DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
PERILAKU DAN
BUDAYA ORGANISASI PENDIDIKAN
Dosen
Pengampu:
Rony, M.Pd.I
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manusia
adalah salah satu dimensi penting dalam organisasi. Kinerja organisasi sangat
tergantung pada kinerja individu yang ada di dalamnya. Seluruh pekerjaan dalam
perusahaan itu, para karyawanlah yang menentukan keberhasilannya. Sehingga
berbagai upaya meningkatkan produktivitas perusahaan harus dimulai dari
perbaikan produktivitas karyawan. Oleh karena itu, pemahaman tentang perilaku
organisasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerjanya.
Karyawan
sebagai individu ketika memasuki perusahaan akan membawa kemampuan, kepercayaan
pribadi, pengharapan-pengharapan, kebutuhan dan pengalaman masa lalunya sebagai
karakteristik individualnya. Oleh karena itu, maaf-maaf kalau kita mengamati
karyawan baru di kantor. Ada yang terlampau aktif, maupun yang terlampau pasif.
Hal ini dapat dimengerti karena karyawan baru biasanya masih membawa
sifat-sifat karakteristik individualnya.
Selanjutnya
karakteristik ini menurut Thoha (1983), akan berinteraksi dengan tatanan
organisasi seperti: peraturan dan hirarki, tugas-tugas, wewenang dan tanggung
jawab, sistem kompensasi dan sistem pengendalian. Hasil interaksi tersebut akan
membentuk perilaku-perilaku tertentu individu dalam organisasi. Oleh karena itu
penting bagi manajer untuk mengenalkan aturan-aturan perusahaan kepada karyawan
baru. Misalnya dengan memberikan masa orientasi.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
Saja Dasar – Dasar Perilaku Individu?
2. Bagaimana
Perilaku Individu dan Perilaku Kelompok?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Dasar
– Dasar Perilaku Individu
Seperti yang telah dikemukakan, setiap
individu adalah unik. Perbedaan individual adalah atribut personal yang
bervariasi dari satu orang ke orang lain. perbedaan individual dapat bersifat
fisik, psikologis, dan emosional. Perbedaan individual yang mengategorikan
seseorang tertentu membuat orang tersebut unik. Seperti yang kita lihat dalam
bagian berikut ini, kategori-kategori dasar dari perbedaan individual meliputi
kepribadian, sikap, persepsi, dan kreativtas. Namun, pertama kita perlu
memerhatikan pentingnya situasi tersebut dalam menilai perilaku individual.[1]
Apakah perbedaan khusus yang
mengategorikan seseorang tertentu baik atau buruk? Apakah perbedaan-perbedaan
ini menambah atau mengurangi kinerja? Jawabannya, tentu saja bergantung pada
keadaan. Seseorang dapat saja merasa tidak puas, menarik diri, dan bersikap
negative dalam situasi kerja, tetapi merasa puas, ramah, da bersikap positif
dalam situasi kerja yang lain. kondisi kerja, rekan kerja, dan kepemimpinan
hanyalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi bagaimna kinerja dan perasaan
seseorang terhadap pekerjaan. Jadi, apakah seorang manajer berusaha untuk
menilai atau menghitung perbedaan individual di antara karyawannya, ia juga
harus mempertimbangkan situasi dimana perilaku terjadi.
Apabila seorang manajer akan melakukan observasi dan analisis tentang
perilaku individual, dan performanya, maka perlu diperhatikannya tiga kelompok
variabel yang secara langsung memengaruhi perilaku individual, atau apa yang
dilakukan seseorang karyawan (misalnya saja: menghasilkan output, menjual
kendaraan mobil, menyervis mesin-mesin).
Adapun ketiga macam kelompok variabel yang
dimaksud yaitu variabel-variabel:
a. Individual
b. Psikologikal
c. Keorganisasian
Di dalam setiap kelompok terdapat pula sejumlah subkelompok. Sebagai
contoh misalnya dapat dikemukakan bahwa variabel-variabel individual mencakup
variabel-variabel kemampuan dan keterampilan, variabel-variabel latar belakang,
dan variabel-variabel demografik.
Semua perilaku individu pada dasarnya dibentuk oleh kepribadian dan
pengalamannya. Berikut ini akan diarahkan pada empat variable tingkat –
individual, yaitu karakter biografis, kemampuan, kepribadian, dan pembelajaran.
1.
Karakter
biogarfis
Karakter biografis merupakan karakteristik pribadi terdiri dari :
a.
Usia
b.
Jenis
kelamin
c.
Status
perkawinan
d.
Masa kerja
2.
Kemampuan
Kemampuan dibagi menjadi 2 : yaitu kemampuan fisik, adalah kemampuan
tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik
serupa, dan kemampuan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk
melakukan berbagai aktivitas mental, menalar, dan memecahkan masalah. Individu
dalam sebagian besar masyarakat menempatkan kecerdasan, dan untuk alasan yang
tepat, pada nilai yang tinggi. Individu yang cerdas juga lebih mungkin menjadi
pemimpin dalam suatu kelompok. Tujuh dimensi yang paling sering disebutkan yang
membentuk kemampuan intelektual adalah : kecerdasan angka, pemahaman verbal,
kecepatan persepsi, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi
parsial.
3.
Kepribadian
Himpunan karakteristik dan kecendrungan yang stabil serta menentukan
sifat umum dan perbedaan dalam perilaku seseorang.
4.
Pembelajaran
Setiap perubahan yang relative permanen dari perilaku yang terjadi
sebagai hasil pengalaman.
1.
Variable –
variable dependen
Variable dependen adalah faktor – faktor kunci yang ingin dijelaskan
atau diperkirakan dan yang terpengaruh sejumlah factor lain (suatu respons yang
dipengaruhi oleh suatu variabel bebas). Variable – variable dependen tersebut
antara lan :
a.
Produktivitas,
yaitu suatu ukuran kinerja yang mempengaruhi keefektifan dan efesiensi.
b.
Keabsenan
(kemangkiran), yaitu gagal atau tidak melapor untuk bekerja.
c.
Pengunduran
diri (keluar masuknya karyawan), yaitu penarikan diri secara sukarela dan tidak
sukarela dari suatu organisasi.
d.
Kepuasan
kerja, yaitu suatu sikap umum terhadap pekerjaan seseorang atau selisih antara
banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan banyaknya mereka yakini
seharusnya mereka terima.
2.
Variable –
Variabel Independen
a.
Variabel –
variable individu: Usia, status perkawinan, jenis kelamin, masa kerja.
b.
Variable –
variable kelompok: Variable – variable level system organisasi.
B. Perilaku
Individu dan Perilaku Kelompok
Manusia sebagai individu mempunyai watak, tempramen, sifat dan
kepribadian yang berbeda-beda. Mengingat pada dasarnya setiap individu tidak
mampu memenuhi kebutuhannya, maka untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan itu
ia menjadi anggota dari berbagai kelompok, yang menurut pandanganya akan dapat
memenuhi berbagai macam kebutuhan dan dapat menyalurkan aspirasinya. Apabila
individu itu masuk menjadi anggota suatu kelompok, maka segala sifat, watak,
tempramen dan kepribadiannya akan ikut dibawa masuk kedalam kelompok. Dalam hal
ini maka akan terbentuk perilaku yang pada awal mulanya berorientasi kepada
perilaku individu. Perilaku yang demikian, yaitu perilaku kelompok yang
berorientasi kepada perilaku individu, harus dikendalikan dan diarahkan ke
perilaku yang berorientasi kelompok. Hal ini berarti perilaku individu harus
diarahkan menuju kepentingan organisasi guna mencapai tujuan organisasi
sehingga dalam perkembangan selanjutnya perilaku kelompok berkembang menjadi
perilaku organisasi.[2]
Bagi seorang pemimpin organisasi (terutama organisasi modern), kegiatan
mengarahkan perilaku individu ke dalam perilaku organisasi merupakan pekerjaan
yang sangat sulit karena berhubungan dengan faktor-faktor kejiwaan. Meskipun
demikian sudah menjadi keharusan bagi pemimpin organisasi untuk melakukannya,
karena kegagalan dalam memberikan pengarahan akan mengakibatkan kegagalan dalam
mencapai tujuan.
Untuk mengarahkan perilaku individu ke arah perilaku organisasi dapat
dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1.
Memberikan
pengertian bahwa kegagalan mencapai tujuan organisasi juga merupakan kegagalan
bagi setiap individu dalam usaha memenuhi kebutuhan pribadinya. Sebaliknya
apabila tujuan organisasi dapat tercapai secara efisien maka organisasi dapat
diharapkan akan dapat memenuhi berbagai kebutuhan para anggotanya. Dengan
demikian kegagalan dalam mencapai tujuan organisasi tidak hanya merugikan para
pemimpin, tetapi juga merugikan para anggota organisasi, baik secara individu
maupun secara kelompok.
2.
Dengan
menjalankan teknik-teknik kepemimpinan yang cocok, misalnya dengan teknik
persuasive, teknik penerangan, teknik propaganda dan teknik komunikasi.
3.
Menetapkan
berbagai ketentuan dan peraturan yang harus ditaati setiap anggota, yang
diikuti dengan pemberian sangsi bagi mereka yang melanggar ketentuan tersebut.
4.
Meningkatkan
hubungan dalam organisasi khususnya hubungan personal yang serasi di kalangan
para anggota, sehingga tercipta loyalitas yang tinggi, baik loyalitas antara
pemimpin dengan bawahan dan sebaliknya maupun loyalitas antara sesama
anggota/bawahan.
5.
Memberikan
kesempatan kepada para anggota untuk memberikan saran-saran yang berhubungan
dengan kepentingan organisasi. Jadi pemimpin lebih bersifat terbuka.
BAB
III
KESIMPULAN
1. Perbedaan individual adalah atribut personal yang
bervariasi dari satu orang ke orang lain. perbedaan individual dapat bersifat
fisik, psikologis, dan emosional.
2. Apabila seorang manajer akan melakukan observasi dan
analisis tentang perilaku individual, dan performanya, maka perlu
diperhatikannya tiga kelompok variabel yang secara langsung memengaruhi
perilaku individual: Individual, Psikologikal, Keorganisasian.
3. Semua perilaku individu pada dasarnya dibentuk oleh
kepribadian dan pengalamannya. Berikut ini akan diarahkan pada empat variable
tingkat – individual, yaitu karakter biografis, kemampuan, kepribadian, dan
pembelajaran.
4. Variabel yang mempengaruhi perilaku individu antara
lain: Variable – variable dependen, Variable – Variabel Independen.
5. Apabila individu itu masuk menjadi anggota suatu
kelompok, maka segala sifat, watak, tempramen dan kepribadiannya akan ikut
dibawa masuk kedalam kelompok. Dalam hal ini maka akan terbentuk perilaku yang pada
awal mulanya berorientasi kepada perilaku individu.
6. Perilaku individu dapat dipengaruhi oleh effort
(usaha), ability (kemampuan) dan situasi lingkungan.
DAFTAR
PUSTAKA
Gregory Moorhead. 2013. Perilaku
Organisasi: Manajemen Sumber Daya Manusia dan
Organisasi. Salemba Empat: Jakarta.
Wursanto. 2003. Dasar-dasar ilmu organisasi.
Po.ANDI: Yogyakarta.
Winardi. 2004. Manajemen Perilaku Organisasi.
P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar