PENDEKATAN-
PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
MANAJEMEN
KURIKULUM
Dosen
Pengampu:
Dr. Iksan, M.Pd.I.
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN
ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan yang mengenai tujuan, isi dan bahan
pelajaran serta cara-cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Sedangkan
pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam proses pendidikan.
Sasaran yang dicapai bukan semata-mata memproduksi bahan pelajaran melainkan lebih
dititik beratkan untuk meningkatkkan kualitas pendidikan. Pengembangan
kurikulum merupakan proses faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan
kurikulum. Karena pengembangan kurikulum merupakan alat untuk membantu guru
dalam melakukan tugasnya mengajarkan bahan, menarik minat dan memenuhi
kebutuhan masyarakat.
Kurikulum
merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang dinamis. Oleh karenanya
kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta masyarakat yang sedang
membangun. Hal ini dimaksudkan agar hasil pengembangan kurikulum tersebut
sesuai dengan minat, bakat kebutuhan peserta didik, lingkungan, kebutuhan
daerah, sehingga dapat mempelancar program pendidikan salam rangka perwujudan
dan pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Dalam
pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung
dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang,
seperti: politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur-unsur
masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Salah
satu upaya membina dan membangun generasi muda yang tangguh diantaranya adalah
melalui pendidikan, baik yang diberikan dalam lingkungan keluarga, melalui
pendidikan formal di sekolah, maupun pendidikan dalam lingkungan masyarakat.
Oleh karena itu sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus ditentukan oleh
adanya pelaksanaan kurikulum sekolah itu. Keberhasilan sumber daya manusia
dalam segi pendidikan sangat dipengaruhi oleh adanya pemahaman seluruh personal
di sekolah itu dalam melaksanakan kurikulum.
Kurikulum
pendidikan yang selalu berubah dan berkembang sesuai dengan kebutuhan
pendidikan yang mana seluruh komponen bangsa ikut memberikan dorongan bagi
penyelenggara pendidikan untuk selalu melakukan proses perbaikan, modifikasi,
dan evaluasi pada kurikulum yang digunakan.
Di
dalam proses pengendalian mutu pendidikan, kurikulum merupakan perangkat yang
sangat penting karena menjadi dasar untuk menjamin kompetensi keluaran dari
proses pendidikan. Kurikulum harus selalu diubah secara periodik untuk
menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan pengguna dari waktu ke waktu.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian pendekatan pengembangan kurikulum?
2. Pendekatan
apa saja yang digunakan dalam pengembangan kurikulum?
3. Bagaimanakah
pendekatan-pendekatan dalam pengembangan kurikulum?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
pengembangan kurikulum
Menurut Geane, Topter dan Alicia bahwa Pengembangan Kurikulum adalah
suatu proses dimana partisipasi pada berbagai tingkatan dalam membuat keputusan
tentang tujuan, bagaimana tujuan direalisasikan melalui proses belajar mengajar
dan apakah tujuan dan alat itu serasi dan efektif.
Pengembangan kurikulum adalah suatu proses yang merencanakan,
menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penelitian
terhadap kurikulum yang tidak berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi
kegiatan belajar mengajar yang lebih baik.
Dalam realitas sejarahnya, pengembangan kurikulum pendidikan Islam
tersebut ternyata mengalami perubahan-perubahan paradigma, walau dalam beberapa
hal tertentu paradigma sebelumnya tetap dipertahankan hingga sekarang.
Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum adalah perencanaan
kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa peserta didik ke
arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hingga mana perubahan
tersebut telah terjadi pada setiap peserta didik.
Sesungguhnya
pengembangan kurikulum adalah proses siklus yang tidak pernah berakhir. Proses
kurikulum tersebut terdiri dari empat unsur yaitu:
a.
Tujuan
Mempelajari dan menggambarkan semua sumber pengetahuan dan pertimbangan
tentang tujuan-tujuan pengajaran, baik yang berkenan dengan mata pelajaran (subject
course) maupun kurikulum secara menyeluruh.
b. Metode dan material
Mengembangkan dan mencoba menggunakan metode-metode dan material
institusi untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan pertimbangan pengajar
c. Penilaian (assesment)
Menilai keberhasilan pekerjaan yang telah dikembangkan dalam
hubungan dengan tujuan
d. Balikan (feedback)
Umpan balik dari semua pengalaman yang telah diperoleh, yang pada
gilirannya menjadi titik tolak bagi studi selanjutnya.
Dapat disimpulkan bahwa pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan
kurikulum oleh pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan
yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan
acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
B. Pengembangan
kurikulum
Dalam mengembangan kurikulum maka diperlukan
pendekatan-pendekatan sehingga kurikulum itu dapat sesuai dengan tujuan
pendidikan yang diharapkan. Yang dimaksud dengan pendekatan adalah cara kerja
dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti
langkah-langkah pengembangan yang sistematis agar memperoleh kurikulum yang
lebih baik.
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan
merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada
titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan
kurikulum. Pendekatan-pendekatan yang digunakan, yakni:
1.
Pendekatan Subjek
Akademik
Pada
pendekatan subjek akademik menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai
dasar organisasi kurikulum, misalnya matematika, sains, sejarah, geografi, atau
IPA, IPS, dan sebagainya seperti yang lazim didapati dalam system pendidikan
sekarang ini disemua sekolah dan perguruan tinggi.
(S.
Nasution, Kurikulum dan Pengajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 43.)
Yang
diutamakan dalam pendekatan ini adalah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin
ilmu tertentu. Karena setiap ilmu pengetahuan memiliki sistematisasi tertentu
dan berbeda dengan sistematisasi ilmu lainnya. Pengembagan kurikulum subyek
akademik dilakukan dengan cara menetapkan terlebih dahulu mata pelajaran apa
yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk (persiapan)
pengembangan disiplin ilmu.
Dari pendekatan subjek
akademik ini diharapkan agar peserta didik dapat menguasai semua pengetahuan
yang ada di kurikulum tersebut. Karena kurikulum sangat mengutamakan pengetahuan
maka pendidikan lebih bersifat intelektual. Kurikulum subjek akademik tidak
berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangannya
secara berangsur-angsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa.
Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada hal apa yang terpenting
dalam materi tersebut.
Sekurang-kurang
ada tiga pendekatan dalam perkembangan Kurikulum Subjek Akademis:
(Nana Syaodih sukmadinata, Pengembangan
Kurikulum: Teori dan Praktek (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004),
h. 83-84).
·
Pendekatan
pertama, melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan. Murid-murid belajar
bagaimana memperoleh dan menguji fakta-fakta dan bukan sekadar
mengingat-ingatnya.
·
Pendekatan
kedua, adalah studi yang bersifat integrative. Pendekatan ini merupakan respons
terhadap perkembangan masyarakat yang menuntut model-model pengetahuan yang
lebih komprehensif-terpadu. Pelajaran tersusun atas satuan-satuan pelajaran,
dalam satuan-satuan pelajaran tersebut batas-batas ilmu menjadi hilang.
Pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan atas fenomena-fenomena alam,
proses kerja ilmiah dan problema-problema yang ada.
·
Pendekatan
ketiga, adalah pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis.
Mereka tetap mengajar berdasarkan mata-mata pelajaran dengan menekankan
membaca, menulis, dan memecahkan masalah-masalah matematis. Pelajaran-pelajaran
lain seperti ilmu kealaman, ilmu sosial, dan lain-lain dipelajari tanpa
dihubungkan dengan kebutuhan praktis pemecehan masalah dalam kehidupan.
Dalam pendekatan pengembangan
kurikulum ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
a.
Tujuan
Tujuan kurikulum subjek
akademik adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa
menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”. Para siswa harus belajar
mengunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya, sehingga
diharapkan siswa mempunyai konsep dan cara yang terus dapat dikembangkan di
masyarakat yang lebih luas.
b.
Metode
Metode yang banyak digunakan
dalam pendekata subjek akademik adalah pendekatan metode ekspositori dan
inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa
sampai mereka kuasai.Dalam materi disiplin ilmu yang diperoleh,
dicari berbagai masalah penting, kemudian dirumuskan dan dicari cara
pemecahannya.
c.
Organisasi isi
Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum
subyek akademik. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya:
1)
Correlated
curriculum, adalah pola organisasi materi atau konsep yang dipelajari dalam
suatu pelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.
2)
Unified
atau Concentrated, adalah pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam
tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran
disiplin ilmu.
3)
Intregrated
curriculum, kalau dalam unified masih tampak warna displin ilmunya, maka dalam
pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebut sudah tidak kelihatan lagi.
Bahan ajar diintegrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan
tertentu.
4)
Problem
Solving curriculum, adalah pola organisasi isi yang beriisi topic pemecahan
masalah social yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan
ketrampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.
5)
Evaluasi
Kurikulum subjek akademik
menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat
mata pelajaran. Dalam bidang studi humaniora lebih banyak digunakan bentuk
uraian (essay test) dari tes objektif. Karena bidang studi ini
membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara
menyeluruh.
2.
Pendekatan
Humanistik
Pada pendekatan humanistik berpusat pada siswa, jadi student centered,
dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai
bagian integral dari proses belajar. Menurut Somantrie dalam Abdullah Idi,
bahwa pada pendekatan humanistik prioritasnya adalah pengalaman belajar yang
diarahkan terhadap tanggapan minat, kebutuhan dan kemampuan anak.
(Abdullah
Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik ( Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,
2011), h. 225 )
Permasalahan yang perlu disadari adalah bahwa materi bukanlah tujuan.
Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dengan
lancarnya proses transmisi nilai-nilai (dalam hal ini materi pelajaran yang
terformat dalam kurikulum), melainkan lebih dari sekadar hal itu. Pendidikan
humanistik menganggap materi pendidikan lebih merupakan sarana, yakni sarana
untuk membentuk pematangan humanisasi peserta didik, jasmani dan ruhani secara
gradual.
(Baharuddin
& Makin, Pendidikan Humanistik: Konsep, Teori, dan Aplikasi Praktis dalam
Dunia Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), h. 192)
Jadi dari hal tersebut dapatlah kita pahami bahwa pada pendekatan
humanistik tujuan dari pendidikan itu bukan hanya pada nilai-nilai yang dapat
dicapai pesera didik tapi lebih kepada pembentukan perubahan pada peserta
didik, baik secara jasmani maupun ruhani. Selanjutnya siswa hendaknya diturut
sertakan dalam penyelenggaraan kelas dan keputusan instruksional. Dan siswa
hendaknya turut serta dalam pembuatan, pelaksanaan, dan pengawasan peraturan
sekolah. Siswa hendaknya diperbolehkan memilih kegiatan belajar, dan siswa
boleh membuktikan hasil belajarnya melalui berbagai macam karya atau kegiatan.
Pendidikan
yang humanistik memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk hidup ciptaan
Allah dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup, ia harus
melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya. Sebagai pribadi,
manusia juga sebagai makhluk social yang memilki hak-hak sosial dan harus
menunaikan kewajiban-kewajiban sosialnya.
Dalam kurikulum humanistik, guru diharapkan dapat membangun hubungan
emosional yang baik dengan peserta didiknya, untuk perkembangan individu
peserta didik itu selanjutnya. Oleh karena itu, peran guru yang diharapkan
adalah sebagai berikut:(Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan
Kurikulum (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), h. 144)
a.
Mendengar
pandangan realitas peserta didik secara komprehensif
b.
Menghormati
individu peserta didik, dan
c.
Tampil alamiah, otentik, tidak dibuat-buat.
Tugas guru
dalam kurikulum humanistik adalah menciptakan situasi yang permisif dan
mendorong peserta didik untuk mencari dan mengembangkan pemecahan sendiri. Dan
tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran diri sendiri dan mengurangi
kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan. Dari sini jelaslah bahwa
pendekatan pengembangan kurikulum humanistik ini mengaharapkan perkembangan
diri siswa sehingga dapat menemukan kepribadiannya yang hidup ditengah-tengah
masyarakat.
3.
Pendekatan
Teknologis
Salah satu
ciri gloalisasi adalah pesatnya arus informasi melalui berbagai alat teknologi
seperti telepon, radio, televisi, teleconference sampai dengan satelit, dan internet.
Kehadiran teknologi perlu di manfaatkan oleh dunia pendidikan dalam upaya
pemerataan kesempatan, peningkatan mutu, relevansi dan efesiensi pendidikan.
Perspektif teknologi sebagai kurikulum ditekankan pada efektifitas
program metode dan material untuk mencapai suatu manfaat dan keberhasilan.
Teknologi memengaruhi kurikulum dalam dua cara, yaitu aplikasi dan teori.
Aplikasi teknologi merupakan suatu rencana penggunaan beragam alat dan media,
atau tahapan basis instruksi. Sebagai teori, teknologi digunakan dalam
pengembangan dan evaluasi material kurikulum dan instruksional.
Pandangan pertama menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi lebih diarahkan
pada bagaimana mengajarnya, bukan apa yang diajarkan. Sementara pandangan kedua
menyatakan bahwa teknologi diarahkan pada penerapan tahapan instruksional.
Penerapan
teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk,
yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware).
Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi
alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut
juga teknologi sistem (system technology).
Teknologi
pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan
alat-alat teknologi untuk menunjang efisiensi dan efektifitas pendidikan.
Kurikulumnya berisikan rencana-rencana penggunaan berbagai alat dan media, juga
model-model pengajaran yang banyak melibatkan penggunaan alat. Contoh-contoh
model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan film dan video,
pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul. Pengajaran dengan
bantuan komputer, dan lain-lain.
4.
Pendekatan
Rekonstruksionisme
Pendekatan
ini disebut Rekonstuksi sosial. Kurikulum rekonstruksi sosial sangat
memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik
perkembangan ekonomi. Banyak prinsip kelompok ini yang konsisten dengan
cita-cita tertinggi, contohnya masalah hak asasi kaum minoritas, keyakinan
dalam intelektual masyarakat umumnya, dan kemampuan menentukan nasib sendiri
sesuai arahan yang mereka inginkan.
Pengajaran
kurikulum rekonstruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-daerah yang
tergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. Pelaksanaan
pengajaran ini diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Sesuai
dengan potensi yang ada dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi-potensi
tersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah sekolah berusaha mengembangna
potensi tersebut. Di daerah pertanian misalnya maka sekolah harus mengembangkan
bidang pertanian, sementara kalau daerah industry maka yang harus dikembangkan
oleh sekolah adalah bidang industri. Sehingga kurikulum tersebut dapat memenuhi
kebutuhan masyarakatdaerah tersebut.
Kurikulum
rekonstruksi sosial bertujuan untuk menghadapka peserta didik pada berbagai
permasalahan manusia dan kemanusian. Para pendukung kurikulum ini yakin, bahwa
permasalahan yang muncul tidak harus diperhatikan oleh “pengetahuan sosial”
saja, tetapi oleh setiap disiplin ilmu.
Kegiatan
yang dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi sosial antara lain melibatkan:
a)
Survei kritis
terhadap suatu masyarakat
b)
Studi yang
melibatkan hubungan antara ekonomi lokal dengan ekonomi nasional atau
internasional
c)
Studi pengaruh
sejarah dan kencenderungan situasi ekonomi lokal
d)
Uji coba kaitan
praktik politik dengan perekonomian
e)
Berbagai
pertimbangan perubahan politik, dan
f)
Pembatasan
kebutuhan masyarakat pada umumnya.
Dari
pemikiran diatas, maka penyusunan dan pengembangan kurikulum harus bertitik tolak
dari problem yang dihadapi dalam masyarakat. Pendekatan kurikulum rekonstrksi
sosial ini selain menekan pada isi pembelajaran, sekaligus juga menekankan pada
proses pendidikan dari pengalaman belajar. Ini dikarenakan, pendekatan
rekonstruksi sosial berasumsi bahwa, manusia adalah makhluk sosial yang
sepanjang kehidupannya membutuhkan orang lain, selalu bersama, berinteraksi dan
bekerjasama.
Dari
pendekatan kurikulum rekonstruksi sosial ini, nantinya diharapkan peserta didik
mempunyai tanggung jawab dalam masyarakatnya guna membantu pemerintah dalam
perbaikan-perbaikan dalam masyarakatnya yang lebih baik lagi kedepannya.
5.
Pendekatan
Accountability (The Accountability Approach)
Accountability atau pertanggungjawaban lembaga pendidikan tentang
pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh
yang penting dalam dunia pendidikan. Namun, menurut banyak pengamat pendidikan
accountability ini telah mendesak pendidikan dalam arti yang sebenarnya menjadi
latihan belaka.
Accountability yang sistimatis yang pertama kalinya diperkenalkan
Frederick Taylor dalam bidang industri pada permulaan abad ini. Pendekatannya,
yang kelak dikenal sebagai “scientific management” atau manajemen ilmiah,
menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan pekerja dalam waktu
tertentu.
BAB
III
KESIMPULAN
1. Yang
menjadi kesimpulan dari makalah ini adalah Pendekatan pengembangan kurikulum
menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses
pengembangan kurikulum.
2.
Model pengembangan
kurikulum adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan
dalam melakukan pengembangan kurikulum tersebut. oleh karena itu harus
dikembangkan dengan beberapa pendekatan, diantaranya adalah pendekatan subyek
akademik, pendekatan humanistik, pendekatan teknologi dan pendekatan
rekonstruksi sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar