Minggu, 28 Mei 2023

MAKALAH NILAI DASAR PENDIDIKAN

 

NILAI DASAR PENDIDIKAN

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

MANAJEMEN STRATEGIK

                                                                                  

                           

      

                                                                                

 

 

 

Dosen Pengampu:

Aris Imawan, M.Pd.I

 

Oleh:

DEWY MULYYA AYU KUSUMA

201812120380

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL FITHRAH

SURABAYA

2021-2022

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

 

Pendidikan Nilai merupakan hal yang mutlak untuk dimiliki seseorang. pendidikan merupakan sarana yang menghantarkan manusia kepada nilia-nilai yang luhur, mengajarkan manusia norma dan nilai yang baik dalam melakukan sesuatu. tanpa pendidikan nilai, maka manusia tidak akan tahu bagaimana bersikap dan berbuat untuk melakukan kegiatan dengan sikap dan prilaku yang mempunyai nilai luhur.

 

Pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan Nasional merupakan sebuah kajian yang memberiklan pengetahuan bahwa pendidikan nilai merupakan dasar dan tolak ukur seseorang. untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai Pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan Nasional, maka penulis berinisiatif meluncurkan tema pada makalah ini dengan judul Pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan Nasional.

 

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian Nilai Dasar?

2.      Apa Nilai Dasar Pendidikan di Indonesia ?

3.      Apa Filosofi Hakekat Pendidikan ?

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Nilai Dasar

Kata “nilai” merupakan terjemahan dari kata “value” dalam bahasa Inggris dan berasal dari bahasa Latin “valere” atau bahasa Prancis Kuno “valoir” yang dalam makna denotatif berarti harga. Namun, ketika kata tersebut sudah dihubungkan dengan suatu obyek atau dipersepsi dari suatu sudut pandang tertentu, maka harga yang terkandung di dalamnya memiliki tafsiran bermacam- macam.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “nilai” memiliki arti sebagai berikut.1. Harga (dalam arti taksiran harga): sebenarnya tidak ada ukuran yang pasti untuk menentukan--intan; 2. Harga uang (dibandingkan dengan harga uang yang lain): --rupiah terus menurun; 3. Angka kepandaian; biji; ponten: rata-rata--mata pelajarannya adalah sembilan; sekurang-kurangnya--tujuh untuk ilmu pasti baru dapat diterima di akademi teknik itu; 4. Banyak sedikitnya isi; kadar; mutu: --gizi berbagai jeruk hampir sama; suatu karya sastra yang tinggi—nya; 5. Sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan: --tradisional yang dapat mendorong pembangunan perlu kita kembangkan; 6. Sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya: etika dan--berhubungan erat.[1]

Secara terminologi, definisi nilai sering dirumuskan dalam konsep yang berbeda-beda. Berikut ini dikemukakan empat definisi nilai yang masing-masing memiliki tekanan yang berbeda. Pertama, Rohmat Mulyana mengutip beberapa ahli menyatakan, pertama menurut Gordon Allport, “Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya”.[2] Kedua, menurut Kuperman, “Nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara ciri-ciri tindakan alternatif”.[3] Ketiga, menurut Hans Jonas, ia mendeskripsikan definisi nilai sebagai berikut.

Nilai adalah alamat sebuah kata ‘ya’ (value is address of a yes), atau jika diterjemahkan secara kontekstual, nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan dengan kata ‘ya’. Kata ‘ya’ dapat mencakup nilai keyakinan individu secara psikologis maupun nilai patokan normatif secara sosiologis, demikian pula kata ‘alamat’ dapat mewakili arah tindakan yang ditentukan oleh keyakinan individu maupun norma sosial.

Nilai-nilai dasar mencerminkan totalitas sebuah sistem. Dalam Encyclopedia Britanica disebutkan "valm is a determination or quality ofohject wch lnvolves any sort or appreciation or interest" (nilai adalah sesuatu yang menentukan atau suatu kuaHtas obyek yang meUbatkan suatu jenis atau apresiasi atau minat)/ Menurut Milton dan James Bank, nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang Hngkup sistem kepercayaan, dalam mana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan, dimilikj atau dipercayai.^ Dengan demikian, nilai merupakan preferensi yang tercermin dari prilaku seseorang, sehingga ia melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dalam kaitan ini, nilai adalah konsep, sikap dan keyakinan seseorang terhadap sesuatu yang dipandang berharga olehnya. Ketika nilai telah dilekatkan pada sebuah sistem, maka ia akan mencerminkan paradigma, jati diri dan grand concept dari sistem tersebut Oleh karcna itu, nilai-nilai dasar pendidikan Islam bermakna konsep-konsep pendidikan yang dibangun berdasafkan ajaran Islam sebagai landasan etis, moral dan operasional pendidikan. Dalam konteks ini, nilai-nilai dasar pendidikan Islam menjadi pembeda dari model pendidikan lain, sekaHgus menunjukkan karakteristik khusus.

Akan tetapi perlu ditegaskan, sebutan Islam pada pendidikan Islam tidak cukup dipahami sebatas "ciri khas". Ia berimpHkasi sangat luas pada seluruh aspek menyangkut pendidikan Islam, sehingga akan melahirkan pribadi-pribadi Islami yang mampu mengemban misi yang diberikan oleh AUah, yakni sebagai khaUfah dan 'abid.' AU' Ashraf menyebutnya, tht ultimate aim ofmuslim education lies in tbe reali%ation of compkte submission to Allah on the level of the individual, the community and humanity at largf (tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah mereaHsasikan kepasrahan penuh pada AUah pada tingkat individual, komunitas dan umat). Dengan demikian, pendidikan yang dijaIankan atas niki dasar Islam mempunyai dua orientasi. Pertama, ketuhanan, yaitu penanaman rasa takwa dan pasrah kepada AUah sebagai Pencipta yang tetceimin dari kesalehan ritual atau nilai sebagai hatnba AUah. Kedua, kemanusiaan, menyangkut tata hubungan dengan sesama manusia, Ungkungan dan makhluk hidup yang lain yang berkaitan dengan status manusia sebagai khalifatullahfi al ardh. Nilai itu sendiri selalu dihadapi oleh manusia dalam hidup kesehariannya. Setiap kah mereka hendak melakukan suatu pekerjaan, maka harus menentukan piHhan di antara sekian banyak kemungkinan, dan harus memiHh. Di sinilah mereka mengadakan penilaian.^ Sutan Takdir Aksyahbana mengemukakan pendapat bahwa nilai memiUki kekuatan integral untuk membentuk kepribadian, kehidupan sosial dan kemasyarakatan.^ Nilai-nilai dasar mencerminkan totalitas sebuah sistem. Dalam Encyclopedia Britanica disebutkan "va/M is a determintaian or quality ofobject u>ick involves any sorl or appndation or interest" (nilai adalah sesuatu yang menentukan atau suatu kuaUtas obyek yang meHbatkan suatu jenis atau apresiasi atau minat).' Menurut Milton danJames Bank, nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang Ungkup sistem kepercayaan, dalam mana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan, dimUiki atau dipercayai.'" Dengan demikian, nilai merupakan preferensi yang tercermin dari prilaku seseorang, sehingga ia melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dalam kaitan ini, nilai adalah konsep, sikap dan keyakinan seseorang terhadap sesuatu yang dipandang berharga olehnya.

 

 

B.     Nilai Dasar Pendidikan di Indonesia

Dalam konteks Pendidikan Nasional pengembangan pendidikan Nilai perlu diartikulasaikan sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa, yang bersifat kultural dan spiritual, hal ini tidak berarti harus mengabaikan landasan atau prinsip pengembangan pendidikan nilai yang bersipat umum seperti landasan filosofis, psikologis, sosial dan prinsip ketuhanan serta keterpaduan untuk memberikan makna atau penyadaran nilai dapat mengacu pada landasan yuridis dan religi yang berkembang dalam masyarakat kita.[4]

Landasan yuridis dalam penyelenggaraan pendidikan Nilai dalam konteks Pendidikan Nasional sebenarnya memiliki landasan hukum yang kuat. Idiologi negara dan undang-undang dan GBHN merupakan ketentuan yuridis yang banyak mengandung pesan nilai. Karena itu pendidikan nilai memiliki posisi yang cukup strategis dalam pendidikan Nasional.

 

Dalam Pancasila sebagai landasan ideal bangsa kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, Pancasila kaya dengan pesan nilai, moral dan etika asli bangsa, sebab itu landasan kehidupan berbangsa dan bernegara ini dapat dijadikan landasan yang kuat bagi penyelenggara pendidikan nilai di sekolah dikeluarga dan dimasyarakat. Secara relaktis sila-sila yang terdapat dalam Pancasila dengan jelas menempatakan nilai ketuhanan yang diikuti oleh nilai kodrat kemanusiaan, dan nilai etis filosofis persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial. Semua nilai yang terkandung dalam Pancasila tentunya bukan sekedar simbol-simbol tiorik saja, tetapi merupakan falsafah atau idiologi bangsa yang harus benar-benar direalisasikan dalam kehidupan berbagsa, bernegara dan beragama.

Dalam UUD 1945, dan dalam GBHN dengan jelas menggungkapkan lima dari tujuh karekter manusia Indonesia yang bersifat afektif yaitu: ketakwaan, budi pekerti, kepribadian, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air. Pengenmbangan lima aspek itu merupakan garapan utama pendidikan nilai, disamping membantu bangsa agar menjadi cersdas dan trampil. Undang-undang pendidikan Nilai No. 2 Tahun 1989 maka status dan peran pendidikan nilai semakin kuat. Pengembangan aspek afektif dalam pendidikan formal yang semakin dituntut seimbang dengan dua aspek lainnya, yaitu kognitif dan psikomotorik, sekaligus memperkuat posisi pendidikan nilai dalam konteks Pendidikan Nasional.

Belakangan ini kita dibuat menangis dengan hampir runtuhnya karakter bangsa Indonesia. Mulai dari kasus korupsi yang sulit diberantas, kurang pekanya generasi muda terhadap lingkungan sekitar, sampai masalah kediplinan yang semakin payah. Sebagai seorang pendidik, tentu penulis tak akan berpangku tangan saja menghadapi kenyataan ini. Perlu kiranya kita menyatukan langkah untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar pendidikan karakter bangsa.

 Ada 16 nilai-nilai Dasar Pendidikan Karakter bangsa yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah kita. Ke-16 nilai dasar itu dapat diintegrasikan dalam berbagai kegiatan akademik dan kesiswaan. Dari sanalah kita dapat  melakukan pembinaan peserta didik. Nilai -nilai dasar tersebut adalah :

1.      Bertakwa (religious)

Para guru harus mampu mengarahkan anak didiknya menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mampu melaksanakan perintah-Nya, dan mampu pula menjauhkan segala larangan-Nya. Orang yang bertakwa akan sadar-sesadarnya bahwa dirinya hanya hamba Tuhan yang harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukannya di dunia. Kegiatan seperti tadarus dan sholat berjamaah adalah merupakan contoh dari kegiatan meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik.

 

2.      Bertanggung jawab (responsible)

Para guru harus mampu mengajak para peserta didiknya untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab. Mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya dan berani menanggung segala resiko dari apa yang telah diperbuatnya. Rasa tanggung jawab ini harus ada dalam diri para peserta didik kita. Kegiatan seperti pentas seni adalah merupakan salah satu bentuk dimana siswa atau peserta didik diberi tanggung jawab dalam mengelola sebuah kegiatan seni.

 

3.      Berdisiplin (dicipline)

Para guru harus mampu menamkan disiplin yang tinggi kepada para peserta didiknya. Kedisiplinan harus dimulai pada saat masuk sekolah. Budaya tepat waktu harus ditegakkan. Siapa yang terlambat datang ke sekolah harus terkena sanksi atau hukuman sesuai dengan peraturan tata tertib yang berlakuk di sekolah. Sioswa harus diajarkan disiplin, dengan demikian dia kan terbiasa disiplin dalam kehidupannya. Contoh yang paling mudaha adalah tepat waktu. Siswa harus dididik untuk mampu tepat waktu.

 

4.      Jujur (honest)

Kejujuran saat ini merupakan hal yang langka. Para guru harus mampu memberikan contoh kepada para peserta didiknya untuk mampu berlaku jujur. Ketika jujur diajarkan di sekolah-sekolah kita, maka para peserta didik tak akan berani berbohong karena telah terbiasa jujur. Kebiasaan jujur ini jelas harus menjadi fokus utama dalam pendidikan di sekolah. Sebab kejujuran telah menjadi barang langka di negeri ini. Timbulnya korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah akibat dari karakter jujur yang kurang terpelihara dengan baik.

 

5.      Sopan (polite)

Mampu berperilaku sopan adalah dambaan setiap insan. Dengan berlaku sopan orang lain akan segan kepada kita. Karakter sopan ini harus dilatihkan kepada peserta didik, dan dicontohkan bagaimana cara berlaku sopan kepada orang lain. Terutama kepada mereka yang telah lebih tua daripadanya. Tentu karakter kesopanan harus diperlihatkan dan dijunjung tinggi. Seringkali kita melihat karkater anak sekolahan yang kurang sopan. Baik dalam berbicara mamupun bertindak. Hal inilah yang harus kita rubah dalam pendidikan karakter bangsa.

 

6.      Peduli (care)

Peserta didik harus dilatih untuk peduli kepada sesama. Belajar melakukan empati kepada orang lain dengan rasa kepedulian yang tinggi. Ketika kita mau peduli, maka saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan akan terbantu. Di situlah akhirnya jiwa kepedulian kita teruji. Banyaknya musibah yang silih berganti di negeri ini, baik musibah bencana alam maupun bencana lainnya harus membuat kita semakin peduli dengan bangsa sendiri.

 

 

7.      Kerja keras (Hard work)

Peserta didik harus dilatih untuk mampu bekerja keras. Bukan hanya mampu bekerja keras, tetapi juga mampu bekerja cerdas, ikhlas, dan tuntas. Dengan begitu kerja keras yang dilakukannya akan bernilai ibadah di mata Tuhan pemilik langit dan bumi. Orang yang senang bekerja keras pastilah akan menuai kesuksesan dari apa yang telah dikerjakannya. Orang yang bekerja keras pasti mampu meujudkan impiannya menjadi kenyataan.

 

8.      Sikap yang baik (good attitude)

Peserta didik harus memiliki sikap yang baik. Dengan sikap yang baik akan terlihat karakter dari peserta didik tersebut. Sikap yang baik kepada orang lain harus dicontohkan oleh guru kepada para peserta didiknya. Dengan begitu orang lain akan menaruh hormat kepadanya karena sikapnya yang baik. Perilaku orang dapat dilihat dari sikap baik yang dimunculkannya. Oleh karenanya sikap yang baik harus diajarkan para guru dalam pendidikan karakter di sekolah.

 

9.      Toleransi (tolerate)

Peserta didik harus dilatih agar mampu bertoleransi dengan baik kepada orang lain. Toleransi harus dipupuk sejak dini, apalagi kepada hal-hal yang bernuansa Suku, agama, Ras, dan antar golongan (SARA). Perlu tolerasi yang tinggi agar mampu memahami kalau kita berbeda tetapi hakekatnya tetap satu juga. Toleransi antar umat beragama adalah salah satu bentuk toleransi yang paling jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari.\

 

10.  Kreatif (Creative)

Peserta didik harus diajarkan agar mampu kreatif. Dengan begitu dia telah terbiasa menciptakan sesuatu yang baru. Guru kreatif akan menghasilkan peserta didik yang kreatif pula. Ajarkan peserta didik kita agar mampu kreatif dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Anak kreatif tidak lahir begitu saja. Dia lahir dari proses pendidikan yang berkelanjutan.

 

11.  Mandiri (independent)

Anak yang terbiasa mandiri biasanya akan jauh lebih berhasil hidupnya daripada anak yang kurang mandiri. Mandiri bukan hanya mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tetapi juga mampu membawa dirinya untuk tidak bergantung penuh kepada orang lain. Kemandirian harus ditanamkan kepada para peserta didik kita bila ingin anak menjadi mandiri.

 

12.  Rasa Ingin Tahu (curiosty)

Setiap anak pasti memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tentu sebagai guru kita dituntut untuk mampu mengarahkan rasa ingin tahu mereka kearah hal-hal yang positif seperti rasa ingin tahu mereka tentang bumi dan antariksa yang ilmunya terus berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi. Bila peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, amak itu adalah modal dasar untuk menjadi seorang ilmuwan muda dan kaya. Rasa ingin tahu ini harus terus dimotivasi agar para peserta didik kita mampu juga meneliti di usia remaja.

 

13.  Semangat Kebangsaan (Nationality Spirit)

Para peserta didik harus didorong memiliki semangat kebangsaan. Dengan begitu akan ada rasa bangga kepada bangsanya sendiri. Contoh yang paling mudah dari semangat kebangsaan adalah sepakbola. Dengan permainan sepakbola, para pemain dan penonton dituntut harus memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Apalagi bila kita bermain di negeri orang lain.

 

14.  Menghargai (Respect)

Peserta didik harus mampu menghargai hasil karya orang lain yang dilihatnya. Dengan begitu ada penghargaan yang diberikan olehnya kepada orang lain. Saling menghargai merupakan cerminan budaya bangsa yang harus dilestarikan secara turuh temurun. Mengharagai pendapat orang lain adalah salah satu contoh dari karakter saling menghargai sesama.

 

15.  Bersahabat (Friendly)

Ketika peserta didik sudah terbiasa bersahabat, maka akan terasalah pentingnya sebuah persahabatan. Bersahabat adalah karakter penting yang harus dimiliki oleh para peserta didik. Kita harus memupuk rasa persaudaraan yang tinggi. Bila kita saling bersahabat, maka kita akan semakin dekat dan akrab. Dengan begitu akan semakin dekatlah hati kita masing-masing. Persahabatan bagai kepompong yang akan mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Sungguh indahnya sebuah persahabatan.

 

16.  Cinta damai (Peace Ful)

Peserta didik harus cintai damai. Cinta mencintai antar sesama anak manusia. Kita semua bersaudara dan tidak selayaknya kita saling bertengkar. Kita cinta damai, tepai kita pun cinta kemerdekaan. Siapa saja bangsa yang mengusik kemerdekaan kita, maka kita akan melawannya dengan gagah perkasa karena kita lebih mencintai bangsa sendiri.

 

Demikianlah nilai-nilai dasar pendidikan karakter bangsa yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah kita. Semoga kita semua dapat menyiapkan para generasi penerus bangsa menjadi calon pemimpin masa depan yang memiliki karakter yang penulis jabarkan di atas serta mempunyai kemampuan intektual yang tinggi. Kita pun berharap akan muncul pemimpin masa depan yang berkarakter, berintegrasi yang tinggi dan cerdas dalam melihat perkembangan sejarah bangsa.

 

C.    Filosofi Hakekat Pendidikan

Pengertian filsafat Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari sekaligus bisa melahirkan pengetahuan baru, sains dan melahirkan cabang ilmu baru. Dilihat dari proses kerjanya, filsafat Pendidikan sebagai proses berfikir manusia yang bertujuan untuk memperoleh kearifan dan kebijakan.

Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan sepanjang hidup. Pendidikan merupakan suatu proses interaksi manusiaei antara pendidik dan subjek didik untuk mencapai tujuan Pendidikan yang mana prosesnya berlangsung dalam suatu lingkungan tertentu. 

Hakikat pendidikan tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab urusan utamapendidikan adalah manusia. Beberapa asumsi dasar yang berkenaan dengan hakikat Pendidikan tersebut dinyatakan oleh Raka Joni sebagai berikut:

1.      Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan tenaga didik atau guru.

2.      Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkunganhidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.

3.      Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.

4.      Pendidikan berlangsung seumur hidup.

5.      Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmupengetahuan dan teknologi dalam pembentukan manusia seutuhnya.

 

Pada dasarnya pendidikan harus dilihat sebagai proses dan sekaligus sebagaitujuan. Pendidikan sebagai kegiatan kehidupan dalam masyarakat mempunyai artipenting baik bagi individu maupun masyarakat. Sebab antara masyarakat dan invidusaling berkaitan.

Pendidikan sebagai gejala sosial dalam kehidupan mempunyai landasan individual, sosial, dan kultural. Pada skala mikro, pendidikan bagi individu dan kelompok kecil berlangsung dalam skala relatif terbatas, seperti antara sahabat, antara suami dan istri dalam keluarga dan lain sebagainya. Pendidikan dalam skala mikro diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang potensinya dan perangkat pembawaannya lebih baik dan lengkap.

Pada skala makro, pendidikan berlangsung dalam ruang lingkup yang besar seperti dalam masyarakat antar desa, antar sekolah dan lain sebagainya. Dalam skala makro, masyarakat melaksanakan pendidikan bagi regenerasi sosial, yaitu pelimpahan harta budaya dan pelestarian nilai-nilai luhur dari suatu generasi kepada generasi muda dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya pendidikan dalam arti luas dan skala makro, perubahan sosial dan kestabilan masyarakat berangsur dengan baik dan bersam-sama.

Pendidikan merupakan upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik, baik potensi fisik, cipta, rasa maupun karsanya, agar potensi tersebut menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan organis, harmonis, dinamis guna mencapai tujuan hidup manusia. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalahpendidikan.[5]

Beberapa aliran filsafat pendidikan,yaitu:

1.         Filsafat pendidikan progresivisme

2.         Filsafat pendidikan esensialisme

3.         Filsafat pendidikan perenialisme

Perkembangan kependidikan dewasa ini telah membuka arah baru pendidikan kemasyarakatan yang berbasis pada karakter manusia dan masyarakat itu sendiri. Akan tetapi sepanjang sejarah paham mengenai pendidikan dimasyarakat tidak lepas dari beberapa pemetaan aliran paradigma pendidikan dari Giroux dan Aronowitz yang terbagi pada tiga aliran yaitu konservatif, liberal, dan kritis.

1.    Paham Konservatif

Bagi kaum konservatif, ketidak sejajaran masyarakat merupakan suatu keharusan hukum alam, suatu hal yang mustahil dihindari, serta seakan-akan sudah menjadi ketentuan sejarah atau bahkan takdir Tuhan. Dalam perjalanan selanjutnya, paradigma ini cenderung lebih menyalahkan subjeknya. Bagi kaum konsevatif, mereka yang menderita karena kesalahan mereka sendiri. Hal ini karna banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan berhasil meraih sesuatu.

2.    Paham Liberalistik

Mereka tidak melihat kaitan pendidikan dengan struktur kelas dan dominasi politik dan budaya serta diskriminasi gender di tengah masyarakat luas, bahkan pendidikan bagi salah satu aliran liberal, yaitu structural functionalisme justru dimaksudkan sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai masyarakat. Pendidikan dimaksudkan sebagai media untuk mensosialisasikan dan mereproduksi nilai-nilai tata susila keyakinan dan nilai-nilai dasar agar masyarakat luas berfungsi secara baik.

3.    Paham Radikalistik

Pendidikan bagi paham ini merupakan arena perjuangan politik dalam perspektif kritis-radikalistik. Urusan pendidikan adalah melakukan refleseksi  kritis dari the dominant ideology ke arah transformasi sosial. Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk menciptakan sistem sosial baru yang lebih adil. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.

Pendidikan yang berdasarkan pada prinsip demokrasi pancasila mengajarkan prinsip-prinsip yaitu:

1.      persamaan,

2.      keseimbangan antara hak dan kewajiban,

3.      kebebasan yang bertanggung jawab,

4.      kebebasan berkumpul dan berserikat,

5.      kebebasan mengeluarkan pendapat,

6.      kemanusiaan-keadilan,

7.      cita-cita nasional. Oleh karena itu, sistem pendidikan nasional menjamin pemerataan pendidikan, peningkatan mutu, serta relevansi dan efesiensi manajemen pendidkan untuk menghadapi tantangan sesuai tuntutan zaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Secara terminologi, definisi nilai sering dirumuskan dalam konsep yang berbeda-beda. Berikut ini dikemukakan empat definisi nilai yang masing-masing memiliki tekanan yang berbeda. Pertama, Rohmat Mulyana mengutip beberapa ahli menyatakan, pertama menurut Gordon Allport, “Nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya”.[6] Kedua, menurut Kuperman, “Nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara ciri-ciri tindakan alternatif”.[7] Ketiga, menurut Hans Jonas, ia mendeskripsikan definisi nilai sebagai berikut.

Dalam Pancasila sebagai landasan ideal bangsa kristalisasi nilai-nilai luhur bangsa, Pancasila kaya dengan pesan nilai, moral dan etika asli bangsa, sebab itu landasan kehidupan berbangsa dan bernegara ini dapat dijadikan landasan yang kuat bagi penyelenggara pendidikan nilai di sekolah dikeluarga dan dimasyarakat. Secara relaktis sila-sila yang terdapat dalam Pancasila dengan jelas menempatakan nilai ketuhanan yang diikuti oleh nilai kodrat kemanusiaan, dan nilai etis filosofis persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial. Semua nilai yang terkandung dalam Pancasila tentunya bukan sekedar simbol-simbol tiorik saja, tetapi merupakan falsafah atau idiologi bangsa yang harus benar-benar direalisasikan dalam kehidupan berbagsa, bernegara dan beragama.

 

DAFTAR PUSTAKA

Basri, Hasan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2009.

Salahuddin, Anas, Filsafat Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2011.

Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004.

Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2011)

 

 



[1] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), ed-3, cet-3, h. 783

[2] Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2011), cet- 2, h. 9

[3] Ibid.

[4] Rohmat Mulyana. Mengartikulasakan pendidikan Nilai, (Bandung: IKAPI,2004), h,151.

[5] Anas Salahuddin, Filsafat Pendidikan (Bandung: Pustaka Setia, 2011) 226.

[6] Rohmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, (Bandung: Alfabeta, 2011), cet- 2, h. 9

[7] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH TEORI KEPEMIMPINAN

  TEORI KEPEMIMPINAN Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah PSIKOLOGI MANAJEMEN ...