PENGADAAN
SARPRAS PENDIDIKAN
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
MANAJEMEN SARPRAS
Dosen
Pengampu:
H. M. FAIZ AL ARIF M.Pd.I.
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Disadari
bahwa pendidikan merupakan suatu investasi pembangunan sumber daya manusia yang
amat diperlukan dalam pembangunan ekonomi pendidikan kini semakin terbuka da
merata bagi setiap orang. Sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional
yang tertuang dalam undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 menyatakan, bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga yang demokrasi dan bertanggung
jawab.
Banyak
pihak yang menilai kenakalan siswa dipacu oleh dampak perkembangan tekhnologi,
informasi dan globalisasi yang cukup pesat. Dimana televisi setiap hari
menampilkan film-film, baik berupa sinetron Indonesia maupun televisi asing,
nonton VCD, tentu saja secara tidak langsung akan mempengaruhi pembentukan
prilaku manusia. Dampak yang dirasakan dari kenakalan siswa di sekolah adalah
oleh majelis guru yang seharian di sekolah melaksanakan kegiatan belajar
mengajar, karena dalam proses tersebut guru selalu mendapatkan ulah dan
rintangan dari siswa bertingkah macam-macam. Sehingga sering dijumpai siswa
selalu berurusan dengan wali kelasnya, dan orang tua tersebut harus dihadirkan
kesekolah hanya karena masalah kenakalan anaknya.
Untuk
mengembangkan potensinya di sekolah, siswa selain mengikuti kegiatan
intrakurikuler siswa juga mengikuti ekstBahteraurikuler. Kegiatan
intrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan setiap hari di sekoah dalam
proses belajar mengajar. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler adalah merupakan
satu jalur pembinaan kesiswaan dalam wadah organisasi kesiswaan atau osis.
Melalui kegiatan di sekolah dalam mengaktifkan para siswa, ini merupakan
persoalan yang sering menjadi perhatian oleh orang tua, dan guru-guru.
Kita
mengetahui bahwa anak lahir dalam keadaan fitroh dengan potensi yang yang
berwujud kemungkinan-kemungkinan ia pandai, baik budinya, teguh mentalitasnya
dan sebaliknya banyak dipengaruhi lingkungan nya dimana dia hidup. Tri Pusat
Pendidikan yaitu sekolah, keluarga dan masyrakat, masing-masing mempunyi
peranan dalam membentuk karakter. Sekolah dengan segala fasilitasnya beserta
kondisi yang ada tidak kecil pengaruhnya. Masyarakat dengan budayanya serta
dengan iklim yang ada dan juga dimana anak hidUp dan diasuh secara terus
menerus sehingga sulit memilih mana yang paling dominan dalam mempengaruhi
prilaku anak.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian kenakalan pada anak sekolah dasar (SD)?
2. Bagaimana
menangani kenakalan anak pada sekolah dasar(SD)?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kenakalan pada
Anak Sekolah Dasar (SD)
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa kenakalan dengan kata dasar nakal
adalah suka berbuat tidak baik, suka mengganggu, dan suka tidak menurut.
Sedangkan kenakalan adalah perbuatan nakal, perbuatan tidak baik dan bersifat
mengganggu ketenangan orang lain tingkah laku yang melanggar norma kehidupan
masyarakat.
Sedangkan menurut
sebahagian para ahli kenakalan anak merupakan kegagalan memperoleh respon yang
dapat diterima oleh masyarakat atau kegagalan memperoleh pembenaran moral dan
etis yang sesuai dengan budaya masyarakat. Dan sebab-sebab kegagalan tersebut bersumber
dari problem perkembangan.
Psikologi anak
yang menghadapi proses super–ego anak kearah sosialisasi yang tepat dan memadai
mungkin juga disebabkan tidak mampu menyesuaikan diri dengan standar prilaku
yang umum di masyarakat sekitarnya.
Dari definisi di
atas dapat disimpulkan bahwa Kenakalan adalah perilaku yang tidak sesuai dengan
norma dan nilai yang berlaku pada masyarakat tertentu, sehingga masyarakat
tidak menyukai dan tidak menyenangi perbuatan tersebut. Anak
memang tidak sama dengan orang dewasa, jalan pemikiran anak masih sering kali
dikuasai oleh emosinya yang mengarah pada keinginan – keinginan bermain.
Apabila setiap keluarga disoroti kemungkinan akan ada tidaknya persoalan dengan
anak, maka akan terlibat macam-macam derajat kesulitan. Bahkan mungking saja
bahwa tidak semua keluarga menyadari adanya suatu kesulitan. Permasalahan yang
di sebabkan oleh kenakalan anak, justru sering menyangkut pihak – pihak lain.
B. Penanganan
Kenakalan Anak Pada Sekolah Dasar (SD)
Kenakalan anak
menurut sebahagian para ahli merupakan kegagalan memperoleh respon yang dapat
diterima oleh masyarakat atau kegagalan memperoleh pembenaran moral dan etis
yang sesuai dengan budaya masyarakat. Dan sebab-sebab kegagalan tersebut
bersumber dari problem perkembangan.
Psikologi anak
yang menghadapi proses super – ego anak kearah sosialisasi yang tepat dan
memadai mungkin juga disebabkan tidak mampu menyesuaikan diri dengan standar
prilaku yang umum di masyarakat sekitarnya.
Jadi kenakalan
anak diukur dengan standar nilai dan norma-norma sosial. Mungkin satu bentuk
prilaku siswa dilingkungan masyarakat tidak sesuai dengan tolak ukur dari
kebudayaan atau tradisi yang berlaku, maka bentuk-bentuk prilaku tersebut di
pandang sebagai kenakalan.
Apa yang dianggap
oleh guru sebagai pelanggaran serius atau kelakuan yang tidak layak sering
berbeda dengan pendapat para ahli psikologi. Misalnya ciri-ciri non agresif
kurang gaul, rasa cemas, suka menyendiri,muram, dan lain sebagainya hal itu
dipandang serius bagi perkembangan pribadi anak oleh para ahli kesejahteraan
rohani atau “mental Hygiene”. Sebaiknya pelanggaran yang dipandang serius oleh
guru seperti menulis kata – kata jorok, membolos, menyontek, menentang,
merusak, tidak di anggap penting oleh para ahli psikologi. Guru terutama
mementingkan ketertiban kelas dan sekolah untuk mencapai potensi akademis yang
sebaik-baiknya. Sebalikya ahli mental hygiene mengutamakan perkembangan pribadi
anak agar menjadi individu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
sosialnya dengan penuh keperyaan akan dirinya.
Guru yang juga
memperhatikan aspek kepribadian anak hendaknya menerima pendirian para ahli
mental hygiene dan menjadikan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan akademis.
Ia akan lebih banyak membri tanggung jawab kepada anak-anak untuk memelihara
disiplin dan bekerja tanpa mengganggu orang lain. Ia juga akan memperhatikan
anak yang pendiam, penakut, mencoba memahami dan membantu mereka, dengan
demikian guru itu bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik.
Adapun sebab-sebab
kenakalan remaja dapat dibedakan atas dua sebab yaitu sebab intern dan sebab
ekstern. Sebab-sebab berupa cacat keturunan. Pembawaan negatif yang sukar
dikendalikan, pemenuhan, kebutuhan pokok yang tidak seimbang, lamanya
pengawasan diri, kurangnya penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baik tidak
memiliki kegemaran-kegemaran yang sehat.
Sebagai langkah
pertama yang digali dan dicari latar belakang kenakalan siswa yang berpangkal
pada siswa sendiri, faktor-faktor yang mendorong siswa, secara beruntun sesuai
dengan urgensinya, menurut pandangan bersama sejumlah tokoh pendidikan pada
dasrnya bersumber pada :
1. Lingkunga
rumah tangga,
2. Teman
buruk,
3. Kondisi
ekonomi,
4. Problem
waktu luang,
5. Faktor-faktor
eksternal lain,
6. Lemahnya
kepribadian lain,
7. Faktor-faktor
kesehatan,
8. Nyanyian
dan cerita cabul,
9. Sempitnya
ruangan kelas,
10. Kurang
tertarik pada salah satu mata pelajaran,
11. Kurangnya
saran-saran pemeliharaan individual sekolah,
12. Tidak
efektifnya metode yang diterapkan,
13. Tidak
terpenuhi praktek-prratek kondisi sosial,
14. Kurangnya
iklim-iklim kondusif bagi kecenderungan siswa.
Harus
ada koordinasi dan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah
kenakalan siswa yaitu sebagai berikut:
Pertama,
pendidikan keluarga pertama dan utama. Pendidikan keluarga merupakan hal
yang sangat peting karena disinilah pondasi dasar karakter anak terbentuk.
Kesibukan kerja, masalah ekonomi bukan jadi alasan untuk tidak memperhatikan
anak. Anak adalah amanah yang sangat berat diberikan tuhan. Jika anak menjadi
tidak bermoral atau tidak berahklak, maka orang tua dimintai pertanggung
jawaban terlebih dahulu diakhirat nanti. Orang tua harus ‘belajar’ mendidik
seorang anak atau dikenal dengan istilah ilmu parenting. Belajar disini bukan
harus dimaknai dengan sekolah dan membaca buku, tetapi belajar bisa dilakukan
dengan cara memberikan yang terbaik untuk calon generasi penerus, Kedua,
kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak keluarga. Kerberhasilan dalam dunia
pendidikan tidak bisa di bebankan oleh pihak sekolah saja, tetapi perlu
kerjasama dengan pihak keluarga dirumah. Karena waktu disekolah hanya kurang
lebih delapan jam saja, selebihnya waktu yang lama berada dirumah. Akan tetapi
tetap tanggungjawab sekolah untuk mewujudkan harapan orang tua. Program-program
sekolah harus sinergi dengan program dirumah. Ketiga, Peran dan fungsi guru
dioptimalkan. Guru sebagai ujuk tombak dilapangan dalam membentuk prilaku anak.
Sebagus apapun program mengatasi anak disekolah, apabila tidak didukung dengan
peran guru maka tidak ada hasilnya. Keempat, Peran guru bimbingan konseling
(BK). Guru Bimbingan konseling (BK) disekolah, yang dianggap memiliki
pengetahuan lebih dari sisi psikologi seorang anak, diharapkan mampu
menyelesaikan persoalan anak secara komperhensif. Jika terjadi pelanggaran maka
tidak sepatutnya langsung dihukum tetapi dicari akar masalahnya.
Ada beberapa
solusi yang dapat dilakukan oleh orang yang ada disekeliling anak maupun guru:
1. Berikan
pemahaman kepada orang tua tentang kasih sayang kepada anak
Tidak dapat
dipungkiri lagi bahwa kasih sayang merupakan hal yang sangat mendasar yang
dibutuhkan oleh seorang anak, perhatian dan kontrol orang tua sangat penting
didapatkan oleh anak karena dengan begitu anak akan merasa tercukupi dengan
kasih sayang dari orang tua, karena kenakalan yang dilakukan oleh anak adalah
mencari perhatian dari orang lain dengan berbagai cara.
2. Berikan
pemahaman kepada anak tentang perilakunya
Menurut Atif Abdul
Id (2008:28-29) menyatakan bahwa ada beberapa cara agar orang lain dapat
mendengarkan dan menuruti apa yang dibicarakan oleh kita:
a.
Jika memenuhi kebutuhan
mendasar orang lain akan penghargaan dan perhatian maka akan mendapatkan cinta
mereka.
b.
Berikan penghargaan
kepada orang tersebut
c.
Suara yang paling indah adalah
pujian dengan setulus hati, akan tetapi pujilah orang itu
sewajarnya karena yang berhak dipuji adalah Allah SWT.
Harus ada koordinasi dan kerjasama dari berbagai pihak
untuk mengatasi masalah kenakalan siswa yaitu sebagai berikut:
Pertama, pendidikan keluarga pertama dan
utama. Pendidikan keluarga merupakan hal yang sangat peting karena
disinilah pondasi dasar karakter anak terbentuk. Kesibukan kerja, masalah
ekonomi bukan jadi alasan untuk tidak memperhatikan anak. Anak adalah amanah
yang sangat berat diberikan tuhan. Jika anak menjadi tidak bermoral atau tidak
berahklak, maka orang tua dimentai pertanggung jawaban terlebih dahulu
diakhirat nanti. Orang tua harus ‘belajar’ mendidik seorang anak atau dikenal
dengan istilah ilmu parenting. Belajar disini bukan harus dimaknai dengan
sekolah dan membaca buku, tetapi belajar bisa dilakukan dengan cara memberikan
yang terbaik untuk calon generasi penerus.
