual meliputi kepribadian, sikap, persepsi, dan kreativtas. Namun, pertama kita perlu memerhatikan pentingnya situasi tersebut dalam menilai perilaku individual.[1]

Apakah perbedaan khusus yang mengategorikan seseorang tertentu baik atau buruk? Apakah perbedaan-perbedaan ini menambah atau mengurangi kinerja? Jawabannya, tentu saja bergantung pada keadaan. Seseorang dapat saja merasa tidak puas, menarik diri, dan bersikap negative dalam situasi kerja, tetapi merasa puas, ramah, da bersikap positif dalam situasi kerja yang lain. kondisi kerja, rekan kerja, dan kepemimpinan hanyalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi bagaimna kinerja dan perasaan seseorang terhadap pekerjaan. Jadi, apakah seorang manajer berusaha untuk menilai atau menghitung perbedaan individual di antara karyawannya, ia juga harus mempertimbangkan situasi dimana perilaku terjadi.

Apabila seorang manajer akan melakukan observasi dan analisis tentang perilaku individual, dan performanya, maka perlu diperhatikannya tiga kelompok variabel yang secara langsung memengaruhi perilaku individual, atau apa yang dilakukan seseorang karyawan (misalnya saja: menghasilkan output, menjual kendaraan mobil, menyervis mesin-mesin).

Adapun ketiga macam kelompok variabel yang dimaksud yaitu variabel-variabel:

a.       Individual

b.      Psikologikal

c.       Keorganisasian

Di dalam setiap kelompok terdapat pula sejumlah subkelompok. Sebagai contoh misalnya dapat dikemukakan bahwa variabel-variabel individual mencakup variabel-variabel kemampuan dan keterampilan, variabel-variabel latar belakang, dan variabel-variabel demografik.

Semua perilaku individu pada dasarnya dibentuk oleh kepribadian dan pengalamannya. Berikut ini akan diarahkan pada empat variable tingkat – individual, yaitu karakter biografis, kemampuan, kepribadian, dan pembelajaran.

1.    Karakter biogarfis

Karakter biografis merupakan karakteristik pribadi terdiri dari :

a.    Usia

b.    Jenis kelamin

c.    Status perkawinan

d.    Masa kerja

2.    Kemampuan

Kemampuan dibagi menjadi 2 : yaitu kemampuan fisik, adalah kemampuan tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa, dan kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental, menalar, dan memecahkan masalah. Individu dalam sebagian besar masyarakat menempatkan kecerdasan, dan untuk alasan yang tepat, pada nilai yang tinggi. Individu yang cerdas juga lebih mungkin menjadi pemimpin dalam suatu kelompok. Tujuh dimensi yang paling sering disebutkan yang membentuk kemampuan intelektual adalah : kecerdasan angka, pemahaman verbal, kecepatan persepsi, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi parsial.

3.    Kepribadian

Himpunan karakteristik dan kecendrungan yang stabil serta menentukan sifat umum dan perbedaan dalam perilaku seseorang.

4.    Pembelajaran

Setiap perubahan yang relative permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman.

 

1.    Variable – variable dependen

Variable dependen adalah faktor – faktor kunci yang ingin dijelaskan atau diperkirakan dan yang terpengaruh sejumlah factor lain (suatu respons yang dipengaruhi oleh suatu variabel bebas). Variable – variable dependen tersebut antara lan :

a.    Produktivitas, yaitu suatu ukuran kinerja yang mempengaruhi keefektifan dan efesiensi.

b.    Keabsenan (kemangkiran), yaitu gagal atau tidak melapor untuk bekerja.

c.    Pengunduran diri (keluar masuknya karyawan), yaitu penarikan diri secara sukarela dan tidak sukarela dari suatu organisasi.

d.    Kepuasan kerja, yaitu suatu sikap umum terhadap pekerjaan seseorang atau selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan banyaknya mereka yakini seharusnya mereka terima.

2.    Variable – Variabel Independen

a.    Variabel – variable individu: Usia, status perkawinan, jenis kelamin, masa kerja.

b.    Variable – variable kelompok: Variable – variable level system organisasi.

 

B.     Perilaku Individu dan Perilaku Kelompok

 

Manusia sebagai individu mempunyai watak, tempramen, sifat dan kepribadian yang berbeda-beda. Mengingat pada dasarnya setiap individu tidak mampu memenuhi kebutuhannya, maka untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan itu ia menjadi anggota dari berbagai kelompok, yang menurut pandanganya akan dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan dan dapat menyalurkan aspirasinya. Apabila individu itu masuk menjadi anggota suatu kelompok, maka segala sifat, watak, tempramen dan kepribadiannya akan ikut dibawa masuk kedalam kelompok. Dalam hal ini maka akan terbentuk perilaku yang pada awal mulanya berorientasi kepada perilaku individu. Perilaku yang demikian, yaitu perilaku kelompok yang berorientasi kepada perilaku individu, harus dikendalikan dan diarahkan ke perilaku yang berorientasi kelompok. Hal ini berarti perilaku individu harus diarahkan menuju kepentingan organisasi guna mencapai tujuan organisasi sehingga dalam perkembangan selanjutnya perilaku kelompok berkembang menjadi perilaku organisasi.[2]

Bagi seorang pemimpin organisasi (terutama organisasi modern), kegiatan mengarahkan perilaku individu ke dalam perilaku organisasi merupakan pekerjaan yang sangat sulit karena berhubungan dengan faktor-faktor kejiwaan. Meskipun demikian sudah menjadi keharusan bagi pemimpin organisasi untuk melakukannya, karena kegagalan dalam memberikan pengarahan akan mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan.

Untuk mengarahkan perilaku individu ke arah perilaku organisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1.    Memberikan pengertian bahwa kegagalan mencapai tujuan organisasi juga merupakan kegagalan bagi setiap individu dalam usaha memenuhi kebutuhan pribadinya. Sebaliknya apabila tujuan organisasi dapat tercapai secara efisien maka organisasi dapat diharapkan akan dapat memenuhi berbagai kebutuhan para anggotanya. Dengan demikian kegagalan dalam mencapai tujuan organisasi tidak hanya merugikan para pemimpin, tetapi juga merugikan para anggota organisasi, baik secara individu maupun secara kelompok.

2.    Dengan menjalankan teknik-teknik kepemimpinan yang cocok, misalnya dengan teknik persuasive, teknik penerangan, teknik propaganda dan teknik komunikasi.

3.    Menetapkan berbagai ketentuan dan peraturan yang harus ditaati setiap anggota, yang diikuti dengan pemberian sangsi bagi mereka yang melanggar ketentuan tersebut.

4.    Meningkatkan hubungan dalam organisasi khususnya hubungan personal yang serasi di kalangan para anggota, sehingga tercipta loyalitas yang tinggi, baik loyalitas antara pemimpin dengan bawahan dan sebaliknya maupun loyalitas antara sesama anggota/bawahan.

5.    Memberikan kesempatan kepada para anggota untuk memberikan saran-saran yang berhubungan dengan kepentingan organisasi. Jadi pemimpin lebih bersifat terbuka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

1.      Perbedaan individual adalah atribut personal yang bervariasi dari satu orang ke orang lain. perbedaan individual dapat bersifat fisik, psikologis, dan emosional.

2.      Apabila seorang manajer akan melakukan observasi dan analisis tentang perilaku individual, dan performanya, maka perlu diperhatikannya tiga kelompok variabel yang secara langsung memengaruhi perilaku individual: Individual, Psikologikal, Keorganisasian.

3.      Semua perilaku individu pada dasarnya dibentuk oleh kepribadian dan pengalamannya. Berikut ini akan diarahkan pada empat variable tingkat – individual, yaitu karakter biografis, kemampuan, kepribadian, dan pembelajaran.

4.      Variabel yang mempengaruhi perilaku individu antara lain: Variable – variable dependen, Variable – Variabel Independen.

5.      Apabila individu itu masuk menjadi anggota suatu kelompok, maka segala sifat, watak, tempramen dan kepribadiannya akan ikut dibawa masuk kedalam kelompok. Dalam hal ini maka akan terbentuk perilaku yang pada awal mulanya berorientasi kepada perilaku individu.

6.      Perilaku individu dapat dipengaruhi oleh effort (usaha), ability (kemampuan) dan situasi lingkungan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Gregory Moorhead. 2013. Perilaku Organisasi: Manajemen Sumber Daya Manusia dan  

           Organisasi. Salemba Empat: Jakarta.

Wursanto. 2003. Dasar-dasar ilmu organisasi. Po.ANDI: Yogyakarta.

Winardi. 2004. Manajemen Perilaku Organisasi. P

 

 



[1] Gregory Moorhead, Perilaku Organisasi: Manajemen Sumber Daya Manusia dan Organisasi, Salemba Empat, Jakarta, 2013, hal: 63.

[2] Wursanto, Dasar-dasar ilmu organisasi, Po.ANDI, Yogyakarta, 2003, hal: 277.

MAKALAH TEORI KEPEMIMPINAN

  TEORI KEPEMIMPINAN Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah PSIKOLOGI MANAJEMEN ...