POKOK KAJIAN
AS-SAYYID MUHAMMAD BIN ALAWI BIN ABHAS AL-MALIKI AL-HASAM
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah
ILMU KALAM
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyusun makalah ini.
Makalah ini
berjudul “Membangun
Masyarakat Madani ” yang
disusun untuk memenuhi salah satu tugas akhir mata kuliah Kewarganegaraan.
Penulis
sudah berusaha menyusun makalah ini sebaik mungkin, akan tetapi
penulis menyadari kesalahan dan
kealfaan, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun
berkat arahan, bimbingan, dan bantuan dari berbagai pihak
sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan arahan dan bimbingan.
Semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, danbagi pembaca umumnya.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
........................................................................... i
DAFTAR ISI
..................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah
...................................................................... 2
C. Tujuan dan Manfaat .................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Assayyid
Muhammad bin alawi in abbas al maliki.................... 3
B. Kajian
Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki ........ 7
BAB III PENUTUPAN
A. KESIMPULAN
......................................................................... 15
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan pergumulan yang sungguh sungguh, suci dan mulia untuk membangun jiwa,
(watak atau karakter) dan kepribadian sehingga sehingga tercipta manusia yang
ahsani taqwim (humanisasi), dan sebaliknya membebaskannya (liberalisasi) dari
belenggu-belenggu yang menghalangi untuk beremansipasi seperti berbagai bentuk
kedhaliman, kemiskinan dan kebodohan. Pendidikan selama ini tidak integrated
dalam memahami manusia. Pendidikan selama ini lebih tepat disebut pengajaran
yang tujuannya agar anak memiliki pengetahuan tetapi tidak membuat anak cerdas.
Padahal dalam al-Qur’an (Surat al-Jum’ah ayat 2) dikatakan bahwa Rasulullah itu
dalam mendidik umatnya meliputi tilawah (membacakan) ayat-ayat Allah, Tazkiyah
(mensucikan) jasmani dan ruhani manusia, ta’lim (mengajarkan) kitab dan hikmah
kepada orang yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Karena itu, pendidikan
harus memandang manusia secara utuh dan terintegrasi.
Statemen
di atas harus dimaknai bahwa pendidikan itu harus memandang manusia secara utuh
dan terintegrasi dalam rangka membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang
menghalangi emansipasi kemanusiaan menuju martabatnya yang paling luhur.
Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dimensi spiritualitasnya. Pendidikan yang
hanya berorientasi kepada dunia materil akan menjatuhkan martabat kemanusiaan
itu sendiri.
Abuya
al-Maliki adalah sosok ilmuan yang ‘nyegoro’. Semua karyanya layak dikonsumsi
dimana dan kapan saja, bahkan oleh siapa saja yang haus akan pencerahan agama.
Tidak hanya oleh pengagumnya, tetapi orang-orang yang selama ini berseberangan
akan ‘angkat topi’ dengan kejeniusan beliau. Membaca karya-karyanya seperti
sedang berdialog dengan seorang ulama’ lintas generasi.
Karya
beliau yang berjudul al-Qudwah al-Hasanah mengandung pendidikan nilai karakter
islami yang mendasar dan sangat penting untuk diketahui, yakni yang berisi
tentang teladan terbaik dalam berdakwah. Sirah nabawiyyah dan sejarah kehidupan
para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim adalah teladan terbaik dalam berbagai
metode para da’I dalam berdakwah, serta sumber terbesar bagi kekuatan iman dan
kepekaan rasa keagamaan mereka. Salah satu diantaranya pentingnya dalam
mengkaji karya kitab beliau ini adalah perlu diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari dan motifasi dalam menyampaikan agama Islam. Dengan harapan
nantinya akan menciptakan manusia atau generasi yang berakhlak mulia. Oleh
karena itu kitab al-Qudwah al-Hasanah yang ditulis oleh Abuya Sayyid Muhammad
bin Alawi al Maliki ini sangat penting dan perlu digali lebih mendalam untuk
dijadikan rujukan dan pedoman bagi umat muslim dalam hal pembelajaran,
pembinaan serta pembentukan semangat dalam menyampaikan agama Islam.
2.
Rumusan
Masalah
a. Siapa Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki ?
b. Bagaimanakah
Kajian Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki ?
3.
Tujuan
Penulisan
a.
Untuk memenuhi
tugas mata kuliah Ilmu Kalam
b.
Untuk mengetahui Kajian Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki
As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki adalah salah seorang ulama Islam dari Arab Saudi. Dilahirkan pada tahun 1365H atau 1946M di kota
Mekkah. Ia berasal dari
keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal. Ayahnya adalah As-Sayyid Alawi, seorang ulama terkemuka di
Mekkah dan merupakan salah satu penasihat Raja Faisal, raja Arab Saudi. Di
bawah bimbingan ayahnya, sejak kecil ia sudah belajar Al-Quran. Ayahnya wafat
pada tahun 1971. Sayyid Muhammad wafat pada hari Jumat, 15 Ramadhan di Mekkah.
Ia dimakamkan di sebelah makam ayahnya dan Sayyidah Khadijah. Dia telah meninggalkan
kita pada hari Jumaat, 15 Ramadhan (bersesuaian dengan doanya untuk meninggal
dunia pada bulan Ramadhan), dalam keadaan berpuasa di rumahnya di Makkah.
Kematiannya amat mengejutkan. Ucapan takziah diucapkan dari seluruh dunia
Islam. Salat jenazah dia dilakukan di seluruh pelusuk dunia. Dia telah pergi
pada bulan Ramadhan dan pada hari Jumat.
Sholat jenazah
pertama di rumah dia diimamkan oleh adiknya As-Sayyid Abbas, dan seterusnya di
Masjidil Haram dengan Imam Subayl, ratusan ribu manusia membanjiri upacara
pengebumiannya. Dia dimakamkan di sebelah bapaknya, berhampiran maqam dengan Sayyidah
Khadijah. Sebelum dia meninggal dunia, dia ada menghubungi seorang
pelajar lamanya di Indonesia melalui telepon dan bertanyanya adakah dia akan
datang ke Mekkah pada bulan Ramadhan. Apabila dia menjawab tidak, Sayyid
Muhammad bertanya pula, “tidakkah engkau akan menghadiri penegebumianku?”
Adapun pelajaran yang di berikan baik di
masjid haram atau di rumah dia tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di
Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua
masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua
bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu dia selalu
menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih
dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya
di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya
dia selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih
golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua
mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.
Dari rumah dia telah
keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan
bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid dia, di India, Pakistan, Afrika,
Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid
Muhammad Almaliki, ribuan murid murid dia yang bukan hanya menjadi kyai dan
ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 dia yang masuk ke dalam
pemerintahan.
Di samping pengajian
dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula dia telah berusaha mendirikan
pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh
penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun
bahkan dia memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah
beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk
menyiarkan agama.
Sayid Muhammad
Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran
keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah.thariqahnya.
Dalam kehidupannya dia selalu bersabar dengan
orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan
alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan
hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang
jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Dia
tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan
ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai dia menerima dengan rela
digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta'lim dia di masjidil Haram.
Semua ini dia terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan dia selalu
menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya,
semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan
Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin
Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa
Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja' dan
reference di negara-negara mereka. Dia ingin mengangkat derajat dan martabat
Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah
dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan
perasaannya. Dia adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta
adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin
Alwi Almaliki. Dia selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan
menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya.
Di samping tugas dia sebagai da'i, pengajar,
pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi
agama, dia pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari
100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak
sedikit dari kitab2 dia yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa
Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.
Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan
telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Dia telah menulis dalam pelbagai
topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya
dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan
dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia.
Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam berbagai bidang:
Aqidah:
1. Mafahim Yajib an
Tusahhah
2. Manhaj As-salaf fi
Fahm An-Nusus
3. At-Tahzir min
at-Takfir
4. Huwa Allah
5. Qul Hazihi Sabeeli
6. Sharh 'Aqidat
al-'Awam
Tafsir:
1. Zubdat al-Itqan fi
'Ulum al-Qur'an
2. Wa Huwa bi al-Ufuq
al-'A'la
3. Al-Qawa'id
al-Asasiyyah fi 'Ulum al-Quran
4. Hawl Khasa'is
al-Quran
Hadith:
1. Al-Manhal al-Latif fi
Usul al-Hadith al-Sharif
2. Al-Qawa'id
al-Asasiyyah fi 'Ilm Mustalah al-Hadith
3. Fadl al-Muwatta wa
Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
4. Anwar al-Masalik fi
al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik
Sirah:
1. Muhammad (Sallallahu
Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
2. Tarikh al-Hawadith wa
al-Ahwal al-Nabawiyyah
3. 'Urf al-Ta'rif bi
al-Mawlid al-Sharif
4. Al-Anwar al-Bahiyyah
fi Isra wa M'iraj Khayr al-Bariyyah
5. Al-Zakha'ir
al-Muhammadiyyah
6. Zikriyat wa Munasabat
7. Al-Bushra fi Manaqib
al-Sayyidah Khadijah al-Kubra
Usul:
1. Al-Qawa'id
al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
2. Sharh Manzumat al-Waraqat
fi Usul al-Fiqh
3. Mafhum al-Tatawwur wa
al-Tajdid fi al-Shari'ah al-Islamiyyah
Fiqh:
1. Al-Risalah
al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa 'Alamiyyatuha 2. Shawariq al-Anwar min
Ad'iyat al-Sadah al-Akhyar 3. Abwab al-Faraj 4. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar
5. Al-Husun al-Mani'ah 6. Mukhtasar Shawariq al-Anwar
Lain-lain:
1. Fi Rihab al-Bayt
al-Haram (Sejarah Makkah) 2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-'Asabiyyah
(Kajian Berkaitan Orientalis) 3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam
Islam) 4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da'wah ila Allah (Teknik Dawah) 5.
Ma La 'Aynun Ra'at (Butiran Syurga) 6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan
Keluarga Islam) 7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi' wa al-Tajribah (Muslimun, Antara
Realiti dan Pengalaman) 8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin) 9.
Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan) 10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad
(Koleksi Ucapan) 11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)
12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi) 13. Nur
al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk dia,
As-Sayyid Abbas) 14. Al-'Uqud al-Lu'luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan
Ijazah Bapa dia, As-Sayyid Alawi) 15. Al-Tali' al-Sa'id al-Muntakhab min
al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah) 16. Al-'Iqd al-Farid al-Mukhtasar
min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah).
Catatan diatas adalah
kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak
lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak
menyebutkan berapa banyak karya tulis yang telah dikaji, dan diterbitkan untuk
pertama kali, dengan ta'liq (catatan kaki) dan komentar dari As-Sayyid
Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak
hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
B. Kajian
Assayyid Muhammad bin alawi in abbas al maliki
Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki merupakan seorang ulama Makkah
yang berkhidmat untuk ilmu dan hadith Nabi antara kurun ke-14 dan 15
hijrah. Beliau banyak menulis kitab dan antara kitab beliau yang terkenal
adalah Mafahim Yajib an Tusohhah. Seramai 40 orang ulama yang telah mengi'tiraf
dan menulis kata-kata pujian terhadap kitab beliau ini dan bab ziarah adalah
merupakan salah satu bab dalam kitab beliau yang agung ini.
Sebenarnya kitab al-Ziarah adalah merupakan sebuah kitab perbahasan
fiqih yang mana sarat dengan dalil-dalil daripada Al quran, hadith Nabi SAW
ijma, Qiyas dan lain-lain. Sayyid Muhammad juga telah menulis dengan panjang
lebar mengenai perbincangan para ulama dalam perkara ini. Tetapi kitab ini
bukan hanya sekadar membahaskan mengenai khilaf yang berlaku bahkan ianya
mempunyai keistimewaan yang tersendiri yang membedakannya daripada
penulisan-penulisan yang lain.
Memang benar Sayyid Muhammad Alawi telah mengetengahkan
perbahasan- perbahasan yang berkaitan dengan usul fiqih, perbahasan yang
panjang mengenai beberapa buah hadith Nabi yang tertentu, begitu juga
mengenai ilmu rijal hadith dan sebagainya Tetapi penulis merasakan bahawa kitab
ini mempunyai manhaj dakwahnya yang tersendiri untuk mendekatkan antara pihak
yang menyokong dan tidak menyokong masalah ziarah ini lebih-lebih lagi dalam
meninggikan kedudukan Nabi SAW dan Maqam baginda SAW Kitab ini bukan sahaja
mengetengahkan dalil-dalil pendapat beliau sahaja bahkan untuk
membetulkan pemahaman umat .slam bukan untuk menunjuk-nunjuk dan hasad dengki
kepada pendapat yang tidak bersetuju dalam masalah ini dan beliau begitu ikhlas
menulisnya kerana mengharapkan keredhaan Allah dan juga Nabi-Nya.
Sebenarnya telah banyak kajian mengenai Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.
Ada sebahagiannya mengkaji tentang biografi beliau secara umum, ada pula yang
mengkaji tentang manhaj akidah beliau dan sebagainya. Ada juga kajian tentang
manhaj dakwah beliau tetapi hanyalah secara ringkas dan bukan tertumpu
kepada bidang penulisan beliau sedangkan kajian tentang manhaj dakwah
dalam penulisan beliau ini amatlah diperlukan.
penulis juga berpendapat
masyarakat perlu mengenali Sayyid Muhammad al-Maliki dan mempertahankan maqam
baginda Nabi SAW. Tetapi persoalan timbul apakah manhaj dakwah Sayyid Muhammad
Alawi al-Maliki dalam bidang penulisan? SemogaAllah menjadikan usaha ini ikhlas
kerana-Nya dan juga kerana Nabi Muhammad danmenjadikannya sebagai pembuka
kajian-kajian yang seterusnya tentang Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki.
Karya beliau yang berjudul al- Qudwah al-Hasanah mengandung pendidikan
nilai karakter islami yang mendasar dan sangat penting untuk diketahui, yakni
yang berisi tentang teladan terbaik dalam berdakwah. Sirah nabawiyyah dan
sejarah kehidupan para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim adalah teladan terbaik
dalam berbagai metode para da’I dalam berdakwah, serta sumber terbesar bagi
kekuatan iman dan kepekaan rasa keagamaan mereka. Salah satu diantaranya
pentingnya dalam mengkaji karya kitab beliau ini adalah perlu diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari dan motifasi dalam menyampaikan agama Islam. Dengan
harapan nantinya akan menciptakan manusia atau generasi yang berakhlak mulia.
Oleh karena itu kitab al-Qudwah al-Hasanah yang ditulis oleh Abuya Sayyid
Muhammad bin Alawi al Maliki ini sangat penting dan perlu digali lebih mendalam
untuk dijadikan rujukan dan pedoman bagi umat muslim dalam hal pembelajaran,
pembinaan serta pembentukan semangat dalam menyampaikan agama Islam.
Salah satu karya monumental Sayyid Muhammad Al-Maliki yang berbicara
tentang akhlak adalah kitab At Tahliyah Wat Targhib Fi Al Tarbiyah Wa Al
Tahdzib kitab ini menerangkan tentang tingkatan konsep pergaulan atau bagaimana
seharusnya berperilaku atau beretika terhadap manusia. Adapun uraiannya adalah
sebagai berikut:
1.
Akhlak Terhadap Individu
Manusia adalah mahluk sosial yang perlu berinteraksi terhadap orang lain
dan membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti
yang telah terkutib dalam kitab At Tahliyah Wat Targhib Fi Al Tarbiyah Wa Al
Tahdzib
“Hendaklah diketahui, bahwa manusia adalah makhluk yang memerlukan hidup
bermasyarakat dengan sesamanya. Karena, seseorang itu tidak mungkin dengan
sendirinya, tanpa bantuan orang lain dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan
hal-hal yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya, kesenangan-kesenangannya
dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh mentalnya (An-Nadwi, 1999:11)”
Penggalan baris bait diatas menunjukkan akan konsep manusia sebagai
mahluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain maka ia harus bergaul dan bermasyarakat
dengan sesama umat manusia meskipun orang tersebut berbeda dalam adat,
kebiasaan, kesopanan, dan pangkatnya.Berikut individu-individu yang ditemui
dalam pergaulan lingkup masyarakat, yang mana dalam pergaulan tersebut
seseorang harus menerapkan akhlak yang baik dalam pergaulanya.
a.
Akhlak terhadap Ibu
b.
Akhlak terhadap Ayah
c.
Akhlak terhadap Guru
d.
Akhlak terhadap Pemimpin
e.
Akhlak terhadap saudara dan teman
f.
Akhlak terhadap
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan makalah diatas,
dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
As-Sayyid Muhammad bin Alawi
Al-Maliki adalah salah seorang ulama Islam dari Arab Saudi. Dilahirkan pada tahun 1365H atau 1946M di kota
Mekkah. Ia berasal dari
keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal.
2.
As-Sayyid Muhammad bin Alawi
Al-Maliki mengajar semua pelajaran dan yang diberikannya bisa di terima semua
masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua
bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar