PENGGUNAAN MEDIA
DAN KERJASAMA SEKOLAH
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
MANJEMEN
HUMAS DAN LAYANAN PUBLIK
Dosen
Pengampu:
Dr. Iksan, M.Pd.I.
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN
ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan
sekolah merupakan suatu lembaga untuk mengembangkan sumberdaya manusia yang
dilakukan secara sistematis, praktis dan berjenjang. Dalam pelaksanan
pembelajaran di sekolah, guru memiliki peranan yang sangat penting demi
tercapainya proses pembelajaran yang baik. Untuk meningkatkan mutu pendidikan,
seorang guru harus memiliki keaktifan dan kreatifitas yang tinggi dalam kegiatan
belajar mengajar, dengan begitu maka guru setidaknya bisa menciptakan suasana
belajar dengan baik sehingga peserta didik akan mempunyai minat belajar dan akan
memiliki respon belajar yang baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
yaitu hasil belajar yang memuaskan. (Sahidin & Jamil, 2013).
Proses
kegiatan pendidikan banyak faktor yang berperan dalam mencapai tujuannya
seperti persiapan, strategi, metode, model, pendekatan, dan media.
Pengaplikasian komponen-komponen tersebut dapat membantu terwujudnya tujuan
pembelajaran dan pemahaman peserta didik akan semakin bertambah. Pengajaran
akan lebih efektif apabila objek dan kejadian yang menjadi bahan pengajaran
dapat divisualisasikan secara realistik atau menyerupai keadaan yang
sebenarnya, namun tidaklah berarti bahwa media harus selalu menyerupai keadaan
yang sebenarnya. (Sudjana, 2009). Penggunaan model dan media yang berkembang
saat ini untuk melengkapi dan membantu guru dalam menyampaikan materi atau
informasi kepada siswa. Model dan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam
proses pembelajaran sangat banyak dan bervariasi. Dalam memilih model dan media
pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,
dan bentuk pengajaran (individu dan kelompok). Pada dasarnya tidak ada model
dan media pembelajaran yang paling baik, sebab setiap model dan media
pembelajaran yang digunakan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Oleh karena itu, model dan media yang digunakan dapat
disesuaikan dengan materi yang diajarkan (Inayah & Khoiri, 2018).
Model
dan Media pembelajaran menjadi sarana materi pelajaran yang tersusun dalam
kurikulum sedemikian rupa sehingga memberikan motivasi dalam pembelajaran agar
dapat dipahami dan menyerap semua pelajaran yang diberikan guru tersebut terutama
dalam pelajaran IPA. Dengan model dan media proses pembelajaran akan
tersampaikan secara efektif dan efesien, sehingga guru dituntun mampu menguasai
model dan media pengajaran yang akan diaplikasikan di dalam kelas. Salah satu
model dan media pembelajaran yang efektif dan efisien yaitu model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dengan menggunakan media visual.
Kehadiran
media mempunyai arti penting dalam proses pembelajaran. Ketidakjelasan yang
disampaikan oleh guru dapat dibantu dengan media sebagai sarana perantara.
Kerumitan materi yang akan disampaikan kepada peserta didik dapat
disederhanakan dengan bantuan media (Nurul,Jamzuri, & Dwi, 2013). Media
pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran merupakan suatu kenyataan
yang tidak bisa dielakkan keberadaannya. Maka dari itu untuk membantu kemudahan
dalam pemahaman materi ajar diperlukan media pembelajaran sebagai
perantara. Namun ketersediaan media pembelajaran di sekolah masih sangat minim.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
Pengertian media?
2. Apa
Fungsi Media Dan
Kerjasama Sekolah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Media
Penggunaan
media teknologi informasi saat ini bukanlah hal yang asing. Contohnya seperti
media televisi, radio, dan interconnection-networking (internet). Penggunaan
media internet juga sudah bukan hal yang baru bagi dunia pendidikan. Dilihat
dari banyak sekali sekolah yang menggunakan media internet sebagai media
pembelajarannya. Dengan munculnya teknologi-teknologi canggih seperti teknologi
internet yang memanfaatkan sinyal WirelessFidelity (Wi-Fi) yang saat ini telah
tersebar luas di berbagai wilayah di perkotaan, semakin membuat masyarakat
cepat beradaptasi dengan kecanggihan teknologi informasi saat ini. Dilihat dari
pengertian dari teknologi informasi sendiri menurut Sutarman (2009:13) yakni
“teknologi informasi adalah suatu studi, perancangan, pengembangan,
implementasi, dukungan atau manajemen sistem informasi berbasis komputer,
khususnya aplikasi perangkat lunak dan perangkat keras komputer”
Penggunaan
media teknologi informasi dalam lembaga pendidikan berfungsi untuk membantu
sekolah dalam hal komunikasi sekolah dengan orang tua atau masyarakat dan
kaitannya dengan manajemen hubungan sekolah dengan dunia usaha dan dunia
industri. Saat ini banyak lembaga pendidikan yang memanfaatkan media teknologi
informasi sebagai dasar pembelajaran (basic learning) di sekolah.
Seluruh peserta didik, guru dan staf mulai belajar bagaimana memanfaatkan media
teknologi informasi yang disediakan secara maksimal. Sekolah kejuruan dapat
pula memanfaatkan media teknologi informasi untuk kerjasama antara sekolah
dengan perusahaan atau hubungan industri. Pada hubungan industri ini, sekolah
tidak hanya bekerjasama secara eksternal juga internal. Tidak hanya sebagai
stakeholder tetapi juga berperan dalam pembelajaran praktik kerja industri peserta
didik sekolah menengah kejuruan. Banyak guru yang mengeluh apabila mendapatkan
posisi atau letak pembimbingan peserta didik praktik kerja industri yang dirasa
jauh, maka guru dapat memantau secara otomatis dengan media elektronik yang
tersedia. Sekolah perlu melakukan tahap awal kerja sama dengan cara membuat
kontrak atau perjanjian yang nantinya diwujudkan dalam bentuk Memorandum of
Understanding (MoU). Jika dirasa letak dari sekolah dan industri cukup
jauh, maka sekolah dapat memanfaatkan e-mail untuk mengirimkan proposalnya,
sehingga dapat menghemat pengeluaran sekolah dan juga membantu kelancaran
kerjasama sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri.
Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti
“tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah
perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach
& Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar
adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa
mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini,
guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus,
pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai
alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Batasan lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian di
antaranya akan diberikan berikut ini. AECT (Association of Education and
Communication Technology, 1977) memberi batasan tentang media sebagai segala
bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Di
samping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti
dengan kata mediator menurut Fleming (1987 : 234) adalah penyebab atau alat
yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah
mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang
efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar siswa dan isi pelajaran. Di
samping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem
pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai kepada
peralatan paling canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat
yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran.
Sebagian pendidik beranggapan bahwa
menggunakan media dalam dunia pendidikan sangatlah sulit tapi ternyata
pernyataan tersebut salah. Bagi pendidik yang termasuk orang awam media dan
alat peraga mutlak penting digunakan dalam pembelajaran di sekolah dasar!”Itu
kata kunci utama yang harus dipegang oleh guru pada saat memimpikan proses
pembelajaran yang berkualitas. Bagaimanapun, kita sepakat dengan para ahli
pendidikan dan psikologi yang menyatakan bahwa usia sekolah dasar adalah usia
dimana pemikiran peserta didik harus bersifat nyata, konkrit, dan operasional.
Fase yang dialami pada usia sekolah dasar membutuhkan segala sesuatunya mudah
dipahami dan dapat dibuktikan sehingga implikasinya bagi guru adalah berusaha
untuk menentukan bentuk nyata atau mendekati nyata dari konsep yang diajarkan.
Kesulitan yang biasa dialami peserta didik dalam memahami konsep adalah
verbalism, dimana mereka mengetahui konsep tetapi tidak paham makna.
Dalam konteks ini Winarno Surakhmad (1986 :
59) menyatakan bahwa : “Berdasarkan kenyataan bahwa setiap metode dapat
dipergunakan dengan baik ditangan guru yang arif, dapatlah ditetapkan hypotesa
bahwa sesungguhnya oleh setiap guru metode itu dapat dipertinggi efektifitasnya
dengan berbagai teknik. Satu diantara teknik yang lazim dipergunakan ialah
pemakaian alat-alat pembantu, baik sebagai alat peraga, maupun sebagai manusia sumber,
dan lain-lain lagi. Jadi pada prinsipnya, setiap penggunaan alat pembantu harus
dapat mempertinggi efisiensi metode utama yang di pakai mengajar artinya ialah
bahwa setiap pengguaan alat itu harus membawa guru dan murid lebih dekat lagi
pada tujuan yang ditetapkan.”
Media merupakan sarana atau saluran yang tepat
mempermudah penyampaian pesan kepada peserta didik. Alat peraga dapat
menunjukkan konsep lebih menjadi nyata. Untuk membedakan antara media dan alat
peraga dapat dilihat dari fungsi keduanya. Sesuatu disebut media jika dapat
mempermudah peserta didik memahami pesan. Dalam penggunaanya, kedua
istilah itu kadang dicampuradukkan, karena memang satu benda dapat berfungsi
sebagai media atau alat peraga sekaligus. Sebuah papan tulis dapat berfungsi
sebagai media saat digunakan guru untuk menunjukkan bangun-bangun segi empat.
Dilihat dari penggunaannya, media bersifat tidak langsung, sedangkan alat
peraga bersifat langsung. Fakta yang terjadi dilapangan menunjukkan adanya
kecenderungan guru enggan menggunakan media atau alat peraga saat menyampaikan
materi pembelajaran. Saat saya mencoba menelusuri penyebabnya, dari beberapa
responden guru yang saya temui pada diklat atau pelatihan mengemukakan beberapa
alasan, sebagian diantaranya; 1). Tidak semua materi pelajaran memiliki media
atau alat peraga yang relava ; 2) media dan alat peraga yang tersedia disekolah
sangat minim; 3) pengadaan media dan alat peraga membutuhkan biaya; 4) Media
atau alat peraga yang tersedia dari bantuan pemerintah sulit untuk dioperasikan
Permasalahan yang kerap dialami para guru dilapangan.
B. Fungsi
Media Dan
Kerjasama Sekolah
Berikut ini dijelaskan fungsi dan peran
dari media pembelajaran adalah:
1.
Menangkap
Suatu Objek atau Peristiwa-Peristiwa Tertentu
Peristwa-peristiwa
penting atau objek yang lengkap dapat diabadikan dengan foto, filim atau
direkam melalui video atau audio, kemudian peristiwa tersebut disimpan dan
dapat digunakan manakala diperlukan.
Guru dapat
menjelaskan proses terjadinya gerhana matahari yang langka melalui hasil
rekaman video. Atau bagaiman proses perkembangan ulat menjadi kupu-kupu,
perkembangan bayi dalam rahim dari mulai sel telur dibuahi sampai menjadi
embrio dan berkembang menjadi bayi. Demikian juga dalam pelajaran IPS , guru dapat
menjelaskan bagaimana terjadinya peristiwa proklamasi melalui tayangan filim
dan lain sebagainya.
2.
Memanipulasi
Keadaan, Peristiwa, atau Objek Tertentu
Melalui
media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak
menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme.
Misalkan untuk menyampaikan bahan pelajaran tentang sistem peredaran darah pada
manusia, dapat disajikan melalui filim. Selain itu, media pembelajaran juga
dapat membantu menampilkan objek yang terlalu besar yang tidak mungkin dapat
ditampilakan didalam kelas, atau menampilkan objek yang terlalu kecil yang
sulit dilihat dengan menggunakan mata telanjang.
Untuk
memanipulasikan keadaan, juga media pembelajaran dapat menampilkan suatu proses
atau gerakan yang terlalu cepat yang sulit diikuti, seperti gerakan mobil,
gerakan kapal terbang, gerakan-gerakan pelari dan lain sebagainya.
3.
Menambah
Gairah dan Motivasi Belajar Siswa
Penggunaan
media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhap
materi pembelajaran dapat lebih meningkat. Sebagi contoh, sebelum menjelaskan
materi pelajaran tentang polusi, untuk dapat menarik perhatian siswa terhadap
topik tersebut, maka guru memutar filim terlebih dahulu tentang banjir atau
tentang kotoran limbah industri dan lain sebagainya.
4.
Media
Pembelajaran Memiliki Nilai Praktis
Media
pembelajaran memiliki nilai praktis sebagai berikut:
Pertama, media dapat mengatasin keterbatasan
pengalaman yang dimiliki siswa. Kedua, media dapat mengatasi batas
ruang kelas. Hal ini terutama untuk menyajikan bahan belajar yang sulit
dipahami secara langsung oleh peserta. Dalam kondisi ini media dapat
berfungsi untuk:
a.
Menampilkan
objek yang terlalu besar untuk dibawa kedalamkelas
b.
Memperbesar
serta memperjelas objek yang terlalu kecil yang sulit dilihat oleh mata
telanjang,seperti sel-sel butir darah/molekul bakteri dan sebagainya
c.
Mempercepat
gerakan suatu proses gerakan yang terlalu lambat sehingga dapat dilihat dalam
waktu cepat
d.
Memperlambat
proses gerakan yang terlalu cepat
e.
Mempejela
unyi-bunyian yang sangat lemah sehingga dapat ditangkap oleh telinga
Ketiga, media dapat memungkinkan terjadinya
interaksi langsung antara perserta dengan lingkungan. Keempat,
media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan. Kelima, media
dapat menanamkan konsep dasar yang benar, nyata, dan tepat. Keenam,
media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan
baik. Ketujuh, media dapat membangkitkan keinginan dan minat
baru. Kedelapan, media dapat mengontrol kecepatan belajar
siswa. Kesembilan, media dapat memberikan pengalaman yang
menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak.
BAB
III
KESIMPULAN
1.
Kata media berasal dari
bahasa latin yang merupakan bentuk jamak kata medium. Secara harfiah, media
berarti perantara, yaitu perantara antara sumber pesan (a source) engan enerima
psan (a receiver). Jadi menurut Rossi dan Breidle mengemukakan bahwa media
pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat digunakan untuk tujuan pendidikan
seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya.
2.
Menurut Oemar
Hamalik ( 1985: 63 ) dan 4 klasifikasi media pengajaran yaitu:
a.
Alat-alat visual
yang dapat dilihat, misalnya filmstrip, transparansi, micro projectin, papan
tulis, buletin board, gambar-gambar, ilustrasi, chart, grafik, poster, peta dan
globe
b.
Alat-alat yang
bersifat auditif atau hanya dapat didengar misalnya: phonograph record,
transkripsi electris, radio, rekaman pada tape recorder
c.
Alat-alat yang
bisa dilihat dan didengar, misalnya filim dan televisi, benda-benda tiga
dimensi yang biasanya dipertunjukkan, misalnya: model, spicemens, bak pasir,
peta electris, koleksi diorama
d.
Dramatisasi,
bermain peranan, sosiodrama, sandiwara boneka, dan sebagainya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar