Sabtu, 02 Maret 2019

POKOK KAJIAN AS-SAYYID MUHAMMAD BIN ALAWI BIN ABHAS AL-MALIKI AL-HASAM

POKOK KAJIAN AS-SAYYID MUHAMMAD BIN ALAWI BIN ABHAS AL-MALIKI AL-HASAM
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
ILMU KALAM
                                                                                  
                           


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyusun makalah ini.
Makalah  ini berjudul “Membangun Masyarakat Madani ” yang disusun untuk memenuhi salah satu tugas akhir  mata kuliah Kewarganegaraan.
Penulis sudah berusaha menyusun makalah ini sebaik mungkin, akan tetapi penulis menyadari kesalahan  dan  kealfaan, makalah  ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun berkat arahan, bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan dan bimbingan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, danbagi pembaca umumnya. 













DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...........................................................................  i
 DAFTAR ISI .....................................................................................  ii
BAB  I PENDAHULUAN
 A. Latar Belakang ............................................................................  1
 B. Rumusan Masalah ......................................................................  2 
C. Tujuan dan Manfaat ....................................................................  2
BAB II PEMBAHASAN
A. Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki....................  3
 B. Kajian Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki ........  7 
BAB III PENUTUPAN
A. KESIMPULAN .........................................................................  15












BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan pergumulan yang sungguh sungguh, suci dan mulia untuk membangun jiwa, (watak atau karakter) dan kepribadian sehingga sehingga tercipta manusia yang ahsani taqwim (humanisasi), dan sebaliknya membebaskannya (liberalisasi) dari belenggu-belenggu yang menghalangi untuk beremansipasi seperti berbagai bentuk kedhaliman, kemiskinan dan kebodohan. Pendidikan selama ini tidak integrated dalam memahami manusia. Pendidikan selama ini lebih tepat disebut pengajaran yang tujuannya agar anak memiliki pengetahuan tetapi tidak membuat anak cerdas. Padahal dalam al-Qur’an (Surat al-Jum’ah ayat 2) dikatakan bahwa Rasulullah itu dalam mendidik umatnya meliputi tilawah (membacakan) ayat-ayat Allah, Tazkiyah (mensucikan) jasmani dan ruhani manusia, ta’lim (mengajarkan) kitab dan hikmah kepada orang yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Karena itu, pendidikan harus memandang manusia secara utuh dan terintegrasi.
Statemen di atas harus dimaknai bahwa pendidikan itu harus memandang manusia secara utuh dan terintegrasi dalam rangka membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang menghalangi emansipasi kemanusiaan menuju martabatnya yang paling luhur. Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dimensi spiritualitasnya. Pendidikan yang hanya berorientasi kepada dunia materil akan menjatuhkan martabat kemanusiaan itu sendiri.
Abuya al-Maliki adalah sosok ilmuan yang ‘nyegoro’. Semua karyanya layak dikonsumsi dimana dan kapan saja, bahkan oleh siapa saja yang haus akan pencerahan agama. Tidak hanya oleh pengagumnya, tetapi orang-orang yang selama ini berseberangan akan ‘angkat topi’ dengan kejeniusan beliau. Membaca karya-karyanya seperti sedang berdialog dengan seorang ulama’ lintas generasi.
Karya beliau yang berjudul al-Qudwah al-Hasanah mengandung pendidikan nilai karakter islami yang mendasar dan sangat penting untuk diketahui, yakni yang berisi tentang teladan terbaik dalam berdakwah. Sirah nabawiyyah dan sejarah kehidupan para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim adalah teladan terbaik dalam berbagai metode para da’I dalam berdakwah, serta sumber terbesar bagi kekuatan iman dan kepekaan rasa keagamaan mereka. Salah satu diantaranya pentingnya dalam mengkaji karya kitab beliau ini adalah perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan motifasi dalam menyampaikan agama Islam. Dengan harapan nantinya akan menciptakan manusia atau generasi yang berakhlak mulia. Oleh karena itu kitab al-Qudwah al-Hasanah yang ditulis oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki ini sangat penting dan perlu digali lebih mendalam untuk dijadikan rujukan dan pedoman bagi umat muslim dalam hal pembelajaran, pembinaan serta pembentukan semangat dalam menyampaikan agama Islam.
















2.      Rumusan Masalah
a.       Siapa Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki ?
b.      Bagaimanakah Kajian Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki ?
3.      Tujuan Penulisan
a.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kalam
b.      Untuk mengetahui Kajian Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki.










BAB II
PEMBAHASAN
A.     Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki
As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki adalah salah seorang ulama Islam dari Arab Saudi. Dilahirkan pada tahun 1365H atau 1946M di kota Mekkah. Ia berasal dari keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal. Ayahnya adalah As-Sayyid Alawi, seorang ulama terkemuka di Mekkah dan merupakan salah satu penasihat Raja Faisal, raja Arab Saudi. Di bawah bimbingan ayahnya, sejak kecil ia sudah belajar Al-Quran. Ayahnya wafat pada tahun 1971. Sayyid Muhammad wafat pada hari Jumat, 15 Ramadhan di Mekkah. Ia dimakamkan di sebelah makam ayahnya dan Sayyidah Khadijah. Dia telah meninggalkan kita pada hari Jumaat, 15 Ramadhan (bersesuaian dengan doanya untuk meninggal dunia pada bulan Ramadhan), dalam keadaan berpuasa di rumahnya di Makkah. Kematiannya amat mengejutkan. Ucapan takziah diucapkan dari seluruh dunia Islam. Salat jenazah dia dilakukan di seluruh pelusuk dunia. Dia telah pergi pada bulan Ramadhan dan pada hari Jumat.
Sholat jenazah pertama di rumah dia diimamkan oleh adiknya As-Sayyid Abbas, dan seterusnya di Masjidil Haram dengan Imam Subayl, ratusan ribu manusia membanjiri upacara pengebumiannya. Dia dimakamkan di sebelah bapaknya, berhampiran maqam dengan Sayyidah Khadijah. Sebelum dia meninggal dunia, dia ada menghubungi seorang pelajar lamanya di Indonesia melalui telepon dan bertanyanya adakah dia akan datang ke Mekkah pada bulan Ramadhan. Apabila dia menjawab tidak, Sayyid Muhammad bertanya pula, “tidakkah engkau akan menghadiri penegebumianku?”
 Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah dia tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu dia selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya dia selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.
Dari rumah dia telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid dia, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid dia yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 dia yang masuk ke dalam pemerintahan.
Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula dia telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan dia memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.
Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah.thariqahnya.
Dalam kehidupannya dia selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Dia tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai dia menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta'lim dia di masjidil Haram. Semua ini dia terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan dia selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja' dan reference di negara-negara mereka. Dia ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Dia adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Dia selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya.
Di samping tugas dia sebagai da'i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, dia pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 dia yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.
Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Dia telah menulis dalam pelbagai topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam berbagai bidang:
Aqidah:
1.      Mafahim Yajib an Tusahhah
2.      Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus
3.      At-Tahzir min at-Takfir
4.      Huwa Allah
5.      Qul Hazihi Sabeeli
6.      Sharh 'Aqidat al-'Awam
Tafsir:
1.      Zubdat al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an
2.      Wa Huwa bi al-Ufuq al-'A'la
3.      Al-Qawa'id al-Asasiyyah fi 'Ulum al-Quran
4.      Hawl Khasa'is al-Quran
Hadith:
1.      Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif
2.      Al-Qawa'id al-Asasiyyah fi 'Ilm Mustalah al-Hadith
3.      Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
4.      Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik
Sirah:
1.      Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
2.      Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah
3.      'Urf al-Ta'rif bi al-Mawlid al-Sharif
4.      Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M'iraj Khayr al-Bariyyah
5.      Al-Zakha'ir al-Muhammadiyyah
6.      Zikriyat wa Munasabat
7.      Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra
Usul:
1.      Al-Qawa'id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
2.      Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh
3.      Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari'ah al-Islamiyyah
Fiqh:
1. Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa 'Alamiyyatuha 2. Shawariq al-Anwar min Ad'iyat al-Sadah al-Akhyar 3. Abwab al-Faraj 4. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar 5. Al-Husun al-Mani'ah 6. Mukhtasar Shawariq al-Anwar
Lain-lain:
1. Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah) 2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-'Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis) 3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam) 4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da'wah ila Allah (Teknik Dawah) 5. Ma La 'Aynun Ra'at (Butiran Syurga) 6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam) 7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi' wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman) 8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin) 9. Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan) 10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan) 11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah) 12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi) 13. Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk dia, As-Sayyid Abbas) 14. Al-'Uqud al-Lu'luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa dia, As-Sayyid Alawi) 15. Al-Tali' al-Sa'id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah) 16. Al-'Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah).
Catatan diatas adalah kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak menyebutkan berapa banyak karya tulis yang telah dikaji, dan diterbitkan untuk pertama kali, dengan ta'liq (catatan kaki) dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.


B.     Kajian Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki merupakan seorang ulama Makkah yang berkhidmat untuk ilmu dan hadith Nabi antara kurun ke-14 dan 15 hijrah. Beliau banyak menulis kitab dan antara kitab beliau yang terkenal adalah Mafahim Yajib an Tusohhah. Seramai 40 orang ulama yang telah mengi'tiraf dan menulis kata-kata pujian terhadap kitab beliau ini dan bab ziarah adalah merupakan salah satu bab dalam kitab beliau yang agung ini.
Sebenarnya kitab al-Ziarah adalah merupakan sebuah kitab perbahasan fiqih yang mana sarat dengan dalil-dalil daripada Al quran, hadith Nabi SAW ijma, Qiyas dan lain-lain. Sayyid Muhammad juga telah menulis dengan panjang lebar mengenai perbincangan para ulama dalam perkara ini. Tetapi kitab ini bukan hanya sekadar membahaskan mengenai khilaf yang berlaku bahkan ianya mempunyai keistimewaan yang tersendiri yang membedakannya daripada penulisan-penulisan yang lain.
Memang benar Sayyid Muhammad Alawi telah mengetengahkan perbahasan- perbahasan yang berkaitan dengan usul fiqih, perbahasan yang panjang mengenai beberapa buah hadith Nabi yang tertentu, begitu juga mengenai ilmu rijal hadith dan sebagainya Tetapi penulis merasakan bahawa kitab ini mempunyai manhaj dakwahnya yang tersendiri untuk mendekatkan antara pihak yang menyokong dan tidak menyokong masalah ziarah ini lebih-lebih lagi dalam meninggikan kedudukan Nabi SAW dan Maqam baginda SAW Kitab ini bukan sahaja mengetengahkan dalil-dalil pendapat beliau sahaja  bahkan untuk membetulkan pemahaman umat .slam bukan untuk menunjuk-nunjuk dan hasad dengki kepada pendapat yang tidak bersetuju dalam masalah ini dan beliau begitu ikhlas menulisnya kerana mengharapkan keredhaan Allah dan juga Nabi-Nya.
Sebenarnya telah banyak kajian mengenai Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Ada sebahagiannya mengkaji tentang biografi beliau secara umum, ada pula yang mengkaji tentang manhaj akidah beliau dan sebagainya. Ada juga kajian tentang manhaj dakwah beliau tetapi hanyalah secara ringkas dan bukan tertumpu kepada bidang penulisan beliau sedangkan kajian tentang manhaj dakwah dalam penulisan beliau ini amatlah diperlukan.
 penulis juga berpendapat masyarakat perlu mengenali Sayyid Muhammad al-Maliki dan mempertahankan maqam baginda Nabi SAW. Tetapi persoalan timbul apakah manhaj dakwah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam bidang penulisan? SemogaAllah menjadikan usaha ini ikhlas kerana-Nya dan juga kerana Nabi Muhammad danmenjadikannya sebagai pembuka kajian-kajian yang seterusnya tentang Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.
Karya beliau yang berjudul al- Qudwah al-Hasanah mengandung pendidikan nilai karakter islami yang mendasar dan sangat penting untuk diketahui, yakni yang berisi tentang teladan terbaik dalam berdakwah. Sirah nabawiyyah dan sejarah kehidupan para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim adalah teladan terbaik dalam berbagai metode para da’I dalam berdakwah, serta sumber terbesar bagi kekuatan iman dan kepekaan rasa keagamaan mereka. Salah satu diantaranya pentingnya dalam mengkaji karya kitab beliau ini adalah perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan motifasi dalam menyampaikan agama Islam. Dengan harapan nantinya akan menciptakan manusia atau generasi yang berakhlak mulia. Oleh karena itu kitab al-Qudwah al-Hasanah yang ditulis oleh Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki ini sangat penting dan perlu digali lebih mendalam untuk dijadikan rujukan dan pedoman bagi umat muslim dalam hal pembelajaran, pembinaan serta pembentukan semangat dalam menyampaikan agama Islam.
Salah satu karya monumental Sayyid Muhammad Al-Maliki yang berbicara tentang akhlak adalah kitab At Tahliyah Wat Targhib Fi Al Tarbiyah Wa Al Tahdzib kitab ini menerangkan tentang tingkatan konsep pergaulan atau bagaimana seharusnya berperilaku atau beretika terhadap manusia. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:
1.      Akhlak Terhadap Individu
Manusia adalah mahluk sosial yang perlu berinteraksi terhadap orang lain dan membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti yang telah terkutib dalam kitab At Tahliyah Wat Targhib Fi Al Tarbiyah Wa Al Tahdzib
“Hendaklah diketahui, bahwa manusia adalah makhluk yang memerlukan hidup bermasyarakat dengan sesamanya. Karena, seseorang itu tidak mungkin dengan sendirinya, tanpa bantuan orang lain dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan hal-hal yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya, kesenangan-kesenangannya dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh mentalnya (An-Nadwi, 1999:11)”
Penggalan baris bait diatas menunjukkan akan konsep manusia sebagai mahluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain maka ia harus bergaul dan bermasyarakat dengan sesama umat manusia meskipun orang tersebut berbeda dalam adat, kebiasaan, kesopanan, dan pangkatnya.Berikut individu-individu yang ditemui dalam pergaulan lingkup masyarakat, yang mana dalam pergaulan tersebut seseorang harus menerapkan akhlak yang baik dalam pergaulanya.
a.       Akhlak terhadap Ibu
b.      Akhlak terhadap Ayah
c.       Akhlak terhadap Guru
d.      Akhlak terhadap Pemimpin
e.       Akhlak terhadap saudara dan teman
f.       Akhlak terhadap











 BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan makalah diatas, dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki adalah salah seorang ulama Islam dari Arab Saudi. Dilahirkan pada tahun 1365H atau 1946M di kota Mekkah. Ia berasal dari keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal.
2.      As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki mengajar semua pelajaran dan yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MAKALAH TEORI KEPEMIMPINAN

  TEORI KEPEMIMPINAN Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah PSIKOLOGI MANAJEMEN ...