Oleh karena itu, pola asuh zaman dulu, tidak bisa
disamakan dengan masa sekarang, problematika anak sangat beranekaragam, maka
dituntut menggunakan ‘jurus-jurus’ baru. Minimal yang dilakukan oleh
orang tua adalah memberikan tauladan yang baik terhadap anak, selalu mendo’akan
anak ketika sholat, dan memperhatikan pendidikan anak ketika mendapat tugas dari
sekolah.
Kedua, kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak
keluarga. Kerberhasilan dalam dunia pendidikan tidak bisa di bebankan oleh
pihak sekolah saja, tetapi perlu kerjasama dengan pihak keluarga dirumah.
Karena waktu disekolah hanya kurang lebih delapan jam saja, selebihnya waktu
yang lama berada dirumah. Akan tetapi tetap tanggungjawab sekolah untuk
mewujudkan harapan orang tua. Program-program sekolah harus sinergi dengan
program dirumah. Disekolah sudah ada komite sekolah, yang merupakan wakil wali
murid disekolah, sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan mensinergikan
program-program disekolah. Sayangnya disekolah-sekolah kebanyakan komite
sekolah hanya sebagai ’stempel’ untuk mencairkan sebuah dana dari lembaga
tertentu.
Komite sekolah seharusnya menjadi pengawas dan control
terhadap pihak sekolah jika melakukan pelanggaran atau tidak melaksanakan
program sekolah. Peran dan fungsi komite sekolah saat ini bisa dikatakan nol.
Maka perlu di revitalisasi peran dan fungsi komite sekolah.
Ketiga, Peran dan fungsi guru dioptimalkan. Guru
sebagai ujuk tombak dilapangan dalam membentuk prilaku anak. Sebagus apapun
program mengatasi anak disekolah, apabila tidak didukung dengan peran guru maka
tidak ada hasilnya. Saya ilustrasikan, Ibarat ada mobil yang bagus tapi tidak
ada yang menggerakan maka mobil tersebut akan mogok ditempat. Disinilah
pentingnya peran guru disekolah, selain mempunyai tugas untuk menstranfer ilmu
pengetahuan tetapi juga memiliki kewajiban untuk membentuk karakter anak.
Untuk membentuk karakter anak, maka guru-gurunya juga
harus berkarakter. Pribahasa orang jawa, guru itu digugu lan ditiru. Artinya
bahwa baik buruknya tingkah laku guru, secara tidak langsung akan dicontoh oleh
siswanya. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen bersama antara guru dan pengurus
sekolah. Untuk menyatukan satu komitmen antara guru dengan pengurus sekolah,
maka diperlukan keterbukaan, komunikasi yang itensif, persamaan visi bahwa
mencerdaskan dan membentuk ahklak anak adalah perbuatan yang yang mulia.
Keempat, Peran guru bimbingan konseling (BK). Guru
Bimbingan konseling (BK) disekolah, yang dianggap memiliki pengetahuan lebih
dari sisi psikologi seorang anak, diharapkan mampu menyelesaikan persoalan anak
secara komperhensif. Jika terjadi pelanggaran maka tidak sepatutnya langsung
dihukum tetapi dicari akar masalahnya.
Dalam hal pelaksanaan sebuah aturan butuh ketegasan
dan kebijaksanaan. Bersikap tegas, Jika anak-anak yang melanggar kategori berat
dan sering melakukanya, maka diberikan sanksi atau hukuman sesuai dengan
perbuatanya. Dengan diberi sanksi biar anak jerah tidak mengulang perbuatan itu
lagi. Bersikap bijaksana, jika pelanggaran anak tidak terlalu berat, maka perlu
pembinaan oleh BK dalam prilaku sehari-harinya disekolah.
Memang harus kita menyadari bahwa tanggung jawab
mengatasi masalah diatas adalah tanggung jawab bersama. Baik orang tua,
sekolah, guru dan semua pihak yang peduli terhadap masalah anak. Sehingga
problematika siswa yang terjadi diatas bisa dicegah dan terselesaikan.
Ada beberapa
solusi yang dapat dilakukan oleh orang yang ada disekeliling anak maupun guru
anak
1. Berikan
pemahaman kepada orang tua tentang kasih sayang kepada anak
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kasih sayang
merupakan hal yang sangat mendasar yang dibutuhkan oleh seorang anak, perhatian
dan kontrol orang tua sangat penting didapatkan oleh anak karena dengan begitu
anak akan merasa tercukupi dengan kasih sayang dari orang tua, karena kenakalan
yang dilakukan oleh anak adalah mencari perhatian dari orang lain dengan berbagai
cara.
2. Berikan
pemahaman kepada Anak tentang perilakunya
Menurut Atif Abdul Id (2008:28-29) menyatakan bahwa
ada beberapa cara agar orang lain dapat mendengarkan dan menuruti apa yang
dibicarakan oleh kita:
a. Jika
memenuhi kebutuhan mendasar orang lain akan penghargaan dan perhatian maka akan
mendapatkan cinta mereka.
b. Berikan
penghargaan kepada orang tersebut
c. Suara
yang paling indah adalah pujian dengan setuls hati, akan
tetapi pujilah orng itu sewajarnya karena yang berhak dipuji
adalah Allah SWT.
3. Berikan
Program Namimah kepada Anak
Menurut Abdul Rahmat namimah adalah program yang
memberikan suatu kesenangan kepada anak berupa kesenangan yang positif. Namimah
menjauhkan anak dari pergaulan yang negatif karena perhatian anak tertuju pada
kesenangan positifnya tersebut, kesenangan tersebut bisa berupa melukis,
belajar musik, olah raga dan masih banyak lagi.
Anak adalah titipan Allah SWT untuk dijaga dan
dirawat, maka sudah seharusnya anak diberikan pendidikan sebaik mungkin agar
masa depan agama dan Negara menjadi lebih baik.
Sabda Rasulullah
SAW:
Kewajiban Bapak kepada anaknya adalah memberikan dia
nama yang baik, mengajarkan dia kesopanan, menulis, berenang dan memanah,
kangan beri makan kecuali barang yang baik dan kawinkan dia apabila telah
dewasa (H.R Hakim)
Dari hadits tersebut bahwa kewajian orang tua adalah
mendidik anak supaya menjadi anak yang baik dan shaleh, jika orang tua tidak
mendidik anak dengan baik maka dosa yang besar yang didapatkan mereka.Semoga
Allah SWT merlindungi kita dari api neraka-NYA.
BAB
III
KESIMPULAN
Kenakalan siswa
adalah perbuatan anak yang melanggar norma-norma, baik norma social, norma
hukum, norma kelompok, mengganggu ketentraman masyarakat sehingga yang berwajib
mengambil tindakan pengasingan. Secara luas sebab- sebab kenakalan remaja dapat
kita bedakan menjadi dua, yaitu sebab intern dan sebab ekstern. Selain sebab-
sebab yang dapat menimbulkan kenakalan pada anak Sekolah Dasar, banyak faktor-
faktor yang mempengaruhi kenakalan diantaranya kemiskinan yang menerpa
keluarga, disharmoni antara bapak dan ibu, dan perceraian dan kemiskinan
sebagai akibatnya.
Faktor yang menyebabkan kenakalan anak pada sekolah
dasar yaitu: kurang kasih saying dari orang tua, pergaulan dengan teman yang
tdak sebaya, peran dari perkembangan iptek yang berdampak negatif, tidak adanya
bimbinagan kepribadian dari sekolah, dasar-dasar agama yang kurang, tidak
adanya media penyalur bakat dan hobinya, dan kebebaasan yang berlebihan.
Sehingga untuk menangani kenakalan anak pada sekolah
dasar yaitu pentingnya peran orang tua dalam memberikan perhatian dan kasih
saying kepada anak, adanya kerjasama antara keluarga atau orang tua anak dengan
sekolah, memberika arahan atau pemahaman terhadap perlakuan anak tersebut dan
memberikan kesibukan yang berupa penyaluaran bakat dan hobi yang disukai anak
agar mengurangi pergaulan yang berdampak negatif.
DAFTAR
PUSTAKA
Gunarso, Singgih D. 1983. Psikologi
Remaja. Jakarta: PT. Gunung Mulia Kwitang.
Jumhur & Moh Surya. Bimbingan
dan Penyuluhan. Bandung: PT. C.V. Ilmu.
Mappiare, Andi. 1982. Psikologi
Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar