PENENTUAN MASALAH
DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
PENELITIAN
MANAJEMEN PENDIDIKAN
Dosen
Pengampu:
Dr. Iksan, M.Pd.I.
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN
ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kita
sering menghadapi masalah atau persoalan dalam kehidupan sehari-hari,
maupun masalah yang menuntut pemecahan secara sistematik. Masalah yang
kita hadapi kadang kala hanya menuntut pemecahan secara
sederhana saja dan bersifat segera serta tidak perlu ada
data pendukungnya, karena hasil pemecahan itu hanya berguna untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat
awam. Pemecahan masalah hanya melalui jalan musyawarah
antara pihak-pihak terkait. Di samping masalah-masalah
awam, ada masalah-masalah yang bersifat kompleks atau
rumit yang pemecahannya, menuntut dan memerlukan pengumpulan
data pendukung yang memadai dan valid yang dipakai untuk
membuat keputusan dan menarik kesimpulan.
Kita
seringkali menghadapi masalah, tapi tanpa menyadari adanya masalah
tersebut. Masalah kadangkala hanya terlintas dalam
pikiran kita, tetapi hal ini tidaklah cukup memberikan
kontribusi terhadap penelitian. Pikiran dan pemahaman kita terkait
dengan rumusan masalah penelitian sangat menentukan akan pentingnya
nilai penelitian. Bahkan kita perlu mencurahkan waktu lebih
banyak untuk menentukan masalah penelitian tersebut.
Gall,
Gall & Borg, 2003 dalam Punaji Setyosari (2010 : 52),“ proses menemukan
suatu masalah dalam penelitian merupakan suatu langkah yang sangat penting
dalam pengembangan profesi”.[1]
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah masalah
dan rumusan masalah itu ?
2. Kriteria
apa yang perlu diperhatikan untuk mengidentifikasi masalah dalam penelitian?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Masalah dan
Perumusan Masalah
Setiap
individu atau kelompok (organisasi) tidak terlepas dari sesuatu masalah dalam
kehidupan ini; dan setiap orang atau kelompok akan mencari jalan keluar atau
solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya, baik yang dilakukan sesuai
dengan pengalaman maupun penyelesaiannya melalui kajian-kajian ilmiah atau
penelitian ilmiah.
Menurut Suharputra Uhar:
masalah secara sederhana sering diartikan sebagai kesenjangan antara apa
yang ada (Das sein) dengan apa yang seharusnya (Das sollen). Masalah sebagai
situasi atau keadaan yang saat kita mengalami tidak memiliki cukup informasi
untuk menjawab suatu pertanyaan atau saat kita mengalami bahwa
pengetahuan yang kita miliki kacau balau sehingga tidak mampu menjawab
persoalan yang sedang kita hadapi.
Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus memilih dan memilah
problematika atau masalah yang ditemuinya, apakah masalah tersebut benar-benar
permasalahan yang layak diteliti dan memenuhi kriteria penelitian ilmiah atau
tidak.Misalnya memenuhi ciri-ciri dapat diukur dengan instrument penelitian, sering
ditemui di lapangan dan mempunyai manfaat yang berguna bagi masyarakat dan bagi
pengembangan ilmu pengetahuan.
Menurut KasiramMoh. (2008 : 221), “satu topik atau judul dapat berisi
beberapa masalah yang semuanya harus dirumuskan secara operasional. Sebelum
masalah dapat dirumuskan, maka masalah harus diidentifikasi lebih dahulu”.
Fraenkel dan Wallen (1990) dalam H. Moh. Kasiram, mengemukakan sebagai
berikut :
a. Masalah harus
fleksibel, artinya rumusan masalah tersebut harus dapat dijawab melalui sumber
yang jelas, tidak banyak menghabiskan dana, tenaga, dan waktu.
b. Rumusan masalah
harus jelas, artinya semua orang memberikan persepsi yang sama terhadap masalah
tersebut.
c. Rumusan masalah
harus signifikan, artinya jawaban masalah yang diberikan harus memberikan
kontribusi terhadap pengembangan ilmu dan pemecahan masalah kehidupan ini.
d. Rumusan masalah
harus etis, artinya masalah tersebut tidak berkenaan dengan hal-hal yang
bersifat etika, moral, nilai-nilai keyakinan dan agama.
Dari beberapa pendapat di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa
suatu problematika atau masalah penelitian harus dirumuskan dalam
bentuk pertanyaan atau pernyataansecara operasional dengan jelas, fleksibel,
signifikan serta tidak berkaitan dengan hal-hal yang bersifat etika, moral,
nilai-nilai keyakinan.
B. Kriteria
Dalam Mengidentifikasi Masalah Penelitian
Sebagaimana telah diutarakan dalam bagian
pendahuluan bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan melalui suatu
penelitian ilmiah.Masalah yang diteliti dan diselesaikan atau mendapatkan
jawaban setelah melalui suatu kajian dan penelitian ilmiah adalah
masalah-masalah yang memenuhi kriteria- -kriteria tertentu.
Setiap orang yang akan melakukan
penelitian ilmiah, terlebih dahulu harus mengidentifikasi masalah yang akan
diteliti. Mengidentifikasi dan merumuskan masalah merupakan hal yang sangat
penting, karena rumusan masalah harus disesuaikan dengan jenis penelitian yang
akan dilakukan. Misalnya penelitian kuantitatif, kualitatif, studi pustaka,
eksperimen, historis dan lainsebagainya.
Menurut Kasiram Moh. Masalah dapat
dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :
“masalah deskriptif, korelatif,
analitik atau kausal, fungsional, komparatif, dan asosiatif”
Masalah deskriptif yaitu, bila kejadian
itu belum jelas, belum bisa digambarkan atau dilukiskan dengan
gambling fenomenanya seperti apa adanya.
·
Masalah
korelatif yaitu bila munculnya fenomena itu berkaitan dengan ada tidaknya
hubungan antara dua factor (variabel) atau lebih.
·
Masalah
analitik atau kausal yaitu bila adanya fenomena itu adalah hasil dari proses
sebab akibat.
·
Masalah
fungsional , terjadi bila kita dihadapkan pada pilihan mana yang lebih baik
dari dua alternatif.
·
Masalah
asosiatif ialah suatu permasalahan yang berhubungan antara dua variabel atau
lebih. Ada tiga macam hubungan yaitu hubungan simetris, hubungan kausal dan
hubungan interaktif. Hubungan simetris yaitu suatu hubungan dua variable atau
lebih yang bersifat kebersamaan. Hubungan kausal yaitu hubungan yang bersifat
sebab akibat, jadi ada variable dependen dan independen. Sedangkan hubungan
interaktif, yaitu hubungan yang saling mempengaruhi antara satu variabel dan
variabel lainnya.
Ada beberapa jenis penelitian dengan
masing-masing karakteristik permasalahannya, akan tetapi secara garis besar ada
beberapa karakteristik yang harus diperhatikan dalam mengidentifikasi suatu
rumusan masalah penelitian ilmiah, yaitu sebagai berikut :
Sukardi mengemukakan bahwa“ciri-ciri
permasalahan yang baik serta layak untuk diteliti di antaranya yaitu dapat diteliti, mempunyai manfaat
teoritis maupun manfaat praktis, dapat diukur, sesuai dengan kemampuan dan
keinginan peneliti”.
Menurut Tuckman (1999) dalam Setyosari
Punaji, bahwa suatu masalah yang dipilih harus memiliki ciri-ciri khusus (karakteristik)
sebagai berikut :
Masalah menanyakan dua atau lebih
variable, dinyatakan atau dirumuskan secara jelas dan tidak ambigius,
dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (atau, kalau tidak, dalam bentuk
suatu pernyataan secara implisit seperti : tujuan penelitian ini adalah ingin
menentukan apakah …), dapat diuji melalui metode empiris; artinya adanya
kemungkinan pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
ditanyakan, dan masalah tidak menyangkut moral dan etika.
Berdasarkan pendapat tersebut di atas,
kami dapat menyimpulkan bahwa kriteria yang harus diperhatikan dalam
mengidentifikasi masalah untuk merumuskan suatu masalah penelitian ilmiah,
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Masalah
menanyakan dua atau lebih variabel.
b.
Masalah dinyatakan
atau dirumuskan secara jelas dan tidak ambigius
c.
Masalah
dapat didukung dengan data empiris.
d.
Masalah
tidak menyangkut moral dan etika
e.
Sesuai
dengan keinginan dan kemampuan peneliti.
f.
Dapat
bermanfaat bagi peneliti dan masyarakat.
Seorang
peneliti dalam merumuskan masalah harus menetapkan dua variabel atau lebih yang
akan dijadikan obyek formal penelitian, sehingga arah dan sasaran penelitian
akan menjadi jelas, dan hal ini sangat penting untuk menentukan instrument
penelitian yang akan dipergunakan dalam melakukan pendekatan untuk memperoleh
data maupun untuk pengukuran.
Suatu permasalahan dikatakan dapat
diteliti apabila masalah tersebut dapat diungkap kejelasannya melalui tindakan
koleksi data dan tidak ambigius, kemudian dianalisis. Untuk memperoleh jawaban
atas suatu permasalahan tersebut dilakukan dengan mencari informasi dengan
beberapa cara misalnya bertanya pada responden dengan melakukan wawancara,
melakukan observasi langsung atau menggunakan angket dan menyebarkannya kepada
responden terkait. Data berkaitan dengan masalah penelitian yang diperoleh
tersebut harus bisa dipecahkan melalui kerangka berpikir ilmiah
serta menjangkau banyak hal dalam proses penyelesaiannya.
Masalah
dapat didukung dengan data empiris dan dapat diukur,
artinya fenomena masalah tersebut dapat diukur secara
kuantitatif maupun secara empiris. Ukuran empiris atau ukuran yang didasarkan
pada fakta yang dapat dirasakan oleh orang yang terlibat mempunyai peranan
penting.Karena dukungan data empiris memberikan hubungan yang erat antara fakta
dan konstruk suatu fenomena.
Masalah tidak menyangkut moral dan etika,
artinya masalah yang akan diteliti tersebut tidak berkaitan dengan moral atau
etika individu atau kelompok yang merupakan responden perolehan data dalam
variabel tersebut.
Sesuai
dengan kemampuan dan keinginan peneliti, artinya peneliti perlu
menyesuaikan kemampuan dan keinginannya, peneliti harus mempunyai
kepercayaan bahwa apa yang hendak dilakukan di lapangan akan
berhasil, karena data yang ada di lapangan dan kemampuan peneliti untuk
mengumpulkan kemudian menganalisisnya sampai hasil penelitian dapat diperoleh.
Mempunyai manfaat teoritis maupun manfaat
praktis, artinya masalah tersebut mempunyai kontribusi signifikan, mempunyai
manfaat bagi peneliti maupun bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya.Manfaat
teoritis yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, dan manfaat
praktis yang langsung dapat digunakan atau dirasakan oleh masyarakat.
BAB
III
KESIMPULAN
Kegiatan
penelitian merupakan aktifitas manusia
untuk memenuhi rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Rasa ingin tahu
seseorang terhadap sesuatu, karena hal tersebut dirasakan sebagai masalah atau
hal yang menantang seseorang untuk mengetahui hal yang sebenarnya dan factor-faktor yang mempengaruhinya.
Kumpulan sesuatu yang diketahui itulah yang disebut dengan pengetahuan.
Dalam
kegiatan penelitian, seorang peneliti terlebih dahulu harus mengetahui masalah
yang merupakan sasaran penelitian. Setelah mengetahui suatu masalah, maka
peneliti harus mengidentifikasi masalah tersebut apakah memenuhi kriteria
penelitian ilmiah atau tidak, bila ciri-ciri masalah itu memenuhi kriteria
masalah yang memerlukan jawaban atau penyelesaiannya melalui suatu penelitian
ilmiah, maka peneliti harus merumuskan masalah tersebut secara operasional agar
dapat menentukan metode dan langkah-langkah ilmiah pemecahannya.
Apabila
cara yang digunakan untuk mencari pengetahuan itu menggunakan metode ilmiah,
maka hasil penelitian itu disebut pengetahuan ilmiah.
Demikianlah
pemaparan makalah ini, bila terdapat
kekurangan dan kelemahan baik yang berkaitan dengan sistematika penulisan
maupun isinya, kami sangat mengharapkan pemikiran dan pendapat pembaca untuk
penyempurnaan makalah ini.
[1] Setyosari Punaji H, 2010 Metode
Penelitian Pendidikan Dan Pengembangan, Jakarta, Kencana Prenada
Media Group, cet. I
Tidak ada komentar:
Posting Komentar