PERENCANAAN
KURIKULUM
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata
kuliah
PERENCANAAN
SISTEM KEPENDIDIKAN ISLAM
Dosen
Pengampu:
Rony, M.Pd.I
Oleh:
DEWY
MULYYA AYU KUSUMA
201812120380
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA
ISLAM AL FITHRAH
SURABAYA
2021-2022
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagai
suatu sistem, pendidikan nasional haruslah dikelola dengan tepat agar sebagai
subsistem sebagai pembangunan nasional, tujuan sisdiknas seperti yang diminta dalam
pasal Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 dapat tercapai secara efektif dan
efisien.
Khususnya pada Pendidikan Dasar perlu
mendapat perhatian khusus. Kurikulum yang ada sekarang bukan saja terlalu
“overload”. Sebagai konsekuensi logis dari kurikulum yang sentralistik, juga
karena proses penyusunan sampai pada pelaksanaan dan evaluasi kurikulum masih
steril dari jamahan masyarakat. Dalam hal ini kurikulum menjadi salah satu
penentu kesuksesan dunia pendidikan.
Kurikulum
adalah landasan yang digunakan Pendidik atau Guru untuk membimbing peserta
didiknya ke arah tujuan pendidikan yang diinginkan, melalui akumulasi sejumlah
pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental. Sedangkan Manajemen Kurikulum
dapat diartikan sebagai kemampuan merencanakan dan mngorganisasikan kurikulum.
Dalam
UU No.20 th 2008 tentang Sistem pendidikan nasional menyebutkan bahwa kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengetahuan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Kegiatan
pengembangan kurikulum harus berlandaskan pada fungsi-fungsi manajemen. Untuk
dapat dipahami sebagai pengalaman untuk mempersiapkan peserta didik dalam
mencapai tujuan pendidikan, baik yang diperoleh dari dalam maupun luar lembaga
pendidikan, maka kurikulum hendaknya melalui fungsi perencanaan yang matang
serta sistematis dan terpadu, pengorganisasian yang baik, diimplementasikan di
lapangan, dan diawasi pelaksanaannya.
Dengan
perencanaan kurikulum diharapkan dapat memberi kesempatan belajar mengajar
untuk membina siswa atau peserta didik ke arah perubahan tingkah laku yang
digunakan dan menilai hingga mana perubahan-perubahan yang terjadi pada diri
siswa atau peserta didik.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian perencanaan kurikulum?
2. Bagaimana
tahap-tahap dalam perencanaan kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perencanaan
Kurikulum
Perencanaan
itu terjadi pada semua kegiatan. Perencanaan merupakan tahap awal dalam sebuah
manajemen sesuatu untuk mencapai suatu tujuan yang hendak dicapai. Perencanaan
adalah hal yang sangat esensial karena dalam kenyataanya perencanaan memegang
peranan lebih bila di banding dengan fungsi-fungsi manajemen yang lainnya,
seperti pengorganisasian, penggerakkan, pengawasan. Dimana fungsi-fungsi
manajemen tersebut sebenarnya hanya merupakan pelaksanaan dari sebuah
perencanaan. Sedangkan pengertian kurikulum sendiri itu menurut para ahli
mempunyai makna yang berbeda-beda. Lazimnya rencana yang disusun untuk
melancarkan kegiatan yang hendak dicapai baik dalam lingkungan Formal atau Non
formal.
Kurikulum
merupakan progam pendidikan, bukan progam pengajaran. Yaitu progam yang
direncanakan, diprogamkan dan dirancanagkan yang berisi berbagai bahan ajar dan
pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang
akan datang. Kesemuanya tersebut direncanakan secara sistematik, artinya
direncanakan dengan memperhatikan keterlibatan berbagai faktor pendidikan
secara harmonis.
Perencanaan
kurikulum Menurut Rusman adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang
dimaksudkan untuk membina siswa ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan
dan menilai sampai mana perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa.
Menurut Hamalik perencanaan kurikulum merupakan suatu proses sosial yang
kompleks yang menuntut berbagai jenis dan tingkat pembuatan keputusan.[1]
Perencanaan
kurikulum memiliki berbagai definisi. Menurut Saidiharjo, perencanaan kurikulum
adalah sebuah proses dimana para perencana mengambil bagian pada berbagai level
pembuat keputusan mengenai tujuan pembelajaran yang seharusnya, bagaimana
tujuan dapat direalisasikan melalui proses belajar-mengajar, dan apakah tujuan
tersebut memang tepat dan efektif.[2]
Menurut
kelompok kami, perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum
ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk
menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer
perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Manajemen dalam
perencanaan kurikulum adalah keahlian “managing” dalam arti kemampuan
merencanakan dan mengorganisasikan kurikulum. Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam proses perencanaan kurikulum adalah siapa yang bertanggung jawab dalam
perencanaan kurikulum, dan bagaimana perencanaan kurikulum itu direncanakan
secara professional.
Dalam
terdapat beberapa aspek yang dipandang dan juga perlu diperhatikan. Aspek-aspek
yang menjadi karakteristik perencanaan kurikulum,[3] yaitu
sebagai berikut:
1.
Perencanaan
kurikulum harus berdasarkan konsep yang jelas tentang berbagai hal yang
menjadikan kehidupan menjadi lebih baik, karakteristik masyarakat sekarang, dan
masa depan, serta kebutuhan dasar manusia.
2.
Perencanaan
kurikulum harus dibuat dalam kerangka kerja yang komprehensif, yang
mempertimbangkan dan mengoordinasi unsur esensial belajar-mengajar efektif.
3.
Perencanaan
kurikulum harus bersifat reaktif dan antisipatif. Pendidikan harus responsif
terhadap kebutuhan individual anak didik, untuk membantu anak didik menuju
kehidupan kondusif.
4.
Tujuan-tujuan
Pendidikan harus meliputi rentang yang luas akan kebutuhan dan minat yang berkenaan dengan individu dan
masyarakat.
5.
Rumusan
berbagai tujuan pendekatan harus diperjelas dengan ilustrasi konkret, agar
dapat digunakan dalam pengembangan rencana kurikulum yang spesifik. Jika tidak,
persepsi yang muncul kurang jelas dan kontradiktif.
6.
Masyarakat
luas mempunyai hak dan tanggung jawab untuk mengetahui berbagai hal yang
ditujukan bagi anak-anak mereka melalui perumusan tujuan Pendidikan. Berkaitan
dengan hal ini, para pendidiklah yang berkewajiban untuk memberitahukannya.
7.
Dengan
keaahlian professional mereka, pendidik berhak dan bertanggung jawab mengidentifikasi
program sekolah yang akan membimbing anak didik ke arah pencapaian tujuan
pendidikn. Masyarakat boleh saja memberikan saran, namun keputusan akhir ada
pada pendidik.
8.
Perencanaan
dan pengembangan kurikulum paling efektif jika dikerjakan secara bersamaan. Hal
ini dikarenakan beragamnya unsur-unsur kurikulum yang menuntuttentang keahlian
secara luas.[4]
9.
Perencanaan
kurikulum harus memuat artikulasi program sekolah dan anak didik pada setiap
jenjang dan tingkatan sekolah. Berkaitan dengan hal ini, kurikulum harus
terdiri atas intregasi berbagai pengalaman yang relevan.
10. Program sekolah harus dirancang untuk
mengoordinasikan semua unsur dalam kurikulum kerangka kerja Pendidikan.
11. Masing-masing sekolah mengembangkan dan
memperhalus suatu struktur organisasi yang memfasilitasi studi masalah-masalah
kurikulum dalam mensponsori kegiatan perbaikan kurikulum
12. Perlunya penelitian tindakan dan evaluasi
, untuk menyediakan revitalisasi rencana dan program kurikulum.
13. Partisipasi kooperatif harus dilaksanakan
dalam kegiatan perencanaann kurikulum, terutama keterlibatan masyarakat dan
para anak didik dalam perencanaan situasi belajar-mengajar yang spesifik.
14. Dalam perencanaan kurikulum, harus
diadakan evaluasi secara kontinu terhadap semua aspek pembuatan keputusan kurikulum,
yang juga meliputi bekerja relatif bebas untuk mencapai suatu tujuan.
B. Tahap-Tahap
Dalam Perencanaan Kurikulum
Ada beberapa asas yang dijadikan dasar dalam perencanaan kurikulum,[5] yaitu:
1.
Objektivitas
Perencanaan
kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik berdasarkan tujuan pendidikan
nasional, data input yang nyata sesuai dengan kebutuhan.
2.
Keterpaduan
Perencanaan
kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua disiplin ilmu, keterpaduan
sekolah dan masyarakat, keterpaduan internal, serta keterpaduan dalam proses
penyampaian.
3.
Manfaat
Perencanaan
kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan dan keterampilan sebagai bahan
masukan untuk pengambilan keputusan dan tindakan, serta bermanfaat sebagai
acuan strategis dalam penyelenggaraan Pendidikan.
4.
Efisiensi
dan Efektivitas
Perencanaan
kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana, tenaga, dan waktu dalam
mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
5.
Kesesuaian
Perencanaan
kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik, kemampuan tenaga
kependidikan, kemajuan IPTEK, dan perubahan atau perkembangan masyarakat.
6.
Keseimbangan
Perencanaan
kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis bidang studi, sumber yang
tersedia, serta antara kemampuan dan program akan dilaksanakan.
7.
Kemudahan
Perencanaan
kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya yang membutuhkan pedoman
berupa bahan kajian dan metode untuk melaksanakan proses pembelajaran.
8.
Berkesinambungan
Perencanaan
kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan dengan tahapan, jenis, dan
jenjang satuan pendidikan.
9.
Pembakuan
Perencanaan
kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis satuan Pendidikan. Sejak
dari pusat sampai daerah.
10. Mutu
Perencanaan
kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang bermutu, sehingga turut meningkatkan
mutu proses belajar dan kualitas lulusan secara keseluruhan.
Hafni Ladjid dalam bukunya Pengembangan Kurikulum mengemukakan bahwa
kegiatan pengembangan kurikulum tingkat lembaga dibagi menjadi 3 tahapan yaitu:
(1) perumusan tujuan institusional, (2) tahapan pengembangan setiap bidang
studi, (3) pengembangan program pengajaran dikelas.[6]
1.
Perumusan
tujuan isntitusional
Dalam
tujuan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan suatu lembaga
pendidikan tertentu, misalnya SMP, SMU dan lain-lainnya, adalah hal-hal yang
harus diperhatikan bagi para fungsi lembaga pendidikan itu.
Sumber-sumber
yang dapat dimanfaatkan dalam merumuskan tujuan institusional
sekurang-kurangnya ada tiga sumber yang penting, yaitu tujuan pendidikan
nasional yang tercantum dalam Undang-undang sistem pendidikan nasional,
pandangan atau harapan masyarakat dan dunia pekerjaan, harapan lembaga
pendidikan yang lebih tinggi.
2.
Tahapan
pengembangan setiap bidang studi
Langkah-langkah
yang harus ditempuh dalam mengembangkan setiap program studi ini meliputi: (1)
merumuskan tujuan kurikuler, (2) merumuskan tujuan pengajaran, (3) menetapkan
pokok bahasan atau sub pokok bahasan, (4) menyusun garis-garis besar program
pengajaran, (5) menyusun pedoman khusus.
3.
Pengembangan
program pengajaran dikelas
Pengembangan
program pengajaran dikelas khususnya di indonesia bertolak dengan suatu dasar
konsep sistem. Secara sederhana sistem itu mempunyai komponen-komponen sebagai
berikut: (1) tujuan, (2) bahan/isi, (3) metode, (4) alat, (5) evaluasi dan (6)
proses.
Menurut
Harie Dalam sebuah blog yang ditulis oleh Harie, mengemukakan tahapan
pengembangan kurikulum dibagi menjadi 4 tahapan yaitu:
1.
Merumuskan tujuan
pembelajaran (instructional objective),
Terdapat tiga tahap dalam
merumuskan tujuan pembelajaran. Tahap yang pertama yang harus diperhatikan
dalam merumuskan tujuan adalah memahami tiga sumber, yaitu siswa (source of
student), masyarakat (source of society), dan konten (source of content). Tahap
kedua adalah merumuskan tentative general objective atau standar kompetensi
(SK) dengan memperhatikan landasan sosiologi (sociology), kemudian di-screen
melalui dua landasan lain dalam pengembangan kurikulum yaitu landasan filsofi
pendidikan (philosophy of learning) dan psikologi belajar (psychology of
learning), dan tahap terakhir adalah merumuskan precise education atau
kompetensi dasar (KD).
2.
Menyeleksi
pengalaman-pengalaman belajar (selection of learning experiences),
Dalam merumuskan dan
menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar dalam pengembangan kurikulum
harus memahami definisi pengalaman belajar dan landasan psikologi belajar
(psychology of learning). Pengalaman belajar merupakan bentuk interaksi yang
dialami atau dilakukan oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk memperoleh
pengetahuan dan ketrampilan. Pengalaman belajar yang harus dialami siswa
sebagai learning activity menggambarkan interaksi siswa dengan objek belajar.
Belajar berlangsung melalui perilaku aktif siswa; apa yang ia kerjakan
adalah apa yang ia pelajari, bukan apa yang dilakukan oleh guru. Dalam
merancang dan menyeleksi pengalaman-pengalaman belajar juga memperhatikan
psikologi belajar.
3.
Mengorganisasi
pengalaman-pegalaman belajar (organization of learning experiences),
Pengorganisasi atau disain
kurikulum diperlukan untuk memudahkan anak didik untuk belajar. Dalam
pengorganisasian kurikulum tidak lepas dari beberapa hal penting yang
mendukung, yakni: tentang teori, konsep, pandangan tentang pendidikan,
perkembangan anak didik, dan kebutuhan masyarakat. Pengorganisasian kurikulum
bertalian erat dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Oleh karena
itu kurikulum menentukan apa yang akan dipelajari, kapan waktu yang tepat untuk
mempelajari, keseimbangan bahan pelajaran, dan keseimbangan antara aspek-aspek
pendidikan yang akan disampaikan.
4.
Mengevaluasi
(evaluating).
Kurikulum Langkah terakhir
dalam pengembangan kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi adalah proses yang
berkelanjutan di mana data yang terkumpul dan dibuat pertimbangan untuk tujuan
memperbaiki sistem. Evaluasi yang seksama adalah sangat esensial dalam
pengembangan kurikulum. Evaluasi dirasa sebagai suatu proses membuat
keputusan, sedangkan riset sebagai proses pengumpulan data sebagai dasar
pengambilan keputusan. Perencanaan kurikulum menggunakan berbagai tipe evaluasi
dan riset. Tipe-tipe evaluasi adalah konteks, input, proses, dan produk.
Sedagkan tipe-tipe riset adalah aksi, deskripsi, historikal, dan eksperimental.
Di sisi lain perencana kurikulum menggunakan evaluasi formatif (proses atau
progres) dan evaluasi sumatif (outcome atau produk).
BAB
III
KESIMPULAN
1.
Pengertian
perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun
kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan
untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha
mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional.
2.
Karakteristik
perencanaan kurikulum adalah Perencanaan kurikulum harus berdasarkan
konsep yang jelas, kerangka kerja yang komprehensif, bersifat reaktif dan
antisipatif, harus memuat artikulasi program sekolah dan anak didik pada setiap
jenjang dan tingkatan sekolah.
3.
Asas perencanaan
kurikulum diantaranya adalah : Objektivitas, keterpaduan, manfaat, Efisiensi
dan Efektivitas, Kesesuaian, Keseimbangan, Kemudahan, Berkesinambungan,
Pembakuan, Mutu.
4.
Tahap perencanaan
kurikulum diantaranya adalah : Perumusan tujuan institusional, Tahapan
pengembangan setiap bidang studi, Pengembangan program pengajaran di kelas.
DAFTAR
PUSTAKA
Kristiawan, Muhammad,2017.Manajemen Pendidikan.Yogyakarta
: CV.BUDI UTAMA
Munandar, Arif,2018.Pengantar Kurikulum,Yogyakarta:
CV.BUDI UTAMA
Qomar Mujamil, 2007.Manajemen Pendidikan Islam.Jakarta
: Penerbit Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar